Nàfsu?

1105 Kata
Maaf kemarin nggak up, aku sakit. . Ini bukan kali pertama Stevan menciumnya, menikmati bibirnya yang kenyal. Namun, Sena merasa risih karena ini adalah kali pertama atasannya itu melakukannya di kantor. Gadis itu takut. Ya, Sena hanya tidak ingin kalau orang-orang kantor mengetahui statusnya itu. Status sebagai wanita dari CEO tampan dan kaya raya, yang berhak atas segala yang ada pada dirinya, termasuk tubuhnya. Ciuman itu tak berlangsung lama. Stevan melepas ciumannya, menyadari kalau tak seharusnya ia melakukan hal tersebut di kantor. Walau ia tahu, kalau ia adalah pemimpin di kantor itu. Namun, Stevan tak ingin citranya sebagai CEO yang teladan harus tercoreng jika para karyawannya tahu apa yang ia lakukan dengan Sena. Sena masih terdiam, dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia pikir, Stevan akan kembali melumàt bibirnya. Nyatanya, pria itu hanya menatapnya dengan lekat. "Kamu mau terus duduk di pangkuanku?" tanya Stevan lirih. Sena terkejut, seketika saja ia berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Siapa yang menarikku sampai aku terduduk di pangkuanmu?" batin Sena. Stevan mengeluarkan bungkus rokoknya lalu mengambil sebatang rokok. Ia menyalakan korek api untuk membakar ujung rokoknya. Perlahan ia menyesap rokok, lalu meniupkan asapnya ke hadapan Sena. "Suruh Riyan atur ulang jadwalku hari ini. Aku mau tidur, 1 jam aja." Stevan menatap Sena, masih dengan kepulan asap rokok di hadapannya. Sena hanya bisa diam, ia tak akan pernah berani menegur atasannya itu. "Baik, Pak." Sena keluar dari ruangan Stevan, lalu mencari Riyan. Pria itu tengah sibuk mencari informasi mengenai Kevin. Walaupun tak diberi tugas secara langsung oleh Stevan, Riyan selalu mencari tahu apa saja yang Kevin lakukan. Dengan begitu, segala macam kesalahan Kevin bisa Stevan manfaatkan untuk menyerang saudara tirinya itu di suatu hari. Riyan tahu betul, kalau Stevan tak akan tinggal diam setelah semua yang Danu lakukan padanya. "Pak Riyan, Pak Stevan mau tidur 1 jam. Beliau minta agar Bapak mengatur ulang jadwalnya hari ini." Suara Sena membuat Riyan menghentikan aktivitasnya. Pria itu memasukkan ponselnya yang sedari tadi ia gunakan untuk mencari informasi mengenai Kevin ke dalam saku jasnya. "Kok cuma bentar?" tanya Riyan yang kini menatap Sena dengan seringai di wajahnya. Sena sendiri kebingungan mendengar pertanyaan Riyan. "Apanya?" Sena mencoba bertanya langsung. "Bukannya pria itu menciummu?" jawab Riyan yang mampu membuat Sena tertegun. Sena bingung, bagaimana bisa Riyan tahu kalau Stevan menciumnya. Apa Stevan terlebih dahulu memberi tahu Riyan. Atau apakah Stevan sudah terbiasa mencium wanita di kantornya? Berbagai pertanyaan semakin memenuhi kepala Sena. "Ba-bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Sena yang tak lagi menggunakan bahasa formal. Riyan menyeringai, ia merasa puas karena bisa menebak apa yang dilakukan sahabat sekaligus atasannya itu. "Menurutlah saja ya, jangan buat dia marah. Aku udah sakit semua dia pukuli," ucap Riyan sambil menepuk pundak Sena. Pria itu lalu berlalu meninggalkan Sena yang semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. . Di tempat lain, ayah Sena merasa kesepian berada di penginapan yang asing untuknya. Segala keperluannya terpenuhi, baik makanan, pakaian dan bahkan uang. Sayangnya, ia merasa kesepian. Tak ada lagi istri yang menemaninya, walau ia tahu wanita itu hanya membuat hidupnya semakin sengsara saja. Namun, nyatanya ia merasa kehilangan dan memiliki niatan untuk mencari tahu kabar tentang ibu tiri Sena itu. "Gimana kalau Sena marah? Apa yang akan aku katakan. Selama ini dia sudah banyak menderita." Pria itu ragu, ia dilema. Ingin sekali ia menemui istrinya, namun ia juga tak ingin menyakiti perasaan Sena. . . Selama Stevan tidur, Sena memilih mendekati Riyan yang sibuk di meja kerjanya. Gadis itu ingin mengorek informasi mengenai Kevin, pemilik saham yang sama besarnya dengan Stevan. "Pak Kevin itu siapa?" tanya Sena tanpa basa-basi. Ia bertanya dengan berbisik, berharap suaranya tak dapat didengar oleh siapa pun selain Riyan dan dirinya sendiri. Riyan menghentikan pekerjaannya, menautkan jemari kedua tangannya dan menatap Sena dengan seksama. "Kamu jujur dulu sama aku, kamu sama Stevan tadi ngapain aja?" Bukannya menjawab pertanyaan Sena, Riyan malah memberi pertanyaan pada gadis itu. Ya, Riyan masih penasaran kenapa Stevan tak menahan Sena lebih lama lagi. Sementara Riyan tahu, sahabatnya itu tengah diserang hawa nàfsu yang luar biasa. Karena baru kali ini Riyan menerima pukulan hanya karena sahabatnya itu tak bisa mengontrol pikiran mesùmnya. "Ha?" tanya Sena dengan kerutan di dahinya. "Kalau kamu nggak mau jawab ...," ucap Riyan terpotong, ia mencoba memancing rasa penasaran Sena demi memuaskan rasa penasarannya. "aku nggak akan mau kasih tahu informasi apapun lagi sama kamu," ancam Riyan. Sena tampak kecewa, ia mengembuskan nafas kasar. "Kan tadi udah tahu kalau dia cium aku. Mau tahu apa lagi?" tanya Sena ketus. Lagi-lagi ia tak menggunakan bahasa formal, tentu saja karena ia merasa kesal. "Ya udah kalau nggak mau kasih tahu." Riyan masih ingin mengancam Sena, ia mencoba mengabaikan Sena. Gadis itu menaikkan ujung bibir kirinya, sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. "Saya nggak bohong, Pak. Beliau cuma cium saya, sebentar aja. Terus habis itu nyuruh saya buat bilang sama Pak Riyan kalau Pak Stevan mau tidur dulu." Sena berusaha melunak, walau sebenarnya ia malu setengah mati menceritakan apa yang sudah Stevan lakukan padanya. "Serius? Dia nggak gepre-gepre kamu? Pegang nenèn kamu? Atau ...." Sena menggeleng dengan cepat. "Nggak!" jawabnya tegas. Matanya pun membulat sempurna, membuat Riyan yakin kalau Sena tak berbohong. Kali ini Riyan mengernyitkan dahinya, ia merasa aneh pada sikap sahabatnya itu. "Buat apa dia nyuruh aku keluar kalau cuma buat cium kamu?" batin Riyan. "Kevin itu anaknya Pak Danu, saudara tiri Pak Stevan. Kerjaannya cuma main, tapi Pak Danu kasih dia saham yang sama besar dengan Pak Stevan. Tapi selama ini, saham Pak Danu-lah yang paling besar. Bagaimana pun, Pak Danu adalah pemilik perusahaan ini." Riyan mulai berbicara serius, mencoba menjelaskan secara rinci tentang siapa Kevin pada Sena. "Tapi, setelah rapat tadi, saham Pak Danu kalah jika dibandingkan dengan saham Pak Stevan. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba Pak Danu kasih saham tambahan untuk anak-anaknya. Mungkin itu yang buat mood Pak Stevan hancur pagi ini. Makanya aku minta sama kamu, turuti apapun yang dia minta. Kamu nggak kasihan lihat aku dipukuli sampek babak belur begini?" Sena akhirnya bisa bernafas lega. Berkat penjelasan dari Riyan, ia akhirnya tahu apa yang terjadi. Alasan kenapa Stevan memukuli Riyan pagi tadi dan kenapa sikap Stevan sulit dimengerti, walaupun dugaannya tak sepenuhnya benar. Di tempat lain, bukannya tidur, Stevan sibuk bermain game di ponselnya. Ia berusaha keras untuk mengalihkan fokus pikirannya, tentu saja agar tak memikirkan tentang Sena lagi. Bahkan setelah hampir satu jam berlalu, pikirannya masih saja dipenuhi oleh Sena. Ia begitu bernàfsu ingin melampiaskan hasràtnya itu. Stevan melempar ponselnya, lagi-lagi ponselnya pecah karena lemparan keras darinya. "Haruskah aku tidurin aja dia? Biar aku nggak penasaran begini. Argh, ganggu konsentrasiku aja kalau begini. Tahu gitu aku nggak akan biarin dia masuk ke kehidupan aku." Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN