Kedatangan Kevin

1036 Kata
Jangan lupa follow akunku dan tap love semua cerita aku. Terima kasih. . . Sepulang dari kantor, Danu langsung pulang ke rumah. Tempat di mana ia bisa melihat istrinya setiap hari, namun tidak untuk hari ini. Pria itu tak tahu di mana istrinya berada, namun ia menduga kalau Rita tengah berada di rumah anak tirinya-Stevan. Danu menghela nafas panjang, sembari menatap kaca jendela mobilnya. Ia ingin mengunjungi kediaman anak tirinya, namun ia takut Rita tak berada di sana. Itu hanya akan membuatnya semakin takut kehilangan wanita yang ia cintai. Ia akhirnya hanya bisa diam, sampai ia tiba di rumahnya. Sesampainya di rumah, Danu melihat putra yang selalu ia manjakan tengah sarapan. Sendirian di meja makan, menikmati makanan dengan sedikit tergesa-gesa. "Mau ke mana lagi kamu, Kevin? Kenapa makannya seperti itu?" tanya Danu yang berjalan mendekati Kevin. "Aku ada janji sama temen, Pa," jawab Kevin santai, tanpa menoleh ke arah Danu. "Kevin, Papa mau bicara sama kamu." Danu duduk di bangku di depan Kevin. Pria itu menatap putranya dengan penuh harap. "Bicara apa, Pa? Buruan, Kevin buru-buru." Kevin masih tak melihat wajah ayahnya, Danu begitu kecewa melihat sikap putranya itu. "Bekerja lah di kantor, Papa sudah memberimu saham tambahan. Posisi kamu sudah lebih tinggi dibanding Papa." Danu menatap Kevin tanpa berkedip. Sementara putranya sama sekali tak peduli dengan apa yang ia ucapkan. "Kevin," panggil Danu. Kevin masih saja acuh, membuat Danu sedikit naik darah. "Kevin! Papa sedang bicara serius!" bentak Danu yang akhirnya membuat Kevin menatap wajah ayahnya itu. Kevin meletakkan sendoknya lalu meneguk segelas air putih, matanya tak lepas dari pandangan ayahnya. "Apa Papa bilang? Papa mau Kevin ke kantor? Kevin nggak salah denger?" tanya Kevin dengan volume suara yang sedikit meninggi. Danu mencoba mengatur ritme nafasnya, ia merasa kecewa dengan jawaban Kevin. Ia begitu berharap kalau Kevin akan berubah, dan suatu saat akan menjadi pemimpin di Prayoga Group. "Papa sangat berharap, kamu berhenti bermain-main. Jadilah pimpinan di Prayoga Group, jadilah penerus papa, Nak." Danu mulai berkaca-kaca, suaranya pun terdengar sedikit serak. "Buat apa Papa pungut anak itu? Kasih makan anak itu dan bahkan kasih dia kedudukan yang sama persis dengan Kevin? Bukannya memang sudah seharusnya dia yang bekerja? Kevin anak Papa, sudah sewajarnya Kevin menikmati hasil kerja keras Papa selama ini. Biarin aja Stevan yang bekerja, dan Kevin bisa main sepuasnya karena Kevin lah yang memang seharusnya menikmati semua kemewahan yang Papa miliki." Ucapan Kevin seperti menyulut kemarahan Danu. Ia benar-benar tak menyangka kalau Kevin akan menjawab seperti itu. "Papa bekerja keras selama ini memang buat kamu, Kevin. Papa juga maunya kamu yang menikmati hasil jerih payah Papa selama ini." Danu beranjak dari tempat duduknya. Matanya menatap Kevin, tajam. "Tapi Papa nggak mau kalau kamu cuma bisa menghambur-hamburkan uang saja. Papa juga mau, kamu lah yang menjadi pemimpin di perusahaan yang Papa bangun dari nol. Papa mau kamu bisa sukses, lebih dari Stevan. Kamu tahu, berapa kali Papa harus menutup mulut orang-orang yang berusaha menjatuhkanmu karena kebiasaan burukmu itu?" "Jadi mau Papa apa? Papa mau ancam nggak akan kasih Kevin warisan kalau Kevin nggak kerja? Lagu lama, Pa! Kevin nggak akan takut sama ancaman Papa." Kevin meninggalkan Danu begitu saja. Baru kali ini Danu bersikap tegas pada putra kandungnya itu. Itu sebabnya, Kevin tak takut sama sekali pada ayahnya karena selama ini ayahnya selalu menuruti apapun keinginannya. "Kalau kamu tak pergi ke kantor besok, Papa nggak akan biarin kamu gunain fasilitas apapun yang Papa kasih selama ini. Baik mobil, kartu kredit dan bahkan rumah. Silakan pergi dari rumah ini kalau kamu nggak bisa menuruti apa mau Papa." Danu mencoba mengancam Kevin. Kevin menghentikan langkahnya seketika, namun ia hanya menyeringai dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia menyambar kunci mobil di atas nakas dan meninggalkan ayahnya yang masih berdiri di tempat semula. Kevin masuk ke dalam mobil, ia memukuli batang setir berkali-kali karena rasa kesalnya. Dalam keadaan yang masih emosi, ia menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Danu yang mewah itu. Karena emosinya, bukannya pergi ke tempat temannya, Kevin malah pergi ke kantor. Ia merasa begitu penasaran, kenapa ayahnya memaksanya untuk bekerja. Sementara selama ini, ayahnya tak pernah memintanya bekerja dan membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan. Kedatangan Kevin tentunya membuat para karyawan tercengang. Rapat penambahan saham untuk Stevan dan Kevin yang diadakan pagi tadi saja sudah membuat gempar seisi kantor. Dan kini, orang yang memiliki nilai saham yang sama dengan sang CEO, datang dengan pakaian casual dan wajah yang garang. Tak ada yang berani menegur Kevin, para karyawan hanya bengong menatap kedatangan pria itu. Ia berjalan menuju ke ruangan pemimpin perusahaan, berusaha menemui saudara tirinya itu. Tepat ketika Kevin hampir sampai di ruangan Stevan, sang CEO melempar ponselnya karena merasa kesal. Sena dan Riyan yang berada di meja kerja mereka, segera masuk ke ruangan Stevan setelah mendengar suara tersebut. Sena dan Riyan masuk tanpa mengetuk pintu. Keduanya mendapati Stevan yang menatap mereka dengan tatapan maut. Ya, atasan mereka tengah kesal karena tak bisa mengontrol pikirannya sendiri. "Kalian mau mati? Berani-beraninya masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu," ucap Stevan lirih, namun terdengar begitu menakutkan. "Maaf, Pak." Riyan menjawab santai, ia kemudian memunguti ponsel Stevan yang sudah hancur lebur itu. Langkah kaki Kevin terdengar jelas, membuat ketiga manusia itu menoleh ke sumber suara secara bersamaan. "Selamat pagi, Pak Stevan. CEO Prayoga Group, saudara ti-ri-ku." Kevin mencoba menyapa Stevan, namun tetap berusaha merendahkan saudara tirinya itu. Stevan menyeringai, ia tak menyangka kalau Kevin akan datang ke kantor. Langkah Kevin terhenti ketika melihat Sena. Wajah cantik Sena mampu mencuri perhatiannya. Ia menatap Sena sangat lama, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Segala yang Sena pakai begitu pas, enak dipandang dan wajah Sena begitu cantik dan menarik. Apa yang dilakukan Kevin membuat Stevan marah, pria itu tak suka jika saudara tirinya memandangi Sena dengan tatapan itu. "Kamu lagi mabuk?" tanya Stevan yang mencoba mengalihkan fokus Kevin. Bukannya menjawab Stevan, Kevin malah mendekati Sena. Wanita itu tampak ketakutan. Riyan memperhatikan Kevin dengan seksama, berharap kalau pria muda itu tak akan menyentuh Sena. Ia tahu betul kenapa Stevan membanting ponselnya lagi. Kalau Kevin sampai menyentuh Sena, kemarahan Stevan tak akan terelakkan. Dan yang pasti, sang CEO akan menggunakan tinjunya untuk memberi pelajaran pada pria yang berani menyentuh wanitanya. Masalah akan semakin rumit kalau Stevan sampai bermain kasar pada saudara tirinya itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN