Ibu satu-satunya keluarga inti yang masih hidup. Aku tidak mau kehilangan dia. Sepertinya Ibu benar-benar kesakitan. Mulutnya merintih menahan sakit sembari terus meremas kepalanya. “Aku panggilkan Tante Mirna,” ujar Kak Sabiru cepat. Pria itu lekas meraih ponsel dalam kantung celana bahannya. Mengusap layarnya dengan cepat. Wajah Kak Sabiru semakin terlihat cemas saat melihat kondisi Ibu yang kian memucat. Apalagi sepertinya sambungan teleponnya tidak langsung diangkat. Terdengar dia berdecak kesal. Selama tinggal di sini, setahuku memang Tante Mirna yang senantiasa menangani Ibu. Jika wanita itu mengeluh sakit. Dan baru detik ini aku melihat Ibu sebegitu sakitnya. Entah mengapa hatiku begitu was-was seperti saat mendapati Kamila terjatuh dari tangga dulu. “Bu ....” Aku menjerit t

