Aku tiba di sebuah Villa putih yang besar. Diarahkan oleh Mbak Regina, aku mengikutinya masuk ke bagian dalam.
"Silahkan duduk, Mbak Dwika, ini teh hangat untuk menenangkan Mbak." Katanya mengulurkan gelas putih yang diberikan seorang pelayan yang baru datang dari bagian dalam rumah.
"Saya di mana?" Tanyaku.
"Mbak di Villa milik Pak Iskandar, untuk malam ini Mbak bisa tidur di sini, besok pagi Pak Iskandar akan datang dan menemui Mbak Dwika."
"Ke-keluarga saya?"
"Pak Zukfikar sakit, sedang di rawat oleh dokter spesialis paru, sedangkan Trinity, ia sedang menemani ayah Anda."
"Ayah saya kenapa??" Tanyaku. Kenapa Trinity tidak menghubungiku?
"Sesak nafasnya kumat, hanya itu, Anda tidak perlu khawatir." Mbak Regina berusaha menenangkanku, ia bahkan duduk di sampingku dan mengelus bahuku.
Aku mencerna semuanya, tak menyangka banyak hal yang mesti dipikirkan dalam waktu singkat.
"Kenapa saya diincar Satrio?" Tanyaku.
"Itu yang sedang kami selidiki, Pak Iskandar sudah kehilangan 5 temannya, ia tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban dari Satrio. Maka saat Satrio mem-post foto Anda, ia langsung menyuruh kami semua mencari Anda, karena beliau takut Anda akan menjadi sasaran selanjutnya."
Gosh! Kenapa tugas dari Pak Nugra berat sekali?
"Kenapa Pak Iskandar menyimpulkam seperti itu?"
"Anda tidak memperhatikan? Lima orang yang ia bunuh itu minggu sebelumnya makan malam bersama dengannya, dan ia mengunggah foto juga di sosial medianya. Pak Iskandar ingin mencegah."
Aku mengangguk mengerti.
"Mbak Dwika istirahat saja dulu, ini sudah terlalu malam, mari saya antar ke kamar." Ajak Regina.
******
Pagi harinya, Pak Iskandar Fatroni yang kuketahui sebagai staf dari sekretariat kepresidenan benar-benar datang, kami bahkan sarapan bersama.
"Saya penasaran, masalah tentang Satrio sudah reda, kenapa kamu malah mengejarnya dan datang kepadanya?" Tanya Pak Iskandar.
"Emm, ini Pak, atasan saya, meminta saya menulis tentang Satrio, beliau bahkan memberi saya beberapa dokumen."
"Boleh saya lihat?"
"Iya, ada di tas saya." Kataku sambil memgangguk.
Pak Iskandar mengisyaratkan salah satu ajudannya untuk mengambil tasku. Dan tak butuh waktu lama, aku sendiri yang mengeluarkan bukti-bukti yang diberikan Pak Nugra.
"Ini Pak."
Pak Iskandar menerima semua dokumen tersebut, memeriksanya dengan teliti sampai ia menghentikan makannya, membuatku terdiam juga memerhatikannya.
Sekian menit, Pak Iskandar tersenyum kepadaku, mengembalikan semua berkas.
"Data yang kamu punya sudah benar, kenapa tidak langsung mempublish-nya? Itu akan menunjukan sejahat apa Satrio."
"Yeah, tapi saya ingin lebih, saya ingin mewawancarai keluarga korban dan pelaku, untuk mengembangkan semuanya." Jelasku.
"Yeah itu memang bagus, tapi itu mengancam keselamatanmu."
Aku mengangguk, mengerti. Sadar kalau dari awal aku tak menyadari betapa bahayanya Satrio Pamungkas.
"Saya tahu saya salah langkah, pak Iskandar. Terima kasih sebelumnya karena telah membawa saya ke sini, melindungi saya."
"Tidak apa, saya hanya merasa perlu melindungi, karena saya tidak sempat melindungi teman-teman saya."
Aku mengangguk lagi, memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk disampaikan agar aku bisa keluar dari tempat ini.
"Baik Pak, setelah ini saya akan berhati-hati, saya ingin mengunjungi keluarga saya dulu."
"Iya, silahkan. Tapi sebelum kamu pergi, saya ingin menawarkan sesuatu."
"Apa Pak?"
"Kamu mau bekerja dengan saya? Saya sudah baca beberapa tulisan kamu dan saya suka. Saya ingin kamu menulis untuk saya, menulis pidato."
"Pidato?"
"Yeah, press realeae di Istana, dan pidato di acara-acara lain." Tentu saja aku terkejut dengan tawaran itu, namun tetap, aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa bertanya pada Ayah dan Trinity.
"Saya pikirkan ya Pak. Itu tawaran emas untuk saya, tapi sayang ingin bertaya lebih dulu pada keluarga."
"Yeah itu bagus, Regina akan mengantar kamu ke tempat Ayah kamu. Kalau kamu setuju, kamu sebut saja berapa gaji yang kamu mau."
Aku mengangguk dan untuk ke sekian kalinya mengucapkan terima kasih.
*****
Ayah sudah membaik ketika aku menjenguknya, dan orang-orang dari Pak Iskandar membantu kami pulang.
"Kenapa Mbak bisa berurusan sama orang-orang begitu?" Tanya Trinity saat kami di rumah. Ayah tidur dan ajudan Pak Iskandar sudah pulang.
"Aku juga gak ngerti, Tri. Mauku ya biasa-biasa aja."
"Mbak jangan macem-macem yaa, jangan sampai Mbak terlibat masalah, apalagi sampe bawa aku dan Ayah."
"Gak bakal."
"Mas Pram kemarin telefon aku nanya kamu, Mbak. Aku gak tau, setahuku kan Mbak sama dia, lha dia malah bingung." Ujar Tri tiba-tiba.
Ah yaa, Pram. Mendengar namanya aku jadi merindukannya.
"Dia nanya itu aja?"
"Iya, Mas Pram kaya yang khawatir, katanya HP kamu gak aktif Mbak, ya bener, pas aku telefon juga gak aktif. Eh pas tutup telfon ada orang ke sini, pas juga Ayah sesek nafas, mereka langsung bantuin aku." Jelas Trinity.
"Yaudah nantu aku hubungin Pram aja, kamu tidur gih. Masalah orang-orang itu, kamu gak usah khawatir, mereka baik-baik semua kok, buktinya mereka bantu kita."
"Tampangnya kaya gak baik, Mbak."
"Ya buat jadi pengawal kan pasti dipilih yang gitu-gitu, intinya bos mereka baik."
"Yaudah Mbak, pokoknya kamu hati-hati ahhh. Setiap orang punya dua sisi, jahat sama baik, tapi tergantung mereka mau liatin kita sisi yang mana, kitanya ya harus tetep waspada."
"Iya, Trinity."
"Oke, aku tidur, Mbak."
Membiarkan Tri istirahat, aku kembali bekerja di meja makan, membuka laptopku karena hampir seharian ini aku tidak menulis.
Setelah mempublish satu artikel, aku memutuskan mencari tahu tentang Iskandar Fatroni, sayangnya jarang ada yang menulis soalnya, ia tidak terlalu terkenal untuk orang awam, dan berita mengenainya pun pasti perihal jabatannya yang sudah selama 20 tahun ini ada di lingkungan kesekretariatan presiden.
Aku mengamati layar ponselku, tidak ada riwayat panggilan dari Pram, yang ada hanya nomor Satrio yang mengubungi beberapa kali. Lalu, pesan dari Mbak Regina yang menanyakan kesediaanku menjadi penulis pidato untuk Pak Iskandar.
Jujur. Aku bingung.
Aku masih ingin mengulik informasi lebih dari Satrio walaupun aku tahu keselamatanku bisa terancam.
Aku juga ingin bekerja untuk Pak Iskandar. Siapa yang tak ingin menjadi bagian dari pidato-pidato hebat di mimbar istana kepresidenan?
Tuhan, tolong bantu aku memilih.
********
TBC