Melamar

1037 Kata
Terima kasih sudah membaca cerita aku. Baca cerita aku yang lain ya. . . Kevin mengikis jarak antara dirinya dengan Sena. Sementara gadis itu, berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia tak tahu persis siapa pria yang kini tepat berada di depannya. Namun, dari ucapannya barusan, Sena sadar kalau pria di hadapannya adalah saudara tiri Stevan. Sena merasa takut. Ia sudah menduga kalau Stevan tak akan menyukai apa yang dilakukan Kevin padanya. Stevan tak bisa menahan emosinya. Ia bangkit dan berjalan tergesa, menghampiri Kevin dan Sena. Tepat ketika Kevin hendak menyentuh tubuh Sena, Stevan hadir tepat di depan Sena. Sang CEO menghadap saudara tirinya, menghadanginya agar pria itu tak bisa melihat wanitanya. Kevin menyeringai, ia memainkan lidahnya di dinding mulutnya sambil menatap tajam mata Stevan. Keduanya tengah beradu tatap saat ini. Suasana hening, mencekam dan membuat Sena semakin ketakutan. Sena sadar, memasuki kehidupan Stevan bukanlah hal yang mudah. Pria itu adalah mantan gangster, pria yang selalu menggunakan ototnya untuk segala macam hal. Namun, tak ada yang bisa Sena lakukan selain menerima takdirnya saat ini. Semua yang ia alami saat ini adalah bayaran atas dirinya, setelah ia bisa terbebas dari hutang-hutang dan bahkan dari ibu tirinya. "Kenapa? Apa dia wanitamu?" tanya Kevin dengan nada merendahkan. Stevan menyeringai, "iya." Kevin tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar mengisi ruangan yang terasa menegangkan itu. "Aku pikir kamu gày. Ternyata kamu masih normal." "Apa yang kamu lakuin di sini?" tanya Stevan yang sudah tak ingin berlama-lama bersama saudara tirinya. Sena masih berdiri di belakang Stevan, Kevin mencoba mengintipnya lalu mengedipkan matanya pada gadis itu. Stevan yang tak lagi bisa menahan emosinya, segera mencengkeram baju Kevin. Riyan terkejut bukan main, ia segera melangkah mendekat demi memisahkan perang bersaudara itu. Bukannya takut, Kevin malah semakin merasa tertantang ketika melihat Stevan begitu cemburu padanya. Pria itu malah semakin terobsesi untuk mendekati Sena demi membuat saudara tirinya semakin kesal padanya. Kevin sendiri memiliki paras yang sangat tampan, kulitnya putih pucat dan alis yang tegas membuatnya terlihat begitu mempesona. Bukan hal aneh jika banyak wanita mengejar cinta dari pria itu. Terlebih status Kevin yang merupakan anak kandung dari Danu. "Papa minta aku buat dateng ke kantor. Aku pikir kondisi kantor akan sangat membosankan. Ternyata, ada bidadari yang membuat kantor ini terasa begitu menyenangkan." "Cih. Apa yang bisa kamu lakuin di sini. Makan saja minta disuapin! Jangan buat karyawan kerja extra hanya untuk menyelesaikan masalah yang akan kamu buat nanti!" Stevan berusaha menjatuhkan harga diri Kevin. Namun saudara tirinya itu tak ingin kalah darinya. "Aku mungkin nggak becus dalam bekerja. Tapi aku jago dalam urusan wanita!" Stevan melepaskan cengkeraman tangannya pada baju Kevin, sambil mendorong saudara tirinya itu dengan kasar. Kevin hampir saja terjatuh, namun dengan cepat ia menyeimbangkan tubuhnya. Kevin mencoba merapikan pakaiannya. "Baiklah, aku akan pulang hari ini. Aku akan menyiapkan apa saja yang perlu aku bawa besok. Sampai jumpa, saudara tiriku." Kevin melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, masih dengan mata yang tak membiarkan Sena lepas dari pandangannya. "Sampai bertemu besok, Sayang, bidadariku," ucap Kevin sambil melambaikan tangannya pada Sena. Gadis itu hanya mengernyitkan dahinya, sambil menahan rasa takutnya sedari tadi. Stevan mengepalkan tangannya, menahan emosinya yang sudah hampir meledak. Setelah Kevin keluar dari ruangannya, Stevan menendang meja di hadapannya sampai pecah. Suara keras yang dihasilkan akibat ulah Stevan itu, membuat Sena tersentak kaget. Riyan bernafas lega karena sahabatnya mampu menahan emosi. Tak ada baku hantam antara Stevan dan Kevin, itulah poin pentingnya. "Bapak jangan terpancing dengan apa yang Pak Kevin lakukan. Saya yakin, Pak Kevin hanya mau membuat Pak Stevan marah. Itu hanya akan membuat Anda tampak lemah. Jadi, biarkan saja Pak Kevin melakukan apapun yang dia inginkan." "Apa kamu bilang? Biarkan?!" teriak Stevan yang tak terima dengan apa yang diucapkan Riyan barusan. Lagi-lagi, Sena merasa ketakutan. Riyan menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar. "Saya sudah bilang, jangan terpancing dengan apa yang Pak Kevin lakukan." Stevan mencekìk leher Riyan, lalu mendorongnya keras. Keduanya melangkah mendekat ke salah satu sisi tembok. "Kamu mau aku biarin dia menyentuh Sena? Kamu mau mati?!" Riyan terbatuk berkali-kali. Tentu saja karena cekikan keras dari Stevan. Sena begitu ketakutan, namun ia tak memiliki keberanian untuk menghentikan apa yang dilakukan Stevan. "Lepasin dulu," pinta Riyan sambil menepuk tangan Stevan yang masih mencekìknya. Sang CEO akhirnya melepas tangannya dari leher sekretarisnya itu. "Argh," teriak Riyan ketika ia merasa lega setelah Stevan melepaskannya. "Jangan terpengaruh dengan pancingan Pak Kevin. Biarkan saja dia mau melakukan, apapun. Yang perlu Bapak lakukan adalah membuatnya tak bisa mendapatkan apa yang Pak Kevin mau." Riyan mencoba menjelaskan maksud ucapannya sebelumnya. "Pak Kevin mau bekerja. Anda kasih aja pekerjaan yang sulit untuk Pak Kevin kerjakan. Pak Kevin mau mendekati Bu Sena, jauhkan saja Bu Sena dari dia. Pak Stevan bisa minta Bu Sena untuk cuti beberapa hari dulu. Saya yakin, Pak Kevin tak akan bertahan lama mengingat kebiasaannya selama ini. Itulah maksud saya, Pak," lanjut Riyan. Stevan melunak. Ia mengalihkan pandangannya dan mulai memikirkan apa yang Riyan katakan barusan. Perasaan lega menyelimutinya, ide Riyan sangat sederhana. Namun mampu menyelesaikan masalah. Jika Sena cuti, Kevin tak akan bisa bertemu dengan Sena. Perasaan lega itu tak bertahan lama. Stevan segera menyadari kalau ide Riyan juga membuatnya rugi. Kalau Sena cuti, tak ada alasan baginya untuk bertemu dengan gadis itu. Sementara otak dan perasaannya saat ini hanya tertuju pada Sena. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan, dalam beberapa hari ke depan, ia tak bisa menemui Sena. Stevan menoleh ke arah Sena, gadis itu masih berdiri dengan kaki gemetar. "Apa aku bener-bener harus menikahinya? Kenapa aku begitu cemburu saat anak manja itu menyentuhnya? Dan bagaimana bisa aku menahan rasaku untuk nggak ketemu dia? Argh!" batin Stevan yang lagi-lagi dilema oleh perasaannya sendiri. "Kamu mau menikah denganku?" tanya Stevan lantang. Matanya menatap Sena begitu lekat, seperti tak ingin berpaling. Pertanyaan itu mampu membuat Sena dan Riyan membelalakkan mata dengan sempurna. Bagaimana bisa atasan mereka malah memikirkan tentang pernikahan di situasi seperti ini. Riyan mengembuskan nafas panjang, ia lalu menyeringai mendapati sahabatnya yang bertingkah konyol. "Iya, saya mau," jawab Riyan asal. Ia merasa kesal, Stevan menoleh ke arahnya lalu menaikkan salah satu ujung bibirnya. Stevan begitu kesal pada Riyan, sahabatnya itu malah merusak suasana saja. "Aku bicara sama Sena!" teriak Stevan pada Riyan. "Gimana? Kamu mau menikah denganku?" Stevan berusaha tegas, ia ingin segera mendapat jawaban dari Sena. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN