Sena buru-buru menurunkan pandangannya setelah teriakan keras dari Stevan. Kini, Sena hanya berani menatap lantai. Stevan segera mengambil kimono yang tergantung tak jauh dari ranjangnya lalu mengenakannya cepat-cepat.
Setelah itu Stevan mendekati Sena yang masih membatu di dekat ranjang. Stevan berdiri tepat di depan Sena, Sena bisa melihat jari-jari kaki Stevan dengan jelas.
"Kamu! Jangan berani-beraninya kamu pegang aku kalau aku sedang tidur!" ucap Stevan dengan tegas. Ada hal buruk yang terjadi padanya di masa lalu sehingga ia trauma pada sentuhan di tubuhnya ketika ia terlelap tidur. Walaupun dalam kondisi terlelap, ia akan segera terbangun. Dan Stevan akan menyerang orang yang berani menyentuh tubuhnya itu.
"Iya. Maaf." ucap Sena yang masih berdiri dan menatap lantai itu. Sementara ia masih kesal karena tangannya pun masih sakit akibat ulah Stevan.
"Panggil aku tuan, mulai hari ini kamu pelayanku." titah Stevan, ia mulai menurunkan volume suaranya ketika melihat Sena yang hanya menunduk dan menjadi sosok penurut.
"Baiklah, Tuan Stevan. Maafkan saya." sahut Sena yang masih belum berani mengangkat pandangannya.
Stevan senang melihat Sena yang menjadi sosok penurut. Stevan mulai lupa akan rasa kesalnya pada Sena karena berani menyentuhnya ketika ia tidur.
"Aku mau mandi." ucap Stevan lirih, Sena segera mengangkat wajahnya dan memandang Stevan.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Sena polos,
"Sediain air hangat! Bodoh." ucap Stevan sambil menoyor kepala Sena. Sena hanya diam saja mendapati sikap Stevan.
"Baik, Tuan. Saya akan siapkan air hangat untuk Anda." ucap Sena yang kemudian mencari letak kamar mandi. Setelah ketemu, Sena langsung menuju ke kamar mandi.
Selagi menunggu Sena menyiapkan air hangat untuknya, Stevan menelpon Riyan.
"Selamat pagi, Pak." sapa Riyan dengan santai,
"Mundurkan jadwalku 1 jam, aku akan sampai di kantor sekitar jam 9." ucap Stevan yang langsung menutup teleponnya.
"Aku mau bermain sebentar dengan wanita itu." batin Stevan yang langsung berjalan menuju ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Sena selesai menyiapkan air hangat untuknya.
"Air hangatnya sudah siap, Tuan." ucap Sena yang bersikap profesional demi mempertahankan pekerjaannya itu.
Tanpa menjawab Sena, Stevan langsung melepas kimono yang ia pakai. Sena yang menyadari itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu, saya akan tunggu Tuan di luar. Saya juga akan menyiapkan pakaian untuk Tuan." ucap Sena yang mencoba kabur dari situasi mengerikan ini.
Namun ketika Sena hendak keluar dari kamar mandi, Stevan menghadang Sena dengan ucapannya.
"Siapa yang kasih izin kamu keluar lebih dulu? Gosok punggungku!" titah Stevan yang berhasil menghentikan langkah Sena.
Sena ragu, namun ia tak mungkin menolak perintah bosnya itu. Sena akhirnya berbalik, namun saat ia menatap ke Stevan, Stevan sudah lebih dahulu masuk ke bathup. Sena melirik celana kolor yang dikenakan Stevan sebelumnya sudah masuk ke keranjang baju kotor di ujung kamar mandi.
Sena senang karena ia tak harus melihat tubuh polos sang bos. Sena kemudian dengan berat hati mendekati Stevan. Sena akhirnya menggosok punggung Stevan dan diam-diam menikmati pemandangan indah di depan matanya. Lengan kekar Stevan membuat Sena kembali menelan salivanya.
Sementara Stevan, sibuk menyembunyikan senyumnya. Ia tanpa sadar merasa senang karena Sena menuruti semua perintahnya.
"Pakaikan aku shampo dan pijat kepalaku." pinta Stevan, namun dengan suara lirih.
"Baik, Tuan." sahut Sena tegas, ia kemudian mengambil botol shampo. Sena memakaikan shampo di kepala Stevan setelah ia membasahi rambut Stevan. Kemudian ia memijat pelan kepala bosnya itu.
Cukup lama, Stevan menikmati pijatan Sena yang ternyata sangat nyaman dan enak. Sementara Sena masih terus memijat karena Stevan belum memberinya perintah untuk berhenti.
"Kamu keluar lah. Aku mau bilas tubuhku." ucap Stevan setelah dirasa pijatan Sena mulai melemah. Bukannya marah, Stevan malah merasa kasihan pada Sena.
"Baiklah, Tuan. Saya akan siapkan pakaian untuk Anda." sahut Sena girang, ia senang karena ia tak perlu melihat tubuh polos Stevan.
Setelah keluar dari kamar mandi, Sena menyapu pandangannya. Ia mencari lemari atau apapun itu, untuk menyiapkan pakaian kerja Stevan. Namun Sena menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat. Sena menuju ke ruangan tersebut dan membuka pintunya.
Sena membulatkan matanya, melihat dengan takjub ruangan yang ternyata menyimpan segala keperluan Stevan. Mulai dari pakaian, sepatu, dasi, jam tangan dan juga tas kerja. Semuanya tertata rapi sesuai dengan urutan warna.
Sena mengambil kemeja berwarna putih, celana panjang berwarna hitam dan jas kerja yang juga hitam. Namun Sena sedikit kebingungan ketika memilih dasi. Sena takut dasi yang ia pilih tak serasi. Ruang penyimpanan dasi berjajar tepat di samping ruang penyimpanan jam tangan.
Ketika Sena sibuk menatap dasi, Stevan masuk dan mendapati Sena yang masih membatu. Stevan kira, Sena sedang berusaha mencuri jam tangan miliknya. Bukan rahasia lagi kalau Stevan adalah CEO muda yang sukses. Sudah dapat dipastikan kalau jam tangan miliknya dibanderol dengan harga fantastis.
Entah apa yang merasuki Stevan sampai ia pikir Sena berniat mencuri jam tangannya itu.
"Jangan bwrani-berani kamu mencuri jam tanganku. Atau kamu aku potong tanganmu?!" ancam Stevan yang ternyata membuat Sena terkejut. Sena tak sadar akan kedatangannya.
Stevan yang hanya mengenakan kimono itu masih berdiri bersandar di pintu.
"Maaf Tuan, saya masih bingung memilih dasi yang tepat untuk anda. Saya juga tak ada niatan untuk mencuri. Terlepas dari itu, saya tidak akan berani melakukan apapun yang membuat anda marah, apalagi sampai memecat saya." ucap Sena tegas.
"Baguslah. Sekarang kamu keluar, kamu nggak perlu siapin aku pakaian, biar aku sendiri aja." ucap Stevan yang berjalan mendekati Sena dan merebut pakaian yang Sena pegang sejak tadi.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi." pamit Sena, ia keluar dari ruang penyimpanan itu dan menutup pintunya dari luar. Sena berdiri di samping pintu, menunggu perintah selanjutnya dari Stevan.
Beberapa menit sudah berlalu, Stevan keluar dari ruang penyimpanan pakaian itu dengan santai.
"Keringkan rambutku." perintah Stevan selanjutnya, lagi, Sena hanya menuruti perintah bosnya itu. Sena mengeringkan rambut Stevan menggunakan hair dryer, sementara Stevan duduk di depan meja riasnya sambil mengecek pekerjaannya melalui ponsel.
"Kamu bawa semua video itu?" tanya Stevan dingin,
"Iya, Tuan." sahut Sena sambil mengeringkan rambut Stevan.
"Berapa yang kamu minta?" tanya Stevan lagi,
"Berapa pun Tuan, asal setelah ini, jangan pecat saya." sahut Sena lirih.
Stevan menyeringai, setelah rambutnya kering, Sena merapikan hair dryer dan Stevan merapikan rambutnya sendiri. Stevan memakai krim untuk rambutnya sebelum akhirnya ia menyisirnya.
"Haruskah aku buat perjanjian hitam di atas putih?" ledek Stevan,
"Tak perlu, Tuan. Saya percaya Tuan akan menepati ucapan Tuan." sahut Sena.
Stevan menyerahkan dasi ke Sena, dan dengan tatapan polosnya ia tak mengerti kenapa Stevan memberinya dasi itu. Sena malah diam saja dan tak kunjung memakaikan dasi itu di leher bosnya.
"Pakaiin! Bodoh!" teriak Stevan yang membuat Sena tersadar akan kebodohannya.
Sena buru-buru memakaikan dasi ke leher Stevan. Karena rasa gugupnya akibat kebodohannya itu, Sena tanpa sengaja menarik kedua ujung dasi cukup kuat. Sena berniat mencari posisi yang tepat, namun kegugupannya malah membuat semuanya semakin rumit.
Ketika tarikan dasi dari Sena cukup kuat, Stevan berhasil membungkukkan badannya dan tanpa sengaja mengecup bibir Sena. Bibir Stevan dan bibir Sena saling bersentuhan.
Bersambung...