Cerita ini akan update rutin mulai sekarang. Jangan lupa pantengin setiap hari ya.
.
.
Setelah keluar dari ruang rapat, Stevan langsung menuju ke ruang kerjanya. Ia berjalan santai, walau di dalam hatinya sedang berkobar api amarah yang begitu besar.
"Dasar tua bangk@! Manjain aja anak kamu sampai mati. Lihat apa yang bisa aku lakuin kalau kesabaran aku sudah habis!" ucap Stevan lirih.
Sesampaianya di ruangan, Stevan melepas jas dan melemparnya asal sampai jas berwarna hitam itu teronggok di lantai. Pria tampan itu kini merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang kerjanya.
Stevan mengembuskan nafas panjang. Tangan kanannya melingkari kepalanya dan menutupi sebagian wajahnya.
"Ma, bersyukurlah karena kamu masih bisa berkumpul dengan pria yang kamu cintai."
Stevan memikirkan ibunya-Rita. Ia sadar kalau ia tak bisa memaksa ibunya untuk berpisah dengan Danu.
Setelah keluarnya Stevan dari ruang rapat, kondisi ruang rapat langsung berubah menjadi hening. Tak ada yang berani membuka mulutnya. Bahkan untuk bernafas saja, setiap orang seperti menahannya agar tak mengeluarkan suara.
Sena dan Riyan juga hanya diam. Riyan bersikap santai karena ia tahu pasti tentang sikap Danu yang selalu berpihak pada Kevin. Sementara Sena, ia sibuk mengamati setiap wajah yang ada di ruangan tersebut.
Sena melihat Riyan yang tampak santai, sambil mengernyitkan dahinya. Otaknya berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Stevan bisa bersikap kasar pada ayahnya sendiri.
Danu mengakhiri rapat tanpa banyak basa-basi. Setelah itu Sena dan Riyan kembali ke ruang kerja Stevan. Di mana CEO tampan itu kini tengah merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata yang masih tertutup.
Riyan mengetuk pintu, walau tak ada jawaban dari Stevan, pria itu tetap masuk. Sena mengikutinya tanpa berkata apapun. Ia sudah begitu penasaran dan ingin melihat apa yang dilakukan Stevan.
Sena merasa lega. Ternyata pria yang kini menjadi bosnya itu hanya rebahan saja. Sementara wanita itu mengira kalau Stevan bisa saja mengobrak-abrik ruang kerjanya, mengingat apa yang sudah terjadi tadi pagi.
"Rapat sudah selesai, Pak. Pak Danu langsung pulang." Riyan melangkah mendekati Stevan. CEO tampan itu hanya diam.
"Apa saya perlu membatalkan semua jadwal Bapak hari ini? Atau memundurkannya saja?" tanya Riyan yang merasa bingung. Ia tahu Stevan pasti kecewa dengan keputusan Danu. Itu sebabnya ia ingin memastikan apakah Stevan ingin rehat terlebih dahulu atau tidak.
Stevan menyingkirkan tangan kanannya yang sedari tadi menindih sebagian wajahnya. Ia lalu melirik Sena yang sedari tadi hanya diam saja. "Kamu, keluar sana. Bikinin aku kopi."
"Eh, iya. Iya, Pak." Sena merasa gugup tanpa alasan. Ia kemudian keluar dari ruangan Stevan untuk menjalankan perintah Stevan.
Setelah Sena keluar, Stevan duduk dan menatap telapak tangannya dengan seksama. Ia membolak-balikkan tangan kanannya sambil mengamatinya dalam diam. Riyan bingung dengan apa yang dilakukan atasannya itu. Bukannya menjawab pertanyaannya, bos sekaligus temannya itu malah sibuk memperhatikan tangannya.
"Kami nggak punya hubungan," ucap Stevan lirih.
"Apa?" tanya Riyan yang merasa kebingungan.
"Lihat, tanganku ini nggak ada hubungannya sama Sena. Tapi kenapa, pas aku sentuh d**a dia, bisa-bisanya juniòrku berdiri. Hubungannya apa?!" Stevan bertanya dengan volume suara tinggi. Sementara Riyan membuka mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Riyan pikir Stevan tengah kecewa dengan Danu. Nyatanya, pria itu malah memikirkan Sena. "Kalau kamu bukan atasanku, aku pasti sudah minta orang buat nyerang kamu."
Stevan melirik Riyan, menyeringai dengan tatapan mautnya.
"Apa Bapak serius? Saya kira Pak Stevan memikirkan masalah saham barusan. Tapi...," ucap Riyan terputus.
"Tapi apa?" tanya Stevan penasaran, "tapi ternyata Bapak masih bodoh seperti tadi pagi. Apa saya perlu ajarin Bapak tentang ilmu reproduksi?"
Pertanyaan Riyan mampu membuat Stevan merasa malu. Sekali lagi Stevan merasa ingin memukuli Riyan karena rasa malunya. Namun pria itu mencoba menahannya. Ia hanya mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya, matanya menatap Riyan dengan tajam.
Riyan sendiri terlihat frustrasi. Atasan yang ia anggap serba bisa itu nyatanya tak pandai dalam urusan wanita. "Selama ini saya pikir Bapak adalah sebuah paket lengkap untuk seorang pria. Muda, tampan, pintar, kaya raya. Tapi, nyatanya masih punya kekurangan. Itu membuktikan kalau Bapak ini hanya manusia biasa."
"Kamu mau aku pecat, atau mau aku pukuli?" tanya Stevan yang semakin jatuh dalam perasaan malunya.
"Saya masih punya cicilan rumah, jadi saya akan memilih dipukuli." Riyan mencoba bersikap santai, walau sebenarnya ia takut kalau Stevan akan memukulinya lagi kali ini. Tidak perlu dipertanyakan, pukulan Stevan tentu saja meninggalkan rasa sakit yang amat sangat. Pria itu adalah mantan gangster, tangannya sudah melakukan berbagai jenis pukulan pada banyak manusia lain. Mengenai kekuatannya, tentu tidak diragukan lagi.
Tepat ketika Stevan beranjak, Sena mengetuk pintu. Wanita itu langsung masuk, sambil membawa secangkir kopi.
Sena terkejut melihat Stevan yang kini sudah berdiri tegak itu. Stevan memang hendak memukul Riyan. Bukan karena marah, ia hanya merasa malu. Bukannya membantunya menjawab pertanyaannya, sekretaris sekaligus sahabatnya itu malah meremehkannya.
"Kopinya, Pak." Sena meletakkan kopi di meja yang ada di depan Stevan. Stevan kembali duduk setelah mengembuskan nafas panjang.
Riyan menahan tawanya, ia merasa menang pada sahabatnya itu. "Dasar bodoh," batin Riyan.
Stevan dan Riyan adu tatap. Sementara Sena melihat keduanya secara bergantian.
Bingung. Sena benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentang Stevan yang memukuli Riyan. Tentang Danu yang memberikan Stevan tambahan saham. Dan juga tentang Kevin, orang yang tak ada di kantor itu namun memiliki saham yang sama dengan Stevan.
"Keluar," ucap Stevan, matanya masih menatap Riyan. Sahabatnya itu hanya menyeringai, lalu menunduk sesaat sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu dengan tenang.
Stevan lalu menatap Sena. Wanita itu mengedipkan matanya berkali-kali. Pria yang ia kenal sejak duduk di bangku SMA, pria yang selalu ia takuti dan pria yang kini menjadi pemiliknya, tengah melakukan hal yang membuatnya begitu kebingungan.
"Kemari." Stevan menggerakkan dagunya, meminta Sena agar duduk di sampingnya.
Sena mendekati Stevan dan berniat duduk di sampingnya. Namun ketika Sena sudah berdiri di dekat Stevan, pria itu menariknya sampai Sena terduduk di paha sang CEO. Sena membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilakukan Stevan.
Sena tak menyangka kalau Stevan akan bersikap seintim itu ketika mereka sedang berada di kantor. "Pak, kita masih di kantor."
"Lalu?"
"Gimana kalau ada yang lihat?"
"Kamu lupa? Aku CEO-nya!" ucap Stevan yang kini sudah menarik tengkuk Sena agar ia dengan leluasa menikmati bibir wanita itu.
Sena membuka matanya lebar-lebar, saat bibir Stevan sudah melumàt bibirnya dengan liar.
Sena mengepalkan kedua tangannya. Ia masih tak tahu kenapa Stevan tiba-tiba menciumnya. Ia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa diam, menerima apapun yang dilakukan pemiliknya, pria yang bisa memberinya uang agar ia terlepas dari kemiskinan.
Bersambung...