Jadi asisten pribadi

1254 Kata
Sena sudah bersiap untuk syarat yang akan diajukan Stevan. Sena sangat berharap bisa bekerja di perusahaan Prayoga Group. Dengan begitu ia memiliki penghasilan tetap demi membayar pengobatan ayahnya nanti. "Syaratnya, selama kamu kerja di aku, semua yang kamu miliki adalah milik aku." ucap Stevan yang ingin mengambil keuntungan dari wanita yang sedang frustrasi itu. "Maksud kamu?" tanya Sena, ia meninggikan suaranya karena tak mengerti apa maksud Stevan. "Dasar bodoh. Begitu aja kamu nggak ngerti." ucap Stevan lirih, "Maaf, bisa tolong dijelasin lebih spesifik?" sahut Sena yang menurunkan volume suaranya. "Maksud aku, selama kamu kerja sama aku, semua yang kamu miliki itu jadi milikku. Semua itu, semua bagian tubuh kamu itu. Karena aku mau kamu jadi asisten pribadiku, melayaniku setiap hari. Ah, kecuali hari libur." ucap Stevan sambil menunjuk tubuh Sena, ke atas dan ke bawah. Sena mengernyit keheranan, ia masih tak begitu paham dengan syarat yang diajukan Stevan. "Kalau aku kamu pijitin aku, pijit aku. Kalau aku mau kamu lari, kamu harus lari. Bahkan ketika suatu saat aku punya keinginan untuk tidur sama kamu, kamu harus mau. Walau sepertinya hal itu tak akan terjadi. Aku cuma mau, kamu menuruti semua apa yang aku perintahkan." penjelasan Stevan kali ini membuat Sena mengerti. Sena mengangguk, ia tak masalah menjadi b***k Stevan asal ia bisa memiliki gaji tetap. Menjadi asisten pribadi Stevan jauh lebih baik dari pada harus menjadi istri simpanan. Dan Sena juga berharap kalau Stevan tak akan pernah memiliki niat untuk menghabiskan malam dengannya. "Baiklah, aku mau." ucap Sena bersemangat, "Kalau kamu nggak mau, kamu benar-benar bodoh. Nggak akan ada kesempatan kedua untuk bisa jadi asisten pribadi CEO keren kayak aku." sahut Stevan sinis. Sena tersenyum, ia berharap keputusannya kali ini bisa membawa perubahan untuk kehidupannya saat ini. "Mulai besok, datanglah ke rumah. Kamu mulai kerja besok, sekarang pulanglah." ucap Stevan yang kemudian beranjak lalu melangkah ke arah kamar mandi. Stevan melepas satu per satu kancing kemejanya, Sena menatapnya tanpa berkedip. Ketika sudah tak ada lagi kancing yang terkait, Stevan melepas kemejanya, menampilkan tubuh kekarnya. Tubuh yang sangat atletis, sayangnya ada banyak bekas luka di sana. Sena menatapnya tajam, ia tak percaya kalau tubuh dari CEO tampan itu terdapat bekas luka. Stevan yang sedari tadi memunggungi Sena, menoleh ke belakang dan memergoki Sena yang menatapnya tajam. "Yah, apa kamu sesuka itu lihat tubuh aku?" ucap Stevan yang mengagetkan Sena, "Hah?" sahut Sena kaget. "Aku nyuruh kamu pulang, kenapa malah berdiri di situ lihatin aku buka baju? Kamu berharap bisa menikmati tubuh ini?" ucap Stevan yang telah membalikkan badannya beberapa detik yang lalu. Kini tubuh bagian depan Stevan terpampang di depan Sena, wanita itu malah membuka mulutnya lebar-lebar ketika melihat garis-garis di perut Stevan. Sena menelan ludahnya, melihat tubuh bagus Stevan. Andai saja tak ada bekas-bekas luka itu, tubuh Stevan adalah tubuh sempurna yang diidam-idamkan. Tak hanya wanita, para pria pun juga mengidamkan tubuh atletis seperti itu. Stevan terkekeh melihat sikap Sena, Sena yang sadar akan kebodohannya, segera menurunkan tatapannya. "Kamu gila, Sena? Bagaimana di saat seperti ini, kamu bisa kagum sama orang seperti dia?" batin Sena. "Sampai kapan kamu mau berdiri di situ? Mau lihat aku buka semua ini?" tanya Stevan sambil menunjuk celananya. Sena gelagapan, entah apa yang ia pikirkan sampai ia membalikkan badannya lalu menatap dinding. Stevan tersenyum melihat Sena, Sena menggigit bibirnya menahan malu. "Aku mau kamu pulang, sekarang. Harus berapa kali aku bilang agar kamu paham. Mulai sekarang, kamu adalah milikku. Turuti setiap perintahku." titah Stevan, Sena masih menghadap dinding. "Kamu bilang, aku harus ke rumahmu besok. Di mana? Jam berapa?" tanya Sena pelan, "Aku akan kirim alamat rumahku ke nomor kamu. Datang pagi, kalau bisa sebelum jam 7. Kalau kamu datang lebih dari jam 7, kesepakatan ini gagal." ucap Stevan yang diakhiri dengan ancaman. Sena masih bertahan dengan posisinya yang memalukan itu. "Apalagi?" tanya Stevan karena Sena tak kunjung keluar dari kamarnya. "Kasih aku uang, aku udah nggak ada uang sama sekali. Mau jalan kaki, aku takut, ini udah larut." ucap Sena lirih, ia malu harus meminta uang kepada Stevan. Namun kalau Stevan tak memberinya uang, sangat riskan baginya jika harus berjalan kaki di malam yang sudah larut ini. Stevan menyeringai, ia kemudian menuju ke nakas, mengambil dompetnya. Stevan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah. "Ini." ucap Stevan sambil menyodorkan tangan kanannya. Sena membalikkan badannya perlahan, lalu melangkah mendekati Stevan. Dengan perasaan malu, ia mengambil uang dari tangan Stevan. "Jangan lupa untuk membawa semua video asli yang kamu miliki tentang aku. Kalau sampai kamu menyembunyikan 1 aja video tentang aku, aku nggak akan segan- segan buat nyingkirin kamu." ancam Stevan. "Tapi, kamu harus tuker setiap video itu dengan uang." ucap Sena, "Iya. Aku akan bayar kamu karena udah berbaik hati menyimpan kenanganku di masa lalu. Puas?" teriak Stevan, Sena menunduk lalu menggigit bibirnya. Stevan yang melihat Sena memainkan bibir itu langsung salah tingkah. Stevan ingin sekali menggantikan Sena, memainkan bibir tipis milik Sena itu. "Sana, pergi!!!!" teriak Stevan yang salah tingkah, ia tak ingin lama-lama berduaan saja dengan Sena. Sena akhirnya pamit undur diri. Setelah keluar dari kamar Stevan itu, Sena tersenyum sambil menciumi uang di tangannya. Sena senang karena tak sia-sia baginya karena sudah menyimpan video Stevan di masa lalu. Sena kemudian langsung pulang, mencari taksi di depan hotel. "Pak, tolong mampir di apotek yang buka 24 jam ya." pinta Sena setelah masuk ke dalam taksi. Sena ingin membeli obat untuk ayahnya sebelum pulang. . . Sesampainya di rumah, Sena mendapati rumah yang sudah sepi. Sena membuka sedikit saja pintu kamar ayahnya, dilihatnya ayahnya yang tidur pulas dengan mulut setengah terbuka. Di samping ayah Sena sedang berbaring ibu tirinya yang memunggungi ayah Sena. Sena lanjut masuk ke kamar, ia melempar plastik berisi obat-obat milik agahnya di atas meja. Ketika masuk ke kamar, Sena mendapati Lea yang masih sibuk mengenakan skin care. Saudara tirinya itu sedang duduk di depan cermin, sambil mengolesi wajahnya menggunakan skin care yang harganya tak murah itu. Sena hanya bisa mendesah lirih. "Kenapa?" tanya Lea, "Apanya?" tanya Sena balik. Lea menggebrak meja di depannya, Lea tak suka melihat sikap Sena yang seperti meremehkannya. "Kenapa kamu mendesah? Kamu nggak suka kan lihat aku begini?" teriak Lea, "Iya." sahut Sena singkat, ia seakan tak peduli dengan teriakan Lea. "Kalian diam! Aku mau tidur!" teriak ibu tiri Sena dari dalam kamarnya. Sena menghela nafas panjang, ia memang harus berbagi kamar dengan Lea karena rumah kontrakannya hanya memiliki 2 kamar. Sena pernah memilih tidur di ruang tamu, yang ada Sena kedinginan dan sejak itu Sena terpaksa berbagi kamar dengan Lea. Sebenarnya hubungan Sena dan Lea selama ini biasa saja. Sena tak peduli Lea hidup glamor. Namun ketika ayahnya bangkrut, Sena mulai membenci Lea karena Lea tak bisa menerima kalau ia tak bisa hidup glamor lagi. "Jadi wanita itu harus bisa merawat diri, terutama wajah. Kalau nggak begitu, pria mana yang mau sama kita? Ha?" ucap Lea yang menurunkan suaranya, ia tak ingin diteriaki ibunya lagi. "Cih. Kalau mau cantik, modal dong. Dapet duit dari mana kamu bisa beli itu semua? Jangan bilang kamu yang mengambil hutang ke rentenir, hanya untuk membeli skin care itu?!" balas Sena yang ikut menurunkan volume suaranya. Bukan karena Sena takut pada ibu tirinya, Sena tak ingin mengganggu ayahnya yang masih tidur. Lea tampak gelagapan, memang benar kalau Lea-lah yang sudah memaksa ayah tirinya untuk meminjam uang dari rentenir. Kalau sena tahu, bisa panjang urusannya. "Enak saja. Pacar aku yang beliin. Emang kamu, nggak punya pacar?" sahut Lea berbohong. Sena memilih diam walau sebenarnya ia tahu kalau saudaranya tirinya itu berbohong. Sena memilih untuk segera tidur, beristirahat, menyiapkan tubuhnya untuk berjuang yang sesungguhnya esok hari. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN