Menerima tawaran Stevan untuk menjadi istri simpanannya adalah pilihan akhir yang dipilih Sena. Menurut Sena, hanya dengan menikah dengan Stevan ia bisa mendapatkan banyak uang dalam sekejap. Walaupun ia hanya akan menjadi istri simpanan, Sena seperti tak peduli. Yang Sena pikirkan saat ini adalah ia dan ayahnya terbebas dari hutang-hutang. Dan tentu saja Sena butuh dana yang tak sedikit untuk biaya pengobatan ayahnya nanti.
Stevan terkekeh mendapati Sena yang tampak frustrasi dengan mimik wajah pusat pasi itu. Stevan seperti memiliki kendali penuh pada gadis di depannya. Gadis yang awalnya mengancamnya dan jual mahal padanya. Kali ini malah menawarkan diri untuk menyerahkan dirinya.
"Apa yang kamu mau? Uang? Sampai kamu rela menjilat ludahmu sendiri. Baru berapa jam kamu nolak aku dan menyerangku dengan lidah tajammu itu saat aku minta kamu jadi istri simpananku? Dan sekarang apa? Kamu posting video itu cuma agar kamu bisa ngomong kalau kamu mau jadi istri simpanan aku? Ha ha ha ha." ucap Stevan yang kemudian tertawa terbahak-bahak atas kemenangannya melawan Sena.
Stevan tak menyangka kalau Sena benar-benar menanggapi permintaannya untuk menjadi istri simpanannya. Walau sebenarnya Stevan tak ada niat untuk memiliki hubungan serius dengan wanita manapun. Yang Stevan pedulikan saat ini adalah karirnya, tak ada waktu untuk memikirkan masalah wanita.
Namun entah kenapa ketika melihat Sena malam ini, duduk dengan rasa putus asanya dan menawarkan diri untuk jadi istri simpanannya, Stevan seperti menemukan mainan. Stevan ingin sekali melihat Sena membayar atas ulahnya yang berani memposting videonya di masa lalu sampai-sampai namanya menjadi trending topik saat ini.
Sena hanya diam mendengar semua yang Stevan katakan. Ketika Stevan tertawa, Sena hanya bisa menunduk, menatap lantai yang menjadi saksi bisu keterpurukannya saat ini.
Stevan beranjak, ia berjalan perlahan menuju ke ranjang lalu duduk di bibir ranjang. Matanya menatap tajam ke arah Sena, bibirnya mengulas senyum kegirangan.
"Ke sini." ucap Stevan sambil menepuk ranjang, tepat di sampingnya duduk.
Sena langsung mengangkat wajahnya, menoleh ke arah sumber suara. Sena mengerti apa yang diinginkan Stevan saat ini, duduk di ranjang itu bersama. Tapi Sena seakan membatu, ia terlalu takut untuk berdiri dan menuruti Stevan.
Selama ini Sena menjaga baik-baik miliknya yang satu itu. Akankah Stevan memintanya untuk melayani Stevan di ranjang? Sena memikirkan banyak hal buruk dalam waktu sekejap.
"Ke sini sekarang, atau aku nggak akan peduli lagi dengan nasibmu." ancam Stevan yang bagaikan sambaran petir bagi Sena.
Dalam hitungan detik, Sena langsung berdiri lalu berjalan dengan kaki gemetar. Sena sedikit menyeret kakinya, dengan langkah yang sangat berat akhirnya Sena sampai di pinggir ranjang.
Stevan kembali menepuk ranjang, berharap Sena akan segera duduk di sampingnya. Namun Sena begitu ketakutan hingga ia hanya membatu di depan Stevan. Stevan merasa Sena mempermainkannya, ia begitu geram sampai akhirnya ia menarik tangan Sena dan menariknya sampai terpental di ranjang.
Dalam sekejap, Stevan berhasil menindih tubuh teman SMA-nya itu. Sena begitu ketakutan ketika tubuh kekar Stevan menindihnya. Nafas Sena semakin tak beraturan, terasa berat karena Stevan tak memberi jarak di antara tubuh mereka.
Namun apa yang bisa Sena lakukan selain diam, pasrah, menerima apapun yang akan Stevan lakukan. Stevan mendekatkan bibirnya ke bibir Sena, secara perlahan. Sena yang awalnya saling adu tatap dengan Stevan, tiba-tiba menutup matanya ketika wajah mereka saling bersentuhan.
Stevan terkekeh, lalu ia mengangkat tubuhnya dan kembali duduk seperti semula. Sena yang sempat menahan nafasnya, langsung mengambil nafas dalam-dalam, nafasnya tersengal. Sena akhirnya bisa bernafas lega karena apa yang ia takutkan tak benar terjadi.
"Bangunlah. Jangan berharap aku mau menjadikanmu istri simpananku. Tubuhmu terlalu kerempeng, dadamu juga. Tubuh kamu nggak bisa menaikkan gairahku." ucap Stevan yang tentu saja berbohong.
Hampir saja jantung Stevan meledak ketika bibirnya dan bibir Sena hampir bersentuhan. Stevan merasa gugup di depan Sena sampai akhirnya ia memilih untuk tidak melanjutkan apa yang ia mulai itu. Walau sebenarnya Stevan begitu ingin menyentuh setiap inchi tubuh Sena. Namun Stevan takut kalau sikap gugupnya dibaca dan ditertawakan oleh Sena.
Demi menjaga imagenya, Stevan memilih berbohong pada Sena. Kebohongan Stevan membuat Sena merasa lega sesaat. Namun, beberapa detik kemudian Sena kecewa karena usahanya untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas itu gagal total.
Sena bangun, ia duduk di samping Stevan. Sena berniat merayu Stevan, tangannya mulai membuka kancing bajunya perlahan. Stevan yang melihatnya malah semakin gugup, pikirannya kacau. Stevan dengan kecepatan kilat lalu berdiri, meninggalkan Sena dengan rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Stevan menuju ke sofa di mana ia duduk tadi, ia mencoba mengatur nafasnya dan sikapnya di depan Sena. Sena merasa terluka, ia sudah membuang harga dirinya jauh-jauh dan menawarkan untuk menjadi simpanan ceo muda nan sukses itu. Nyatanya, Sena ditolak mentah-mentah.
"Apa aku harus menjual organ tubuhku, demi ayahku?" batin Sena yang merasa frustrasi, matanya terpejam. Tangannya kembali memasang kembali kancing bajunya. Tanpa terasa, lelehan hangat membasahi pipinya.
Segera Sena menghapus air matanya, ia tak ingin Stevan melihatnya terlihat lemah. Selesai mengancingkan kembali kancing bajunya, Sena berdiri lalu menghampiri Stevan.
"Apa aku begitu tak menarik di matamu?" tanya Sena yang kini berdiri di depan Stevan. Walau dengan kaki gemetar, Sena mencoba terlihat kuat dan tegar.
"Iya." sahut Stevan lantang, ia mencoba menutupi rasa gugupnya sebisa mungkin.
"Kamu bahkan belum mencobanya." ucap Sena dengan sangat frustrasi, Stevan tiba-tiba terkekeh. Stevan tak percaya kalau Sena akan berkata seperti itu.
"Siapa yang udah pernah nyobain tubuh kurus seperti itu?" tanya Stevan yang kembali mempermainkan perasaan Sena demi menutupi rasa gugupnya. Stevan melihat Sena dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan sinis. Sementara ia diam-diam menelan ludahnya. Tak lama kemudian Stevan menyilangkan kakinya, bagian bawahnya menegang, ia mencoba menutupinya agar Sena tak melihatnya.
Sena sendiri merasa kalau ia sudah tak memiliki harapan. Kata-kata Stevan begitu menyakiti perasaannya. Memang benar apa yang diucapkan Stevan, tubuh Sena terlalu kurus. Semenjak ayahnya sakit, Sena kurang memperhatikan penampilannya dan makan dengan tidak teratur.
"Aku belum pernah melakukan itu dengan siapapun." jawab Sena dengan suara bergetar, ada perasaan senang yang dirasakan Stevan saat ini.
"Wah, sayang sekali. Nggak ada yang bisa aku mintain testimoni dong." lanjut Stevan yang kembali melukai perasaan Sena.
Sena mengepalkan tangannya, tubuhnya bergetar semakin kencang, rasa amarahnya ingin sekali meledak. Namun Sena menahan diri, ia masih berharap Stevan adalah jalan baginya mendapatkan uang dalam sekejap.
"Baiklah. Lupakan tawaranku untuk bisa menjadikanku istri simpananmu. Kalau begitu, beri aku uang untuk setiap video yang aku punya." teriak Sena, ia ingin memanfaatkan video masa lalu Stevan demi mendapatkan uang.
Stevan terkekeh, cukup lama. Setelah itu Stevan berdiri, lalu menghampiri Sena. Ketika Sena sudah di depan matanya, Stevan memegang leher Sena menggunakan tangan kirinya. Sena mundur perlahan, seirama dengan dorongan tangan Stevan yang mencengkeram lehernya. Walau tak begitu menyakitkan, Sena merasa kesulitan bernafas.
Sampailah tubuh Sena membentur dinding, Stevan mendekatkan wajahnya ke wajah Sena. Lalu menempelkan bibirnya di telinga Sena yang sebagian ditutupi oleh rambut-rambut itu.
"Kamu sudah tahu siapa aku. Aku bisa melakukan apapun ke kamu. Melenyapkanmu dan semua video itu." bisik Stevan di samping telinga Sena, ancaman yang seharusnya membuat Sena ketakutan.
Alih-alih ketakutan, Sena malah tertawa terbahak-bahak dengan leher yang masih dipegangi oleh Stevan itu.
"Kamu mau apa? Melenyapkanku dari muka bumi ini? Silakan! Aku nggak perlu repot-repot nyari sungai atau pisau buat mengakhiri penderitaanku ini. Aku malah akan berterima kasih sama kamu. Aku udah muak dengan kehidupanku ini!" ucap Sena yang diakhiri dengan teriakan.
Sena terlihat begitu kacau, jauh di dalam lubuk hati Stevan, ia merasa kasihan pada wanita yang mengancamnya itu. Stevan tahu kalau sebenarnya Sena melakukan semua itu demi ayahnya yang sedang sakit-sakitan.
Stevan melepaskan tangannya dari leher Sena. Sena menggosok lehernya pelan, menahan batuk karena ulah Stevan itu.
Stevan mundur lalu kembali duduk di sofa. Ia kemudian melirik Sena yang masih berdiri bersandar di dinding.
"Kamu bener-bener nggak ada menariknya sama sekali." ucap Stevan santai, walau sebenarnya ia mulai memikirkan cara yang tepat untuk membuat Sena merasa tenang.
Kondisi kamar hotel yang didominasi warna putih itu tiba-tiba hening seketika. Stevan memejamkan matanya, sementara Sena memilih duduk berjongkok dan menatap lantai.
"Berapa yang kamu minta?" tanya Stevan memecah keheningan, ia mencoba menyerah atas image yang ia jaga sejak tadi. Ia merasa kalah melihat Sena yang sudah tampak kacau balau itu.
"Apa kamu mau membayar sesuai dengan apa yang aku minta?" tanya Sena lirih, ia melirik ke arah Stevan yang ternyata juga memandangnya.
"Asal kamu sebutin nominal yang masuk akal. Dan asal kamu setuju dengan syarat yang aku kasih." ucap Stevan dengan tatapan membingungkan.
"Aku butuh uang buat bayar hutang. Aku juga butuh uang buat bayar biaya pengobatan ayahku." sahut Sena dengan tatapan sendu, ia berharap Stevan tak memberi syarat yang sulit untuk ia lakukan.
"Kalau kamu nggak sanggup memenuhi syarat dariku. Aku hanya akan membeli video itu aja." ucap Stevan, Sena berdiri dengan semangat.
"Apa kamu mau bilang, kalau aku memenuhi syarat kamu itu, kamu bakal kasih aku pekerjaan juga?" tanya Sena antusias.
Stevan mengangguk lemah, ia tampak sangat santai. Sena mendekat dan berdiri di depan Stevan lagi.
"Kasih tahu aku, syaratnya apa." ucap Sena yang sudah tak sabar ingin mengetahui syarat yang diberikan Stevan.
"Syaratnya..." jawab Stevan menggantung.
Bersambung...