Sarah tiba di kediamannya dengan langkah dan emosi yang masih tertahan. Ia membuka pintu rumahnya kasar, Wina yang masih duduk di ruang tengah langsung meletakkan majalahnya di atas meja. Ia melihat apa yang terjadi, Sarah berjalan kearah Wina dengan tatapan marah. "Sarah, ada apa?" Wina menatap putri sambungnya dengan wajah penuh tanya. Sarah hanya menatap Wina dengan tatapan tajam. "Kenapa Mama belum lakukan itu, aku bilang, cepat temui orang tua Satya Ma, aku mau secepatnya tentuin pertunangan aku dengan Satya!" Sarah berubah menangis. Matanya berkaca kaca bercampur marah. Ia berjalan kearah sofa lalu duduk di sana memegang kepalanya lalu mengusap rambutnya kebelakang. Wina mengikuti putrinya yang terlihat sedang dalam emosi. "Ada apa Sarah? Katakan pada Mama, agar Mama tahu!" tanya

