Pengakuan

1029 Kata
Lamaran Stevan yang secara tiba-tiba itu bak angin lalu. Tak ada kepastian. Sena hanya bisa diam dalam kebingungannya. Sementara Stevan, pikirannya masih dipenuhi oleh gadis itu. Stevan sibuk memikirkan cara agar Kevin tak bisa menyentuh Sena. Ia tak fokus pada pekerjaannya. "Aku mau makan siang berdua dengan Sena. Siapkan tempat makan yang cocok buat kami mengobrol," pinta Stevan pada Riyan setelah meeting selesai. Riyan tahu persis kalau sahabatnya itu tengah terobsesi pada Sena. Tanpa berpikir panjang lebar, Riyan langsung mengiyakan dan mencari tempat makan siang untuk Stevan. "Bapak mau saya yang antar ke restorannya?" tanya Riyan dengan lirih. Keduanya kini sedang duduk di sofa, di ruang kerja Stevan. Tak ada Sena, gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya di meja kerjanya. "Nggak perlu, aku mau berdua sama Sena." Stevan menjawab mantap. "Kamu serius mau menikahi Mbak Sena?" tanya Riyan yang mulai berbicara informal. Stevan melirik Riyan. "Aku mau mengobrol dengannya lebih dulu. Selama ini aku bersikap sebagai pria yang kejam. Dia menurutiku karena terpaksa. Jadi aku mau tahu, sebenernya apa yang dia pikirin tentang aku." Riyan mengangguk lemah, tanda ia mengerti maksud perkataan Stevan. "Bagaimana kalau Mbak Sena nggak suka sama kamu? Kamu mau ancem dia?" "Entahlah. Aku juga nggak tahu harus apa." Stevan menyandarkan kepalanya di bahu sofa lalu memejamkan matanya. "Kamu serius jatuh cinta sama dia?" "Aku enggak tahu. Apa ini nafsu, atau cinta?" jawab Stevan lirih, matanya masih terpejam. "Untuk tahu jawabannya, kamu harus tanya sama hati kamu. Karena cinta, bisa buat kamu nafsu. Tapi kalau nafsu, nggak akan bisa buat kamu cinta sama dia." Stevan bangun, matanya menatap Riyan dengan lekat. "Apa aku harus tidurin dia lebih dulu? Sebelum aku menikahinya? Untuk buktiin apa ini cinta, atau nafsu belaka?" Riyan menghela nafas panjang. "Sekarang gini aja, dari pada kamu ngerusak anak orang. Coba aja deh, kamu cari cewek di luar sana, yang udah rusak, yang jauh lebih cantik dari Mbak Sena. Kamu mau nggak?" "Kamu gila?! Jelas enggak lah! Kalau emang aku mau sama cewek lain, dari dulu kali aku udah tidurin cewek-cewek yang antre buat jadi pacar aku." Stevan menjawab tegas. "Intinya, cuma Mbak Sena kan yang bisa buat kamu hoŕni? Kalau gitu, bisa jadi emang kamu cinta sih sama dia." Riyan dan Stevan saling tatap. Dan dalam beberapa saat, keduanya hanya saling diam. "Apa aku perlu ke pskiater? Apa aku mulai gila?" tanya Stevan yang lalu mengacak-acak rambutnya. Waktu berlalu, dan kini Stevan sudah berada di dalam mobil dengan Sena, menuju ke restoran yang sudah dipesan oleh Riyan. Tanpa banyak kata, Sena hanya menurut. Semua kejadian hari ini, membuat kepalanya sedikit pusing. Ia memilih diam, dan sesekali mengkhawatirkan ayahnya yang sendirian di penginapan. Sesampainya di restoran, Stevan menyuruh Sena memesan makanan sesuai dengan selera gadis itu. Keduanya akhirnya menikmati makan siang, berdua, tanpa obrolan apapun. Setelah selesai makan, barulah Stevan mulai mengajak Sena mengobrol. "Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanya Stevan. Sena yang baru saja menyeruput jus alpukat, segera mengelap bibirnya menggunakan tisu. "Maksud Bapak?" tanya Sena bingung. "Bicara santai aja, kita bicara antara Sena dan Stevan. Aku serius mau menikah sama kamu," ucap Stevan dengan volume suara rendah. "Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu." Sena menjawab tanpa ragu. "Sejak aku ngancem kamu, kamu selalu jahat sama aku. Kamu sendiri kan yang bilang, kalau aku ini milik kamu. Untuk apa kamu tanya tentang pendapatku? Apa itu penting? Mau atau enggak, bukannya kamu bebas melakukan apapun sama aku?" lanjut Sena. "Ya, bener. Aku udah beli kamu, dan itu nggak murah. Dengan uang yang aku pakai untuk kamu, sebenarnya aku bisa pakai uang itu untuk tidur dengan artis atau model top yang jauh lebih cantik dari kamu." Stevan masih berbicara dengan nada rendah. "Tapi sepertinya aku mulai gila. Awalnya, aku pikir, aku akan jadiin kamu sebagai b***k sèks-ku. Yang bisa aku pakai semau aku, sepuas aku. Tapi, sekarang aku nggak mau itu. Aku maunya lebih." Stevan mulai menaikkan volume suaranya. "Aku mau setiap hari bertemu denganmu, menghabiskan waktu bersama selain di kantor. Aku mau kamu melayaniku, bukan karena takut ancamanku. Aku mau kamu mencintaiku, Sena!" Kali ini Stevan berbicara lantang. "Aku mau menikah denganmu. Aku mau menghabiskan sisa hidupku denganmu, dan dengan anak-anak kita. Aku serius, Sena." Sena terdiam, membisu dan hanya bisa menatap Stevan dengan berbagai pertanyaan di otaknya. Apakah Stevan serius? Apakah Stevan berniat mengerjainya? Atau apakah Stevan memiliki niat jahat padanya? Namun, jika memang Stevan hanya ingin menikmati tubuhnya. Pria itu tak perlu melakukan hal sejauh itu. Dengan kekuasaannya, ia bisa saja meminta Sena melayaninya di ranjang. Tak perlu ada pernikahan. Kali ini, Sena semakin bingung. Ia memejamkan matanya, cukup lama. "Stevan, kalau kamu mau aku layanin kamu di ranjang. Lakuin aja. Nggak perlu kamu seperti ini. Lakuin apapun yang kamu mau, tapi jangan libatin hati aku. Aku, a-aku, aku takut jatuh cinta sama kamu." Sena mulai bimbang pada hatinya sendiri. Selama ini, Sena begitu takut pada Stevan. Ia berusaha menghindari teman sekolahnya itu. Sampai akhirnya takdir yang memaksanya untuk bertemu kembali dengan Stevan. Setelah semua yang terjadi, Sena mulai memiliki rasa simpati dan bahkan peduli pada sang CEO. Kehidupan sang CEO yang cukup rumit, ternyata mampu membuat Sena mulai perhatian. Walaupun sampai pagi tadi, sikap Stevan masih kejam padanya, Sena tak bisa memungkiri kalau ia mulai tertarik pada pria itu. Ucapan Sena membuat Stevan terkejut. "Jangan takut! Ya. Kamu harus jatuh cinta sama aku. Aku pemilikmu. Dan yang paling penting, aku juga mencintaimu." Stevan meraih tangan Sena, lalu menggenggamnya dengan lembut. Tangan Stevan yang sedikit kasar itu, mampu membuat Sena merasa gugup dan malu. Namun, di dasar lubuk hatinya, terselip rasa bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Apalagi kalau bukan pengakuan cinta dari Stevan. Tampan, kaya raya, dan bahkan populer, siapa yang tak bahagia mendapat pengakuan cinta dari Stevan. "Kamu nggak lagi ngerjain aku kan? Kamu serius kan?" tanya Sena meyakinkan. Ia tak ingin menjadi korban jika Stevan hanya main-main. "Ajak aku temui ayahmu. Aku mau melamar kamu di depan ayahmu." Stevan dengan bangganya mengucapkan hal itu. Membuat Sena semakin bahagia. "Kalau kamu main-main, sampai mati, aku nggak akan maafin kamu." Sena masih belum yakin dengan ucapan Stevan. "Aku nggak akan biarin kamu mati, sebelum aku bisa memilikimu seutuhnya. Nggak hanya tubuh, aku mau hati kamu juga untuk aku." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN