Kak Sabiru benar-benar memenuhi ucapannya. Perhatian lembut yang biasa aku rasakan setiap hari, kini telah berganti dengan perangai yang dingin. Sama sekali tidak ada sapa dari pria itu. Kembali jarak di antara kami tercipta. Dan sepertinya kali ini tidak hanya jauh, tapi ada jurang di tengahnya. Sepertinya Kak Sabiru sungguh-sungguh tersinggung dengan ucapan aku tempo hari. Tapi biar saja! Aku tidak peduli. Semakin dia merasa muak denganku, justru itu akan semakin mempercepat perpisahan di antara kami kelak. Walau demikian, Kak Sabiru itu pintar sekali berdrama. Di depan Ibu dan Paman, laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan perangai dinginnya. Seperti tidak ada masalah di antara kami. Aku sendiri juga melakukan hal yang sama. Seperti biasa aku tetap mengantar Kak Sabiru sampai

