Mimpi buruk

1138 Kata
"Berani sekali kamu mengancamku? Kamu nggak tahu, aku bisa lakuin apa sama wanita seperti kamu?!" ucap Stevan yang sudah memegang sebuah pisau kecil, ditodongkan ke leher Sena. Sena tak bisa bergerak, jangankan teriak minta tolong, memelas dan meminta ampun saja ia tak bisa. Tangan dan kaki Sena ditali, tubuhnya duduk di bangku yang sudah tak kokoh lagi. Semakin Sena bergerak, bangku lusuh itu mengeluarkan suara mengerikan. Mulut Sena ditutup dengan lakban berwarna hitam. Sena dikurung di tempat yang luas, sangat gelap dan hanya ada lampu kecil yang tepat ada di atas kepala Sena. "Kalau kamu pikir kamu bisa ngancem aku, kamu salah. Di sini, kamu mangsanya. Ha ha ha." ucap Stevan yang dilanjutkan dengan suara tawanya yang menggelegar, menggema di seluruh ruangan gelap itu. Keringat Sena bercucuran, keningnya tampak basah hingga ke rambut yang menutupi sebagian wajahnya itu. Sena ketakutan, ia terus menggelengkan kepalanya seraya meminta ampun. Namun apa yang bisa ia lakukan saat mulutnya ditutupi lakban hitam berlapis-lapis itu. Stevan semakin mendekatkan benda tajam yang ia pegang ke leher Sena. Sena ketakutan setengah mati, ia memejamkan matanya sambil menangis. Namun tangisannya seperti sia-sia karena Stevan tak peduli. Stevan menendang Sena hingga Sena terjatuh di lantai. Berbarengan dengan rasa terkejut Sena, Sena terbangun dari mimpi buruknya. Sena duduk di ranjangnya dengan nafas tersengal. Sena sadar kalau semua hal buruk tadi hanyalah mimpi semata. Kini Sena menundukkan kepalanya, mencova mengatur nafasnya dan mengumpulkan tenaganya. Sena kemudian menatap Lea yang masih tertidur pulas di sampingnya. Kemudian Sena mencari ponselnya di bawah bantal. Dilihatnya layar ponselnya yang menunjukkan jam 4 pagi. "Masih jam 4. Tapi kalau aku tidur lagi, aku takut kesiangan." batin Sena. Tak lama kemudian Sena turun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. Sena memutuskan mandi walaupun masih jam 4 pagi. Dinginnya air yang mengguyur tubuhnya seakan tak dirasa olehnya. Sena malah sibuk memikirkan mimpi buruknya tadi. Apa Stevan akan melakukan hal buruk padanya setelah ia menyerahkan semua video yang ia miliki? Apa yang bisa ia lakukan untuk melawan Stevan? Selesai mandi, Sena berdiri di depan cermin di kamarnya. Ia menggosok rambutnya yang masih basah itu dengan handuk berwarna merah muda. "Apa yang kamu harapkan Sena? Terima takdirmu, apapun yang terjadi." gerutu Sena yang tanpa sengaja membangunkan Lea. Lea mengerjapkan matanya, lalu menatap Sena yang masih sibuk mengeringkan rambut itu. "Kamu mau kemana? Malem-malem begini mandi?" tanya Lea dengan suara khas orang bangun tidur. Sena menoleh ke arah Lea, ia menyeringai menatap wajah Lea yang masih cantik walau sedang bangun tidur. "Mau kerja! Cari duit buat bayar utang ayah. Ah, salah. Utang kamu, tapi pakai nama ayah, buat beli skin caremu itu. Inget ya, nggak ada kali kedua aku biarin kamu pakai nama ayah buat utang lagi. Kalau kamu berani ngulang lagi, aku pastiin kamu akan menyesal selamanya!" ancam Sena kepada saudara tirinya itu. Lea yang sadar kalau dirinya memang salah, kehabisan kata-kata dan tak bisa membantah ucapan Sena. Setelah mengancam Lea, Sena merapikan penampilannya dan memasukkan barang-barangnya ke tas. Tak lupa ia memasukkan laptopnya ke dalam tas. Kemudian ia keluar dari kamarnya itu, meninggalkan Lea yang masih kesal dengan ancamannya. Sena melirik kamar ayahnya sesaat, ia kemudian dengan perlahan membuka pintu kamar ayahnya. Dilihatnya ayahnya yang masih tertidur pulas, sementara ibu tirinya juga masih tertidur dengan posisi memunggungi ayahnya. Sena menyelipkan uang ke saku celana ayahnya, dengan sangat pelan agar tak membangunkan ayahnya. Setelah itu Sena pergi dari rumahnya, walau matahari masih belum memunculkan keindahannya. Setelah berjalan cukup jauh, Sena duduk di pinggir jalan. Sena beristirahat dan kembali memikirkan mimpi buruknya. Sena takut mimpi buruknya akan menjadi kenyataan setelah ia menyerahkan laptopnya pada Stevan. "Apa yang harus aku lakukan?" ucap Sena lirih, rambutnya yang masih setengah basah itu ia biarkan menutupi sebagian wajahnya ketika ia menunduk. "Kalau aku buat salinan, terus Stevan tahu. Stevan mungkin akan semakin marah dan gelap mata sama aku. Aku tahu pasti gimana kejamnya dia." lanjut Sena yang masih ragu dengan jalan yang harus ia pilih. Sena curiga, kalau semalam Stevan bersikap baik padanya hanyalah trik Stevan agar mendapatkan semua video yang Sena simpan. "Dia bahkan nggak nyentuh aku. Dia gay atau sengaja baik sama aku agar aku nggak curiga sama dia?" ucap Sena lirih, ia masih dirundung rasa resah yang tak berujung. Ketika Sena melirik layar ponselnya, Sena melihat isi pesan dari Riyan mengenai alamat rumah Stevan dan apa yang harus dilakukan Sena. "Jalan Merpati nomor 28, yang perlu mbak Sena lakukan adalah menuruti semua perintah Pak Stevan. SEMUANYA, TANPA TERKECUALI." isi pesan Riyan yang menegaskan kalau Sena tak boleh membantah perintah Stevan. Sena mengembuskan nafas panjang, setelah itu ia memesan ojek online agar segera sampai di rumah Stevan. Tepat jam 7 pagi akhirnya Sena sampai di rumah Stevan. Seorang asisten rumah tangga mempersilakan Sena masuk. "Kamar tuan ada di atas, silakan masuk." ucap perempuan setengah baya itu sambil menunjuk ke lantai atas. Sena berjalan dengan ragu, namun kakinya melangkah tanpa henti sampai akhirnya ia sampai di depan satu-satunya pintu kamar di lantai 2 itu. Sena mengetuk pintu itu walau ia ragu, sekali. Tak ada sahutan, Sena mengetuk kembali pintu kamar itu. Nyatanya tak ada sahutan juga, sampai ketiga kalinya Sena mengetuk pintu kamar itu, Stevan masih tak menyahut. Tepat setelah ketukan ketiga, ada pesan masuk ke ponsel Sena. Sena merasakan getaran di dalam tasnya, ia segera mengecek isi pesan yang ternyata dari Riyan itu. "Langsung masuk ke kamar, bangunkan Pak Stevan. Biasanya aku yang bertugas, mulai hari ini kamu yang gantiin aku membangunkan Pak Stevan." isi pesan Riyan. Sena memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Setelah itu ia memegang gagang pintu dan secara perlahan membuka pintu. Sena melihat Stevan yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Tubuhnya bagian atas tampak terbuka, sementara perutnya sampai ujung kaki tertutupi selimut bermotif garis-garis itu. Sena berjalan mendekat, ia kemudian memanggil nama Stevan dengan pelan. "Stevan.. Bangun, ini udah jam 7 lewat." panggil Sena lirih. Setelah melihat tak ada reaksi dari Stevan, Sena berjalan mendekati ranjang dan memanggil Stevan lagi. Namun Stevan tak kunjung membuka matanya. Sena akhirnya memberanikan diri memegang pundak Stevan, ia berniat menggoyang tubuh Stevan. Namun ketika kulit tangannya menyentuh kulit pundak Stevan, Stevan langsung terbangun dan meraih tangannya. Dalam sekejap, Stevan berdiri dan menyerang Sena. Kini Stevan memegangi tangan Sena yang sudah ada di belakang punggung Sena. Stevan sengaja memutar tangan Sena agar Sena tak bisa bergerak. Sena teriak kesakitan, Stevan akhirnya sadar kalau Sena yang baru saja ia sakiti. "Ini aku, Sena." teriak Sena, Stevan akhirnya melepas pegangannya pada tangan Sena. Sena akhirnya terbebas, ia kemudian mengibaskan tangannya karena kesakitan. "Berani banget kamu sentuh aku?!" teriak Stevan, Sena kaget bukan main. Namun rasa kaget Sena segera teralihkan setelah melihat tubuh Stevan yang hanya mengenakan celana kolor saja. Paha-paha Stevan ditumbuhi bulu yang cukup panjang dan tak terlalu lebat. Otot-otot di paha Stevan membuat Sena kembali menelan ludah. "Yah!!!" teriak Stevan setelah menyadari kalau Sena memindai tubuhnya yang setengah telanjang itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN