Terima kasih banyak masih membaca karya aku.
.
.
Kevin pergi meninggalkan kantor dengan perasaan senang. Ia merasa begitu senang setelah mengetahui kelemahan saudara tirinya. Apalagi kalau bukan Sena.
Ya, selama ini Kevin sangat paham kalau Stevan tak pernah membuka hati untuk wanita mana pun. Tak ada satu pun wanita yang pernah dekat dengan saudara tirinya itu. Ia bahkan sempat sependapat dengan beberapa orang yang menyebut Stevan sebagai penyuka sesamà jenis.
Namun setelah kejadian barusan, Kevin dapat melihat betapa Stevan berusaha melindungi Sena. "Aku akan buat wanitamu itu bertekuk lutut di hadapanku."
Semua mata tertuju pada Kevin yang berjalan santai dengan pakaian kasualnya. Beberapa karyawan yang berpapasan, menunduk hormat pada putra pendiri Prayoga Group itu.
.
.
Di tempat lain, Lea dan ibunya tengah duduk termenung di rumah kontrakan mereka. Tak ada uang dan tak ada makanan. Keduanya hanya bisa diam, sambil meratapi nasib yang begitu memilukan.
"Kalau saja kamu bisa jaga sikap kamu sama Sena. Dia nggak akan pergi ninggalin kita seperti ini. Walaupun nggak ada uang, setidaknya kita masih bisa makan." Ibu tiri Sena itu menyalahkan putri kandungnya atas apa yang sudah terjadi pada hidup mereka.
Lea hanya diam. Rasa lapar yang menyerangnya, membuat perasaannya begitu sensitif. Ia tak menyangka kalau ibunya akan menyalahkannya atas nasib mereka saat ini.
"Lagian, mana kalung Sena? Bukannya kamu udah ambil? Kamu jual kan? Mana uangnya? Ibu laper, ibu mau makan," teriak ibu kandung Lea lagi. Kali ini Lea menatap ibunya dengan penuh emosi.
"Lea juga laper, Bu! Ibu kerja dong, jadi pembantu kek. Apa kek, Ibu harusnya tanggung jawab sama hidup Lea," Lea tak ingin kalah dari ibunya.
"Apa kamu bilang? Lihat ibu kamu ini, Lea! Ibu udah tua, tenaga ibu udah nggak mampu lagi. Seharusnya kamu yang kerja! Selama ini ibu udah menghidupi kamu dengan kemewahan yang nggak semua orang bisa rasain. Sekarang, kamu gantian dong, kasih ibu kemewahan di usia ibu yang udah tua ini." Ibu tiri Sena itu sama emosinya dengan Lea. Ia juga merasa kelaparan, sama seperti putrinya.
"Cari pria yang kaya raya. Jadiin dia sumber penghasilan kamu. Nggak harus tampan, nggak harus single pula. Mau jelek, mau suami orang, asal dia punya banyak uang!"
"Ibu tega mau jual anak ibu?" teriak Lea yang tak habis pikir dengan permintaan konyol ibunya.
"Ibu dulu juga jual diri sama ayahnya Sena. Itu sebabnya kamu bisa hidup mewah selama ini. Sampai tuà bangkà itu bangkrut dan akhirnya kita jadi gembèl begini. Ibu nggak mau tahu, kamu harus cari calon suami yang kaya raya. Ah, nggak perlu nikah, jadi simpanan pun, asal hidup kita terjamin!" Ibu kandung Lea itu pergi meninggalkannya, meninggalkan rumah kontrakan itu tanpa tujuan. Ia hanya ingin pergi meninggalkan putrinya.
Sementara Lea, ia hanya bisa meneteskan air mata. Ia benar-benar tak menyangka kalau ibunya akan memintanya untuk mencari pria kaya tanpa memandang status. Ia kemudian merogoh sakunya, tangannya menggenggam kalung. Ya, kalung milik Sena yang ia curi itu ternyata belum ia jual.
Lea merasa ragu untuk menjual kalung peninggalan ibu kandung Sena itu. Ia merasa menyesal, karena perbuatannya itu, Sena marah dan menghancurkan segalanya. Dan kini, Sena pergi membawa ayahnya dan meninggalkan dirinya bersama ibunya dalam kemiskinan itu.
"Aku harus cari kerja. Aku ngggak mau mati konyol karena kelaparan. Aku bisa kerja apa aja, yang penting nggak jual diri," ucap Lea lirih sembari menyeka air matanya.
"Aku nggak tahu kamu di mana, Sena. Tapi maafkan aku karena udah nyuri kalung kamu. Aku akan balikin kalung ini." Lea menatap kalung itu dengan penuh penyesalan. Selama ini, hubungannya dengan Sena memang tak terlalu baik. Namun hubungan keduanya juga tak terlalu buruk.
Sampai akhirnya kondisi keuangan keluarga mereka yang hancur berantakan. Perusahaan bangkrut dan kesehatan ayah Sena semakin memburuk. Semua itu membuat Lea stres dan memutuskan untuk clubbing setiap malam demi menghilangkan rasa stresnya.
Dan kini, tak ada lagi Sena yang akan memberinya uang makan. Tak ada lagi Sena yang bisa ia mintai tolong. Lea memutuskan untuk mendaftar kerja, di mana pun, asal ia memiliki penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
.
.
Sena semakin tak bisa mengontrol detak jantungnya. Hari ini adalah hari terburuk baginya, ada banyak hal yang membuatnya terkejut. Mulai dari kemarahan Stevan, kedatangan Danu dan Kevin.
Dan saat ini, Stevan tengah melamarnya. Tak ada adegan romantis, suasananya malah terkesan menegangkan, bak pembegalan di pinggir jalan.
Tak mungkin Sena menolak lamaran Stevan. Namun ia juga tak ingin menikah dengan pria itu.
"Jawab!" teriak Stevan yang tak sabar ingin mendengar jawaban Sena. Gadis itu tersentak kaget.
"E ... e ...." Sena tak tahu harus menjawab apa.
Riyan tak berani menyela lagi. Kali ini tatapan Stevan begitu serius, terlihat menakutkan. Kalau ia menyela lagi, yang ada ia akan masuk rumah sakit karena babak belur dihajar Stevan.
"Kamu nggak mau?" tanya Stevan yang merasa tersinggung. Ia menebak kalau Sena memang tak menyukainya. Selama ini Sena menurut hanya demi uang.
"Kalau aku mengancamnya, bagaimana kalau ia malah memilih Kevin? Anak manja itu bisa aja kasih duit ke Sena. Ah, nggak. Jangan sampe Sena jatuh di pelukan Kevin!" batin Stevan.
Stevan mengepalkan tangannya lalu menendang angin. "Apa kamu jijik sama aku? Sampe kamu nggak mau nikah sama aku?" tanya Stevan dengan suara lirih.
"Bukan!" seru Sena yang menyanggah atasannya itu.
"Lalu?"
"Saya hanya merasa bingung dengan semua yang terjadi hari ini. Sa-saya ... saya nggak tahu apa yang terjadi. Dan Bapak tiba-tiba mau menikah dengan saya. Kenapa? Dulu Bapak yang nolak ketika saya ajak menikah. Bapak yang bilang kalau saya bukan selera Bapak. Tapi kenapa sekarang Bapak malah melamar saya? Dengan kondisi seperti ini."
Sena mencoba memberanikan diri untuk berbicara. Ia sebenarnya takut, namun ia percaya apapun yang akan terjadi pada hidupnya nanti adalah hal yang tak bisa ia hindari. Bahkan ketika Stevan memintanya untuk menjadi istri simpanan, Sena tak akan bisa menolaknya. Hidupnya sudah ia juàl pada pria itu.
Stevan terdiam. Ia mencoba mengambil nafas dengan santai. Ia tak ingin menyudutkan Sena. Ia begitu takut kalau Sena akan lari pada pelukan Kevin jika ia terlalu menyudutkan gadis itu.
Sena adalah orang yang putus asa pada hidupnya. Uang adalah satu-satunya yang ia butuhkan demi mengobati ayahnya yang tengah sakit-sakitan. Dan saat ini, Kevin begitu terobsesi pada Sena. Tak menutup kemungkinan Sena bisa lari ke pelukan Kevin, demi uang.
"Pak, bisa kita lanjutkan pembicaraan ini nanti? Ada meeting penting yang harus Bapak datangi, 10 menit lagi," sela Riyan.
Stevan melirik Riyan penuh kesal. Bukannya membantunya meyakinkan Sena, sahabatnya itu malah menghancurkan suasana.
Sadar kalau Stevan kesal padanya, Riyan malah tersenyum kecut. "Pukul saya nanti, Pak. Sekarang, kita kerja dulu."
Bersambung...