Satu hal yang kubenci dari pekerjaan ini adalah... aku gak punya waktu untuk keluargaku. Sudah lama sekali sejak terakhir aku bertemu dengan Ayah dan Trinity. Aku rindu mereka. Aku tahu betul kalau uang saja tidak cukup untuk mereka, mereka butuh kehadiranku, dan aku pun butuh bertemu mereka.
"Yeah, Mbak lagi di Kanada, Dek. Maaf gak bisa pulang dulu." Kataku pada layar laptopku yang menampilkan wajah kecewa Trinity.
"Kalo pulang langsung ke rumah ya Mbak?"
Aku mengangguk.
Kami lanjut bercerita, aku dengan kegiatanku dan Trinity menceritakan rasanya jadi anak kuliahan. Aku senang mendengar ceritanya, gak apa aku gak kuliah, yang penting adikku bisa merasakannya.
Selesai ngobrol dengan Trinity dan Ayah, aku melanjutkan pekerjaanku. Mencari bahan untuk Pak Iskandar presentasi lusa nanti.
Aku bingung ketika tidak bisa membuka salah sati folder yang kuinginkan. Folder ini seperti diproteksi, tapi kenapa tidak diminta password untuk membukanya?
Kubuka sistem keamanan laptopku ini, laptop khusus yang diberikan oleh tim kepresidenan.
Kepalaku sedikit pening melihat alogaritma yang tampil di layar. k****a perbaris sambil berusaha mengerti dan mempelajari tentang coding agar bisa membuka folder ini, tapi sumpah, aku tidak mengerti apapun.
Kututup tab tersebut, lalu membuka tab lain, kalau ini aku mengerti, perangkat yang kupakai ini tidak bisa dilacak, begitupun kalau aku mengirim email atau melakukan panggilan, lokasiku tidak dapat ditemukan.
Wow!
Secanggih ini yaa pengamanan yang diberikan Pak Iskandar kepadaku.
Melupakan folder tadi, aku kembali mencari bahan lalu membuat presentasi Pak Iskandar dengan baik.
"Kikaa?!" Pintu kamarku diketuk.
"Iya Bu, masuk saja." Seruku.
Bu Sukma masuk, ia mengatakan kalau pak Iskandar memintaku menemuinya, membawa hasil kerjaanku kepadanya agar beliau bisa mempersiapkan diri.
Kubawa flash drive dan segera menuju ruangan pak Iskandar. Seorang ajundan yang berjaga di depan pintu langsung mempersilahkanku masuk.
"Permisi, Pak."
"Yeah Dwika, silahkan masuk!"
Aku tersenyum, berdiri di dekat sofa yang Pak Iskandar duduki.
"Kamu bawa materi presentasi saya?"
"Bawa, Pak."
"Kamu sambungkan, lalu kamu presentasikan ya? Biar saya nyontek kamu aja nanti."
"Baik, pak!"
Aku langsung mengarah ke meja operator, menyambungkan flash drive tersebut lalu membuka kerjaanku tadi.
"Silahkan, Dwika."
Aku menggengam pointer, berjalan ke arah layar lalu mempresentasikan bahan tersebut ke Pak Iskandar, beliau mengamati dengan seksama, bertanya di beberapa bagian dan tentu saja kujawab berdasarkan data yang ada dan justifikasi yang terjadi di lapangan.
"Good! Terima kasih." Katanya mempersilahkan aku duduk.
Duduk di seberangnya, aku menatap Pak Iskandar bingung, biasanya aku langsung di suruh pergi.
"Dwika, kamu kenal Calissta? Mahasiswa magang?"
"Iya, Pak."
"Diem-diem, kamu perhatiin dia ya? Saya kaya ada bad feeling soal dia."
"Maksudnya Pak?" Tanyaku bingung.
"Dekati saja dia, dan cari tau siapa dia sebenarnya, anak itu terlalu mencurigakan."
Aku diam. Tak langsung mengatakan kalau Calissta adalah sahabatku sejak taman kanak-kanak dan kami berpisah saat umur 15 tahun.
"Baik Pak." Tepat ketika aku mengatakan itu, pintu diketuk dan terbuka, ajudan tadi mengantarkan satu orang tamu.
"Kamu bereskan Dwika, lalu keluar."
Aku mengangguk sementara pak Iskandar mempersilahkan tamunya. Segera aku beranjak ke meja operator, mematikan proyektor dan lain sebagainya. Ketika akan meng-eject flash drive-ku, ekor mataku melirik folder yang namanya sama seperti yang ada di laptopku. Penasaran, aku membukanya dan langsung terbuka, tidak ada penolakan seperti tadi. Kulirik Pak Iskandar yang sedang asik mengobrol dengan tamunya, lalu dengan nyali seadanya aku mengopi isi folder tersebut ke flash drive milikku, sengaja tidak dengan foldernya karena takut tidak bisa terbuka lagi.
Kucabut flash drvie ini ketika semua sudah terkopi, lalu pamit ke pak Iskandar.
Di ruanganku, kupindahkan isi folder tadi ke flash drive lainnya, agar aku punya salinan lagi, lalu membuat satu folder dengan nama biasa yang tidak akan dicurigai.
Aku terlonjak ketika pintuku diketuk.
"Masuk!" Serku.
"Hay, Kika! Main yuk? Tadi gue udah izin mau jalan-jalan." Ajak Calissta.
"Ke mana?"
"Ya kemana aja, ke mall, ke supemarket, ke mana aja lah."
Menyetujui ajakan Calissta, kami langsung pergi berdua, dan tentu, kami menolak tawaran pengawalan yang diberikan.
"Setelah ini, lo mau jadi apa Cal?" Tanyaku.
"Gue mau jadi diplomat, gue mau duta besar, apa aja laah, yang keren-keren, yang jalan-jalan le luar negeri. Makanya gue seneng banget bisa magang di sini, bareng Pak Iskandar lagi." Jawabnya antusias.
Jujur, aku tidak melihat satu hal pun yang mencurigakan dari Calissta. Ia senormal aku, dan dia terlihat sangat biasa.
Ponselku berdering, sebuah panggilan masuk, tapi anehnya nomornya memiliki kode negara ini, sedangkan aku gak punya kenalan di Kanada. Semua orang di Kanada yang aku kenal, nomornya sudah tersimpan. Kenapa ada nomor lain?
Ragu-ragu, aku mengangkat panggilan itu, dan tentu saja, jantungku nyaris copot saat mendengar suara di seberang sana.
"Hallo Dwika Kencana, kita bertemu lagi!"
*******
TBC