Trinity memelukku erat ketika aku sampai di rumah sakit. Sepuluh menit yang lalu, dokter telah mengumumkan tanggal kematian Ayah. Yeah, ayahku pergi. Aku sendiri berdiri terpatung, tidak membalas pelukkan adikku ini atau bahkan ikut menangis bersamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kenapa tidak aku saja? Kenapa Ayah? Aku meminta izin pada Mbak Regina kalau aku belum bisa balik bekerja karena harus mengurus pemakaman Ayah dan menemani Trinity. Mbak Regina memberikanku tambahan libur 3 hari, bahkan memberikan uang santunan. "Dokternya bilang Ayah meninggal kenapa?" Pertanyaan itu keluar dari mulutku setelah 2 hari berdiam diri. Aku dan Trinity tidur bersama di kamar Ayah, kami sama-sama kehilangan. "Katanya jantung Mbak." "Ayah gak ada riwayat jantung, dek." "Iya sih." "Cokelat yang kam

