"Kamu mau aku pecat???!!!" teriak Stevan pada Riyan di ruang kerjanya. Stevan benar-benar murka dengan apa yang sudah Sena lakukan.
Stevan tak mengira kalau Sena nekat melakukan hal itu demi mengancamnya. Hanya karena sebuah pekerjaan.
Kenapa Sena tak memilih melamar pekerjaan secara umum?
Kenapa Sena tak bekerja di perusahaan lain?
Kenapa harus Stevan?
Itulah pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran Stevan. Sementara Riyan masih diam, ia menunggu atasannya sekaligus temannya itu untuk bisa berpikir jernih.
"Kenapa kita tak terima mbak Sena aja buat kerja di perusahaan ini? Atau kita bisa kasih uang tutup mulut seperti yang biasa kita lakukan." ucap Riyan lirih ketika suasana sudah dirasa membaik.
Stevan mengembuskan nafas panjang, lalu memainkan lidahnya di dinding mulutnya. Stevan masih bingung, langkah apa yang akan ia ambil. Memperkerjakan Sena bukanlah cara yang tepat, ia tak bisa asal merekrut karyawan tanpa prosedur semestinya. Terlebih lagi, pekerjaan macam apa yang Sena inginkan sampai berani mengancam Stevan.
Stevan sempat berpikir untuk melakukan kekerasan pada Sena. Namun ia buru-buru menepis pikiran kotor itu. Bagaimana bisa ia bersikap kasar pada wanita, itu seperti hal yang mustahil baginya. Stevan memang pernah menjadi ketua gangster, namun tak sekali pun Stevan memukul wanita.
Jangankan memukul, menyentuh wanita saja tak pernah ia lakukan. Stevan terlalu sibuk dengan dunianya, dunia yang menurutnya tak adil, dunia yang hanya memberikan rasa sakit. Tak ada waktu bagi Stevan untuk mendekati wanita, bahkan setelah kesuksesannya. Ada banyak wanita cantik yang berusaha mendekatinya, hasilnya nihil. Stevan selalu beralasan sibuk, walaupun itu bukan hanya alasan saja. Stevan memang selalu sibuk, jadwalnya sangat padat.
Keinginan Stevan untuk bisa memiliki kekuasaan lebih dibanding ayah tirinya memang sudah mendarah daging pada diri Stevan. Yang ada di benak Stevan saat ini hanyalah bekerja dan bekerja.
Kembali Stevan memikirkan apa yang Riyan ucapkan. Kalau tak ingin memberi Sena pekerjaan, tutup saja mulut Sena dengan uang yang ia miliki.
"Apa dia mengunggah video lainnya?" tanya Stevan pelan, sepertinya ia sudah bisa mengontrol emosinya.
"Tidak, Pak." sahut Riyan tegas, Stevan melirik Riyan sesaat lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo temui wanita itu." ucap Stevan yang sudah berjalan ke arah pintu, Riyan dengan langkah seribu mengikuti langkah atasannya itu.
Riyan dengan cekatan langsung mengirim pesan ke Sena, meminta wanita itu untuk bertemu.
Di tempat lain, Sena yang sedang sibuk melihat komentar yang membanjiri postingannya, membulatkan matanya tiba-tiba ketika pesan Riyan masuk.
Entah apa yang dipikirkan wanita muda itu, ia malah tersenyum melihat pesan Riyan yang mengajaknya bertemu malam-malam begini.
Sena sempat menengok ayahnya ke dalam rumah, setelah tahu kalau ayahnya sudah terlelap tidur, Sena menyambar tasnya lalu keluar dari rumah.
Tepat ketika Sena menutup pintu, ibu tiri dan saudara tirinya pulang, memergokinya yang baru akan keluar di jam larut seperti ini.
Sena terkejut, namun tak lama, ia sudah tak peduli lagi dengan ibu tiri dan anaknya itu.
Sena melihat penampilan ibu dan anak itu dari atas hingga bawah. Penampilan glamor masih melekat di keduanya. Sena hanya bisa berdecak sambil menggelengkan kepala. Andai saja Stevan tak mengajaknya bertemu, Sena pasti sudah mencecar ibu tirinya yang terlihat tak peduli pada ayahnya.
Belum lagi hutang yang menggunakan nama ayahnya, Sena ingin sekali meminta pertanggung jawaban ibu tirinya itu. Namun, Sena tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu Stevan. Sena memilih melangkah pergi, sampai ibu tirinya keheranan.
"Hei, kamu mau kemana jam segini? Kamu nggak lihat ini jam berapa?" tanya ibu tiri Sena lantang, Sena menyeringai.
"Heh, kalau orang tua tanya tuh dijawab!" teriak Lea yang menarik lengan Sena. Bukannya menjawab pertanyaan ibu tirinya, Sena memang memilih pergi begitu saja. Sampai akhirnya Lea menarik lengannya.
"Yang seharusnya tanya di sini aku. Kalian dari mana? Ayah sakit-sakitan, aku sibuk cari pekerjaan. Dan kalian malah ninggalin ayah sendirian. Dan lagi, aku tahu kalian pinjam uang ke rentenir kan? Tuh, lihat, ayah babak belur dihajar lintah darat itu karena kalian! Kalian tanya aku mau ke mana? Aku mau cari duit buat bayar utang kalian!" jawab Sena dengan berteriak, ia sudah tak bisa lagi menahan emosinya.
Rasa sesal menghantui Sena, andai saja ia tak pernah mempercayakan pekerjaannya pada Lea, kehidupannya tak akan berubah seperti ini.
Dan andai saja ayahnya tak menikah dengan ibu tirinya itu, semua pasti akan baik-baik saja. Itu yang Sena pikirkan sekarang.
"Berani kamu ya bentak-bentak ibu?" teriak Lea tak terima dengan sikap kasar Sena. Lea hendak menampar Sena, namun ibunya segera mencegahnya.
"Cari duit jam segini? Kamu mau jual diri?" tanya ibu tiri Sena sinis, Sena terkekeh.
"Iya. Aku mau jual diri buat bayar utang kalian. Puas?" jawab Sena lirih, ia sudah ingin sekali menghentikan debatnya dengan ibu tiri dan saudara tirinya itu hanya untuk segera menemui Stevan.
Sementara Stevan dan Riyan baru saja sampai di hotel, tempat di mana Riyan mengundang Sena untuk bertemu. Bagi Riyan, hotel adalah tempat yang paling aman agar pertemuan Stevan dan Sena tak diketahui wartawan. Bagaimana pun, Sena sedang disorot banyak orang karena sudah memposting kebobrokan Stevan.
Walaupun Sena tak memyebutkan nama atau inisial tentang Stevan, namun semua pendapat menuju ke Stevan.
Sementara Sena sendiri seperti tak peduli dengan apa yang akan terjadi di hotel nanti. Yang ingin Sena lakukan adalah bernegoisasi dengan Stevan untuk mendapatkan pekerjaan darinya.
Jika dulu bertemu Stevan adalah hal yang harus dihindari Sena, kini tidak lagi. Dari mana Sena bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat jika ia tak nekat mengancam Stevan.
Sena terpaksa memakai simpanan uangnya untuk naik taksi, agar ia segera sampai di hotel. Stevan sendiri menunggu Sena sambil mencari tahu apa yang terjadi pada hidup wanita itu lewat berita-berita di internet.
Stevan akhirnya tahu bagaimana perusahaan Sena mulai bangkrut perlahan dan kini ayah Sena sedang sakit-sakitan. Stevan sedikit melunak, ia ingin memberi kesempatan Sena untuk meminta maaf. Walaupun Stevan masih belum yakin kalau ia akan memberi Sena pekerjaan.
Sekitar 20 menit berlalu, baik Stevan dan juga Riyan, keduanya saling membisu. Hingga suara bel berbunyi, Riyan dengan cepat membuka pintu. Orang yang diharapkan akhirnya muncul, Sena.
Sena datang dengan nafas tersengal, ia setengah berlari agar segera sampai di kamar yang sudah dipesan Stevan itu. Riyan mempersilakan Sena masuk lalu menutup pintu kamar dari luar. Ya, Riyan memberi kesempatan atasannya untuk berbicara empat mata dengan wanita yang mengancamnya.
Riyan memutuskan turun dan menunggu di kafe yang tepat ada di depan hotel.
Sena masih berdiri di dekat pintu, tubuhnya gemetar tatkala ia sadar kalau ia sudah masuk kandang macan. Tak ada yang bisa Sena lakukan selain pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dia akan terima kalau-kalau Stevan memukulinya. Itu sudah menjadi risikonya karena sudah berani mengancam mantan gangster yang kejam itu.
Stevan sendiri masih duduk di sofa, menatap Sena dengan seringainya yang mengerikan. Entah apa yang merasuki pikiran Stevan, ia tiba-tiba berpikir untuk bisa menikmati tubuh wanita di depannya itu. Namun Stevan buru-buru membuang pikirannya yang kotor itu lalu mulai membuka pembicaraan.
"Duduklah. Mau sampai kapan kamu mematung di situ?" ucap Stevan dengan santainya.
Sena akhirnya berjalan mendekati Stevan, ia secara perlahan duduk di sofa yang berbeda dengan Stevan. Stevan tersenyum melihat Sena yang tampak ciut nyalinya.
"Bagaimana bisa kamu senekat itu?" ucap Stevan yang melempar ponsel milik Riyan ke meja, sangat keras sampai membuat Sena terkejut.
Karena ponselnya sendiri sudah remuk tak berbentuk, Stevan menggunakan ponsel Riyan untuk mempertontonkan ulah Sena. Akibat postingan Sena, dalam hitungan menit saja sudah banyak artikel yang menyebut nama Stevan Prayoga.
"Maaf." ucap Sena lirih, nyaris tak terdengar. Sena memilih menunduk, ia takut menatap Stevan yang terlihat mengerikan.
"Apa mau kamu?" tanya Stevan lantang, Sena masih diam, ia juga bingung apa yang akan ia pinta pada Stevan.
Sena ingin mendapatkan pekerjaan, namun Sena harus segera punya uang untuk membayar hutang ayahnya. Kalau bekerja, tentu saja Sena harus menunggu satu bulan lagi untuk menerima gaji. Sena bingung.
"Ngomong! Kamu udah berhasil buat namaku jadi trending topik di internet. Sekarang kamu bilang kamu mau apa?!" teriak Stevan yang mulai tak bisa mengontrol emosinya.
"Jadiin aku istri simpananmu." jawab Sena dengan tergesa, ia mengangkat wajahnya dan menatap Stevan dengan penuh keputus-asaan.
Bersambung...