11. Ayah

1313 Kata
"Dari mana kamu tahu nomor ini??!" Tanyaku gemetaran. "Well, Anda bisa lihat arah jam 10 dari tempat Anda duduk." Mataku langsung melirik, dan kali ini jantungku berhenti sekian detik saat melihat sosok Satrio Pamungkas duduk di salah satu kursi, ia berada di kafe seberang, sedang meminum kopi dan ketika mata kami bertemu, ia mengangkat gelasnya. Kututup panggilan itu, tanganku masih gemetar. "Lo kenapa, Ka? Ditelefon? Disuruh pulang kita? Ada masalah apa? Belom juga ada sejam kita keluar." Ujar Calissta. Aku menggeleng. Gak. Please. Jangan. Ada Calissta di sini. Dia gak tau apa-apa, jangan sampai Calissta terbawa-bawa dalam masalahku dengan Satrio. Dan. Kenapa pula dia ada di sini?? Bukankah dia di penjara?? Ya Tuhan!! "Enggak kok, tapi kita balik aja yuk? Gue ngerasa gak enak badan." Kataku, tanganku masih gemetar. "Eh? Seriusan? Lo sakit Kik? Yaudah deh yuk pulang." Aku menangguk, lalu kami berjalan menuju tempat kami menginap, Calissta menggandeng lenganku. Aku menoleh ke belakang, Satrio masih di sana, mata kami beradu dan ia tersenyum. Mengerikan!! *** Calissta menemaniku di kamar, saat melihat tubuhku mendadak menggigil ia menolak meninggalkan aku sendirian. Padahal aku takut kalau terjadi sesuatu padaku dan ia secara tidak sengaja ikut terkena juga. Aku gak mau ada orang yang terbawa-bawa dalam masalahku dengan Satrio, sekalipun aku gak tau kami ada masalah apa. "Gue panggil Mbak Regina ya? Biar dibawain dokter." "Gak usah Cal, gue cuma butuh istirahat, lo juga istirahat sana, biar gak sakit juga, lo kan harus nemenin Pak Iskandar buat besok dan lusa." "Gak, gue di sini aja. Lo sakit, Kika!" "Gak apa, asli. Gue pengin tidur doang. Daripada gue tidur terus lo bengong." "Bener?" "Iya bener!" Aku lega ketika Calissta akhirnya meninggalkan kamarku. Menarik selimut menutupi wajah, aku memandangi nomor yang digunakan Satrio untuk meneleponku tadi. Bagaimana dia bisa tahu? Aku sudah mengganti nomorku, sudah lebih dari 4 bulan hidupku aman tanpa gangguan Satrio, kenapa sekarang dia muncul lagi. Ponsel ini terjatuh dari tanganku saat ada panggilan masuk dari nomor yang tadi kupandangi. Aku diam saja, tidak memungut HP dari kasur karena tidak berani mengangkatnya sampai panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Tak lama, terdengar sebuah notifikasi pesan. Kuambil ponselku, membacanya dari tab notifikasi. Ada hadiah untuk Anda di laci nomor dua. Begitu membaca itu aku langsung membuka selimut, melirik mejaku dengan tatapan was-was. Gosh, apa lagi ini? Beranjak ke meja, kukumpulan nyali untuk membuka laci yang dimaksud. Benar saja, ada sebuah box cokelat yang tertempel kartu ucapan di atasnya. Perlahan, kubuka kartu ucapan tersebut dan membacanya. 'Hay Dwika Kencana, seminggu lalu saya ke Belgia dan suka dengan cokelat ini, sama seperti saya menyukai Anda. Semoga suka juga ya, seperti saya.' SP Mau muntah aku!! *** Di kepalaku, ruangan ini terasa berputar. Kuabaikan Pak Iskandar yang sedang menjelaskan di depan, lalu beralih ke belakang tempat tersedianya coffee break. Kuseduh kopi untuk meredakan sakit kepalaku lalu keluar dari ruangan, duduk di sofa yang tersedia di koridor. Menarik napas panjang, kepalaku sakit karena banyaknya pikiran yang berkecamuk saat ini. Satrio tentu saja, dan aku juga memikirkan keluargaku. Aku rindu Ayah dan Trinity. Pintu ruang rapat tadi terbuka dari dalam, kulihat Maria keluar sambil menggengam cangkir yang sama sepertiku. "Kenapa, Ka?" Tanyanya. "Gak apa, Ya. Pusing sedikit. Lagian, bahasan Pak Is hari ini gue yang bikin kok, jadi sedikit udah ngerti. Nanti paling masuk pas bagian audience." Jelasku. "Yeah, santai aja." Katanya sambil menepuk bahuku. Membuatku mengangguk singkat. Kami diam beberapa saat, aku terus-terusan menyesap kopiku yang masih hangat ini. Berharap kafeinnya bisa meredakan sakit yang kini menyerang kepalaku. 'Lo tau, Ka? Untuk seorang mantan reporter, lo payah banget dalam menilai situasi yang ada di sekitar lo." Ucap Maria tiba-tiba. "Maksudnya?" "Yeah, masa lo polos banget, gak sadar kalau si Arman suka sama lo." "Mas Arman? Suka? Tapi kan dia udah nikah." "Yailah hari gini, Ka. Dia caper banget kali sama lo. " Aku diam. Yang kutahu Mas Arman baik padaku. Gak kepikiran sama sekali kedekatan kami selama ini ada di sisi yang romantis, karena mas Arman sudah beristri. "Harus lo tegasin ke dia, Ka! Sebelum dia macem-macem atau sampe ketahuan istrinya, bisa berabe lo padahal gak salah apa-apa." "Oke Ya, gue usahakan. Makasi loh masukannya." "Yeah, soalnya gue gak mau ada perpecahan nanti di tim nulis, gue udah seneng sama formasinya." Aku mengangguk. Selesai rapat, aku bergabung dengan Calissta yang sedari tadi sibuk. Ia berencana mampir ke kamarku karena aku dapat kamar sendiri sementara ia harus bersama salah satu ajudan wanita Pak Iskandar, katanya sih gak betah kalau bareng orang yang serius sekali seperti itu. "Eh lo dapet cokelat dari mana nih? Curang yaa, barang bagus disimpen di kamar buat senditi." Calissta menyambar box cokelat yang diberi Satrio. Membuatku panik mendadak karena takut. Aku takut cokelat itu diracun, makanya aku gak makan cokelat itu. "Bagi yaa!" Seru Calissta yang langsung mengambil cokelat dan memakannya. Aku hanya mengangguk, pasrah udah laah. "Enak nih, lo gak terlalu suka, Ka? Gue bagiin aja ya? Nih dah lo kalo mau gue sisain tiga biji." Calissta keluar dari kamarku, membawa box cokelat tadi. Ya ampun, ini kalo semua orang meninggal gara-gara aku gimana? Satrio nih emang yaaa, pembawa masalah buat hidupku!!! *** Libur! Pak Iskandar sedang off selama 5 hari yang artinya juga aku bisa libur dan pulang ke Ayah dan Trinity. Tentu hal ini tidak aku sia-siakan. "Aku mau mbak, banyak jalan-jalan kaya kamu, ke berbagai tempat." Ucap Trinity saat kami makan siang bersama. "Aku tuh accidental traveler dek, kamu kuliah aja dulu, yang bener ya?" Trinity mengangguk, sedangkan Ayah kali ini lebih banyak diam karena sakit gigi. "Abis makan aku mau keluar ya, mau ketemu temen." Trinity mengangguk. Makan siang selesai, Ayah kembali duduk di sofa dan menonton TV, aku dan Trinity membereskan piring kotor di dapur. "Mas Pram telefon aku, mbak. Nanya kamu ada di mana, ya aku gak jawab, sesuai yang kamu bilang." "Yaudah biarin aja." "Mbak beneran berantem sama Mas Pram? Tumben." "Udah putus, dek. Dia yang putusin." "Serius mbak?" Aku hanya mengangguk. "Yaudah Mbak siap-siap mau keluar yaa, sebentar." Kali ini Trinity yang mengangguk. Aku kembali ke kamar, langsung berganti baju dan menyiapkan barang-barang yang akan kubawa. Pamit pada Ayah, aku langsung berangkat, naik ojek online menuju tempat janjian. Sampai di sana, orang yang kutunggu ternyata sudah sampai duluan, jadi aku menghampirinya, tersenyum pada teman lama ini. "Hay Kris!" Seruku. "Gaya lu kampret, kemana sih lo sekarang? IG lo bagus-bagus tempatnya." Ujar Krisna saat aku duduk di seberangnya. "Ada deh, gak bisa gue ceritain." "Dasar!" "Jadi gimana?" Tanyaku. "Kata kenalan bokap gue, Satrio ya emang salah, dia terbukti bersalah, tapi yang bikin jadi janggal tuh gak ada alat bukti, sianida yang katanya dipakai ngebunuh tuh bukan, kenalan bokap gue itu kepala autopsinya dan sama sekali gak ada sianida." "Terus? Bohong dong yang selama ini dilempar ke media?" "Ya gitu, dan anehnya lagi semua keluarga korban menolak dimintai informasi. Gak ada satupun yang tahu cerita versi keluarga korban, bahkan keluarga keluarganya yang luar pun gak tahu, karena saking gak maunya buka suara." "Kenapa gitu ya?" "Gak tau, yang jelas kalau lo mau bikin berita yang heboh, lo kulik dulu deh itu." Aku mengangguk. Jeda sesaat, baru ingat, kuberikan oleh-oleh yang kubeli untuk Krisna. "Mantap nihh, makasih Kikaaa!" Serunya senang. Aku mengangguk, oleh-oleh itu gak ada apa-apanya dibanding info yang dia katakan. Aku tahu aku sudah berhenti ditugaskan Pak Nugra dalam kasus Satrio. Tapi aku ingin mencari tahu lebih. Ponsel dalam tasku tiba-tiba berbunyi, membuat pikiranku teralih, langsung saja aku merogoh tas dan menerima panggilan. "Hallo dek, kenapa?" "Mbak, ayah kejang mbak! Ini aku dibantu Pak Ilham bawa ayah ke IGD." Suara Trinity panik. Aku sendiri langsung blank mendengar itu. "Kok bisa? Tadi kan ayah gak kenapa-kenapa dek!" "Anu, mbak... Aku kasih Ayah cokelat yang ada di mejanya Mbak Kika. Baru segigit Ayah langsung kejang mbak." Jantungku nyaris berhenti mendengar penjelasan Trinity. Satrio!! Kalau ayahku sampai kenapa-kenapa gara-gara dia. Aku bunuh dia pakai tanganku sendiri!! ***** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN