Aku duduk termenung di hadapan Satrio. Meskipun bakso ini kelihatannya enak, tapi entah kenapa napsu makanku hilang begitu saja.
"Dimakan, Dwika."
Aku menatap Satrio, lalu mengamati ruangan yang mungkin ukurannya tiga kali empat meter. Ada kasur ukuran queen, ada dispenser, ada rak berisi buku-buku dan DVD, ada TV LED tertempel di dinding, lemari pakaian dan meja belajar. Tak lupa, ruangan ini juga dilengkapi AC.
"Kenapa saya di sini?" Tanyaku.
"Saya ingin makan siang bersama Anda."
"Kenapa?"
"Anda enak diajak bicara."
"Tapi kita jarang ngobrol."
Kulihat Satrio tersenyum, ia tak menyahutiku, ia malah mulai makan.
"Dimakan, mumpung masih hangat."
Well, yaudah lah ya? Makan aja. Penasarannya nanti dulu aja.
Mulai makan, asli sih, baksonya enak banget, pengin deh nanya dia beli di mana, biar bisa order sendiri, huhuhu.
"Butuh informasi apa Anda dari saya agar beritanya selesai?" Tanyanya di sela-sela makan.
"Gak tahu, saya jadi gak tertarik lagi nulis tentang Bang Satrio. Pusing." Jawabku bohong.
"Kenapa?"
"Ya media sepertinya sudah bungkam mengenai kasus Anda, Bang. Dan rakyat juga seolah sudah tidak peduli. Kalau saya tulis tapi gak ada yang baca, ya rugi waktu dan tenaga." Aku beralasan, membuat Satrio tersenyum.
"Lagian, foto saya di sosial medianya Bang Satrio aja gak dapet respon kan? Salah kayanya saya datang ke sini beberapa hari yang lalu."
Senyum Satrio makin lebar, ia bahkan nyengir.
"Anda mau kerja bersama saya?" Tanyanya tiba-tiba.
"Kerja apa? Bang Satrio aja di penjara," Aku melihat sekeliling, "Well, enak sih sel tahanannya, gak kaya di sinetron."
Satrio Pamungkas tertawa. Ia menghentikan makannya untuk tertawa sejenak lalu menyesap air putih banyak-banyak.
"Anda pasti sudah mencari background saya, tahu apa saja bisnis saya di luar sana."
Aku mengangguk.
Pertambangan minyak, emas dan lahan sawit. Juga sebuah perusahaan yang dirahasiakan. Semuanya bisnis yang mengeksploitasi alam.
"Jadi? Anda mau bergabung di bisnis yang mana?"
"Perusahaan yang dirahasiakan itu, itu bergerak di bidang apa Bang?" Tanyaku, tanpa menjawab pertanyaannya.
"Bidang yang sesuai dengan passion saya."
"Apa? Bunuh orang? Perusahaan apa? Rumah duka pemandian mayat? Atau apa?" Hilang sudah respek-ku padanya.
Bukannya tersinggung, Satrio malah tersenyum.
"Habiskan makannya, setelah itu Anda bisa kembali bekerja. Telefon saya kalau Anda butuh sesuatu." Katanya, membuat aku teringat amplop berisi uang yang kutemukan di ranselku.
"Bang Satrio yang simpen uang di ransel saya?" Tanyaku. Ia mengangguk.
"Semoga uangnya kamu gunakan untuk hal baik."
"Saya serahkan ke adik saya, buat dia dan Ayah." Kataku, ia mengangguk lagi.
"Untuk apa uang itu?"
"Biaya ganti transportasi Anda." Jawabnya singkat.
Ohh pantes aku sekarang dijemput, gak mau tekor lagi kali ya dia? Hahaha.
Ia menatapku tajam, lalu seperti terfokus pada sesuatu, namun bukan mataku. Membuatku risih.
Mengalihkan perhatian, aku meneruskan memakan bakso yang sudah mulai dingin ini, sementara Satrio masih diam.
"Kenapa tubuh Anda bisa biru-biru?" Tanyanya membuatku kaget.
Aku menatapnya, dan ia terlihat marah. Refleks, aku menarik ujung lengan baju, menutupi bekas biru yang baru saja diberikan Pram subuh tadi.
"Siapa?"
"Bukan urusan Anda." Jawabku kalem.
"Pacar? Orangtua?!" Tebaknya, namun ada ancaman dalam suaranya.
"Orang tua saya gak ada hubungannya!" Seruku, takut kalau Ayah menjadi incarannya, atau Trinity terseret-seret.
"Pacar berarti?"
"Bukan urusan Anda." Ulangku.
Satrio diam, aku juga diam, sudah tidak meneruskan makan. Menyesap air yang tersedia, aku langsung pamit padanya.
Di luar kamar, aku ditunggu oleh pria tadi, ia langsung mengarahkan aku menuju jalan keluar, dan mengantarku kembali ke kantor.
Di kantor, aku langsung menghubungi Tri, sengaja baru sekarang agar obrolanku tidak didengar oleh ajudannya Satrio.
"Kenapa Mbak?"
"Kamu di mana?"
"Mau jalan balik, kenapa?"
"Gak apa-apa, hati-hati yaa, jagain Ayah."
"Iya Mbak, kamu baik-baik aja kan?"
"Baik kok Tri, jangan lupa beli makan buat Ayah sama Tante Qori."
"Iya Mbak."
"Yaudah nanti aku telefon lagi."
"Siap!!"
Membuka laptop yang dalam mode tidur, aku mencari lebih banyak tentang Satrio, apa yang katanya passion-nya itu. Perusahaan apa yang ia sembunyikan??
"Masih di kantor aja lo?" Krisna tiba-tiba muncul, mengagetkanku.
"Dari mana lo?"
"Lagi males ngantor, jadi nulis dari Cafe. Sesekali gitu lah Ka, biar gak bosen."
Aku mengangguk.
"Nulis apa lu?" Tanyanya.
"Gak nulisss. Lagi nyari tau soal Satrio Pamungkas."
"Wah? Mafia yang merangkap pembunuh itu? Hati-hati lu ah!"
"Eh? Emang kenapa?"
"Ya ngeri aja, kata bokap gue yang kita tahu di media tuh gak bener, pokoknya banyak yang ditutup-tutupin deh soal kasus dia." Jelasnya. Setahuku, Ayahnya Krisna itu salah satu wartawan senior, jaringannya luas dan memiliki kenalan petinggi-petinggi negeri ini.
"Terus apa lagi?" Tanyaku.
"Ya gitu lah, banyak yang bilang dia ngeracun 5 orang itu pake sianida, tapi kata bokap gue, orang yang autopsi gak nemuin sianida di jasad korban."
Aku mengangguk.
"Balik yuk?"
"Yeah gue juga mau balik nih." Kataku sambil mematikan laptop.
"Bareng gak? Gue anterin."
"Boleeeh!!"
**
Sampai di tempat Pram, aku langsung memasak. Sambil menunggu sayur matang, aku membuka hasil autopsi yang diserahkan Pak Nugra. Membacanya, aku melihat kalau di sini tertulis ada sianida di tubuh korban.
Lha? Kok gak nyambung ya??
Memeriksa sayur, aku mematikan kompor. Tinggal goreng ikan kalau Pram nanti pulang.
Tak berapa lama, Pram pulang dan wajahnya tidak terlihat ramah.
Gosh! Ada apalagi ini?
"Hey sayang, welcome home!" Aku menyambutnya dan ia malah mendorongku.
"Dianter pulang sama siapa lo?!" Ia langsung menamparku.
"Pram? Kamu bisa ngomong baik-baik?" Tanyaku sambil mengusap pipi.
"Baik-baik gimana? Lo aja selingkuh!" Ia menamparku lagi.
"Aku dianter Krisna, aku gak selingkuh."
"Gila ya lo?! Jadi juga lo selingkuh sama dia?!" Aku menghindar ketika Pram ingin menamparku lagi, tapi ia malah mencengkram lenganku kuat-kuat, sedikit memutarnya membuatku sakit.
"Aku gak selingkuh!"
Ketika ia akan membuka mulut, terdengar ponselnya berdering. Cengkraman tangannya lepas, dengan kesal ia mengangkat panggilan tersebut.
Aku sendiri lari ke kamar mandi, menangis di sana.
Dari sini kudengar Pram memaki-maki, entah siapa yang menelefonnya dan apa yang dipermasalahkan.
Ketika suara makian itu hilang, aku nyaris jantungan saat pintu kamar mandi yang dibanting tiba-tiba.
"Pergi lo dari sini! Kita putus!"
Aku syok. Demi apapun, 3 tahun berpacaran dengan Pram, sesadis apapun ia padaku, ia tak pernah bilang putus. Kalau aku sering, namun tak pernah ia setujui. Dan ini?
"Pergi lo!" Pram menarikku keluar, membuatku sampai terjatuh di lantai depan kamar mandi.
Ia mengambil tasku, memasukkan laptop dan barang-barangku secara asal. Pram benar-benar mengusirku.
"Pergi lo! Gak mau gue kena masalah gara-gara lo!" Serunya sambil melemparkan tas kepadaku, menarik tanganku dan membawaku ke luar tempat ini.
Aku menarik nafas, mengusap air mata dan mencoba tegar.
Jujur, sekasar apapun Pram, aku sangat menyayanginya. Dan aku tahu, ia pun sayang padaku.
Berjalan keluar, aku melihat Bapak penjaga, pasti dia yang udah laporin aku dianter Krisna sama Pram. Mereka memang berteman baik. Tidak menyapanya, aku langsung berjalan cepat meninggalkan tempat ini.
Ketika sedang menunggu angkutan umum, untuk kesekian kalinya aku kaget karena melihat Pria suruhan Satrio yang tadi siang ada di dekatku, dan ia berjalan menuju sisiku.
"Mbak Dwika?!"
"Apaa??!!" Bentakku, membuat ia mundur satu langkah.
"Jangan marah, Mbak. Ikut saya yuk? Bang Satrio sudah menyiapkan tempat untuk Mbak Dwika!"
"Ohh? Jadi si Satrio b*****t itu yang bikin Pram ngusir gue? Sinting!!" Makiku.
"Bang Satrio, baik, Mbak. Ayo ikut saya, sudah ada tempat aman untuk mbak Dwika."
"Gak?! Pergi sana!!" Aku mendorongnya.
Tepat ketika itu miniarta yang kutunggu datang, aku langsung naik dan meminta kernet-nya untuk segera jalan.
Duduk di bangku yang kosong, aku memeluk ranselku. Masih tak percaya kalau hubunganku dengan Pram berakhir.
Aku memang sering bilang putus. Tapi itu hanya ancaman agar ia berubah. Tak kusangka kalau akhirnya kami pisah betulan.
"Kiri Pak!" Seruku ketika hampir sampai gang menuju rumah.
Membayar pada kernet, aku langsung turun, karena gangnya kelewatan aku jadi harus jalan sedikit.
Ketika aku akan masuk gang, ada sebuah mobil berhenti di depanku, hampir menabrakku malah. Lalu seorang wanita anggun keluar dari mobil itu.
"Anda Saudari Dwika?" Ucapnya lembut. Aku diam, tak sanggup menjawab walaupun hanya dengan anggukan.
"Saya Regina, suruhan dari Bapak Iskandar Fatroni. Mbak Dwika bisa ikut saya kalau Mbak tidak ingin dicelakai Satrio Pamungkas."
Aku mencerna kalimat tersebut, masih diam bahkan saat wanita bernama Regina ini mendekat.
Ia mengulurkan tangan, tersenyum lembut.
Aku melirik ke dalam gang, jarak seratus meter dari sini adalah rumah tante Qori, tempat di mana Ayah dan Adikku sedang mengungsi.
"Keluarga Anda aman, percaya lah." Katanya tegas. Menarik napas, aku menerima uluran tangan wanita ini, lalu ia menuntunku untuk masuk ke mobil.
Gosh! Semoga aku dan keluargaku baik-baik saja. Semoga.
******
TBC