9. Penulis

901 Kata
Baru saja aku selesai menandatangai surat perjanjian kerja dengan staf dari Pak Iskandar. Ya, aku menerima tawarannya. Selain itu, aku juga sudah berhenti dari Veritas yang artinya aku tidak lagi dituntut untuk menulis berita tentang Satrio Pamungkas. Aku ingin hidup normal, terbebas dari bayang-bayang orang jahat. Dan, tentu saja, selepas putus dari Pram, aku harus mulai menata ulang hidupku. "Nahh Dwika, ini ruang kerjanya, ada Maria dan Arman. Mereka juga menulis untuk Bapak. Jadi kalian bertiga yang menulis, nanti ada Bu Sukma yang menilai. Kalau bu Sukma oke, langsung proses, tapi kalau revisi ya kalian godog lagi. Oke?" Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan Mbak Regina tadi, lalu berkenalan dengan Maria dan Mas Arman. Sepeninggal Mbak Regina. Aku, Maria dan Mas Arman langsung mengobrol, melihat schedule Pak Iskandar dan pada acara apa saja Beliau harus berbicara secara resmi. Selain menulis pidato, ternyata kami juga harus menyiapkan bahan jika Pak Iskandar menghadiri rapat-rapat, apa saja yang boleh beliau ucapkan, update berita terbaru dari presiden dan lain sebagainya. Baru hari pertama, aku sudah merasa betah dan senang bekerja di sini. Ilmuku dipaksa berkembang karena selalu diperbarui. *** Tak hanya bekerja di ruangan, semua staf yang bekerja dengan Pak Iskandar harus juga ikut saat beliau memiliki kegiatan kenegaraan di luar negeri. Senang? Tentu saja. Aku jadi tau rasanya naik pesawat pribadi milik negara seperti apa. Sungguh, aku bersyukur memilih kerja bersama Pak Iskandar. Pengalamanku jadi tamba banyak. "Kik, kalau kamu punya ide buat nulis satu pidato full sendiri, bikin aja ya? Kasih ke saya. Kemarin Pak Iskandar bilang kalau dia senang dengan beberapa bagian dalam pidatonya, pas saya cek, ternyata itu part yang kamu buat." Ucap Bu Sukma yang duduk di sampingku. "Baik Bu, nanti saya coba nulis full yaa." "Sip, semangat yaa! Betah kerja di sini?" Tanyanya. "Banget Bu, seneng saya." Bu Sukma hanya tersenyum. Jadi aku lanjut membaca. Tak lama setelahnya pilot mengabarkan kalau kami akan segera mendarat. Acara kali ini bersama Perdana Menteri Inggris, yang ternyata masih sangat muda, ia baru saja dilantik menggantikan yang sebelumnya. "Hari ini Bapak gak jadi kasih speech, kalian ikut aja ke dinner-nya ya?" Ucap Bu Sukma ketika aku, Maria dan Mas Arman sedang menulis. "Waah bener bu??" Maria terdengar antusias. "Iya, kalian siap-siap, pakai baju yang rapi." Tentu saja kami semua tidak melewatkan kesempatan ini. Aku dan Maria langsung masuk ke kamar kami, membersihkan diri dan dandan yang cantik. "Bagus bajunya, Ia." Kataku pada Maria. Ia memakai gaun berwarna lavender, fit di badannya. "Gak terlalu ketat kan Kik?" "Engga, pas banget di kamu." Aku sendiri mengenakan gaun malam berwarna hitam, fit di badan juga. Namun gaunku lengan panjang, menutup beberapa bekas luka yang pernah diberikan Pram padaku. Pintu kamar kami diketuk, ternyata oleh salah satu ajudan yang mengatakan kalau kami harus berangkat sekarang. Tanpa menunggu waktu lama, aku dan Maria langsung keluar mengikutinya. Acara malam ini sangat ramai tentu saja, beberapa pejabat penting negara-negara lain berkumpul di sini. Dan untukku yang gak penting-penting banget, ini menjadi ajang cicip makanan. Maria tadinya ikut bersamaku mencicip makanan, namun ia pamit ke toilet karena sakit perut, jadilah aku melanjutkan petualangan makanku sendirian. Saat sedang asik menyicipi aneka macam teh, seseorang senyum padaku, aku bingung dia siapa, tapi wajahnya sih familiar. Dan, ia memakai bross sepertiku, yang artinya ia dari Indonesia juga, staf-nya Pak Iskandar juga. "Hallo!" Sapaku pada wanita ini ketika ia mendekat. "Lupa sama gue, Ka?" Ucapnya tanpa basa-basi. Aku bingung, kuperhatikan lagi wajahnya, dan... gila! Gimana aku bisa lupa? "Calissta??!" Seruku, dan ia langsung tersenyum, memelukku singkat. "Gosh! Gak nyangka bakal ketemu lo, Kika! Di sini pula!" "Lo bareng pak Iskandar juga?" Tanyaku. "Engga, pesawat gue nyusul sama tim yang lain. Di luar yuk, kita ngobrol!" Ajaknya. Tentu saja aku setuju. Kami mencari udara segar di luar, duduk di bangku yang tersedia. "Sejak kapan lo kerja di sini?" Tanyanya. "Baru 3 bulan. Lo?" "Gue udah 6 bulan magang di sini, Kik." "Magang?" "Kan gue masih kuliah, lo gimana sih?!" Aku tersenyum mengerti. Keren juga Calissta, bisa goal magang di sini. "Sebelumnya lo kerja di mana, Ka?" Tanya Calissta. Sebagai sahabat yang dari kecil bersama tapi gak ketemu lagi selepas lulus SMP karena ia harus pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya, aku menceritakan apa yang ia lewatkan, pekerjaanku sebelum ini, sebelumnya, dan apa yang membuatku bisa bergabung dengan tim pak Iskandar. Calissta menanggapi dengan senang, komen di beberapa bagian, dan tentu saja ia terkejut saat kuceritakan mengenai Satrio. "Ayah sama Trinity baik-baik aja kan? Bang Eka gimana?" Aku senang karena responnya adalah keluargaku, dari dulu, Calissta selalu perhatian padaku yang sudah ditinggalkan Ibu sejak kecil. "Bang Eka pergi Cal pas dia lulus sekolah." "Pergi? Pergi gimana? Lulus sekolah? Bang Eka pergi pas aku pindah? Pas kita pisah?" Aku mengangguk, sementara Calissta masih syok mendengar ceritaku tentang Bang Eka. Yeah, agak sulit memang menerima kenyataan kalau Abangku yang sangat sayang keluarga memutuskan pergi dari rumah karena Ayah tidak bisa menguliahkannya. Calissta tiba-tiba memelukku, aku pun membalas pelukannya. "Jangan sedih ya, Kikaaa!" "Yeah, semua udah lewat kok, Cal. Bahas yang lain aja yuk, kita udah lama banget gak ketemu!" Seruku sambil mengurai pelukan kami. Calissta menangguk. Lalu ia mengajakku ke bagian lain, pemandangan gedung ini di malam hari, di mana lampu-lampu taman menyala menyejukan mata, suara-suara jangkrik saling bersautan. Kami bertukar banyak cerita, tentang perjalananku dan perjalanannya. Dalam hati, aku makin bersyukur bekerja dengan Pak Iskandar. Beliau secara tidak langsung membuatku menemukan sahabatku. Terima kasih, Pak Iskandar. ****** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN