Cerita ini aku up santai ya, sambil nunggu kontrak turun. Jangan lupa tap love biar buru dikontrak.
.
.
.
Stevan malu bukan kepalang. Selama ini di dalam otaknya hanya memikirkan pekerjaan, ibunya dan hidup bebas dari Danu. Ia sama sekali tak pernah menghiraukan wanita-wanita cantik yang selalu menempel padanya. Namun, sejak bertemu kembali dengan Sena, pikiran kotor Stevan mulai menguasainya.
"Keluar sana!" titah Stevan pada Riyan. Antara malu dan kesal. Yang Stevan ingin lakukan sekarang adalah menjinakkan adiknya yang tengah meradang itu.
"Pakai sabun aja, begini."
Riyan mempraktekkan gerakan tangan yang membuat Stevan semakin malu. Stevan hendak memukul sahabatnya itu, namun Riyan buru-buru keluar ruangan.
Sesampainya di luar, Riyan mendapati Sena yang masih ketakutan. "Kita ke ruang rapat aja. Pak Stevan nanti akan nyusul." Riyan mencoba bersikap santai, walau sebenarnya ia malu karena kelakuan aneh Stevan.
Riyan berjalan meninggalkan ruangan Stevan dengan santai, seperti tak ada yang terjadi. Sementara Sena hanya diam dan mengikuti Riyan. Ia menyesuaikan langkahnya dengan langkah Riyan. Sesekali matanya melirik ujung bibir Riyan yang tampak lebam akibat pukulan Stevan.
Sena masih sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara Stevan dan Riyan. Wanita itu kebingungan, namun ia tak berani bertanya lebih jauh.
Sementara Stevan sendiri, ia memilih meregangkan ototnya di ruangannya. Demi mengalihkan pikiran mesumnya. Pria yang menjabat sebagai CEO itu kini sudah mandi keringat. Berbagai gerakan ia lakukan demi mengalihkan pikirannya yang kotor itu. Mulai dari sit up, push up dan lain sebagainya.
Tak butuh waktu lama, Stevan yang sudah mandi keringat itu langsung mengelap tubuh dan wajahnya menggunakan handuk. Ia kemudian segera menuju ke ruang rapat setelah kembali berpakaian rapi.
Sena mengernyitkan dahinya, ia tak tahu rapat apa yang akan diadakan untuk bosnya itu. "Kenapa ada banyak orang?" tanya Sena dengan berbisik di samping telinga Riyan.
Riyan menoleh ke Sena, "Pak Danu akan kasih Pak Stevan saham tambahan."
"Pak Danu siapa? Terus artinya apa?" tanya Sena lagi, namun kali ini ia tak berbisik. Sena hanya berbicara pelan sambil melihat ada banyak orang di ruang rapat itu.
Riyan tersenyum, "Pak Danu pendiri dan pemilik perusahaan ini, sekaligus ayah dari Pak Stevan. Kalau saham Pak Stevan ditambah, kekuasaan Pak Stevan juga bertambah. Lebih unggul dibanding Pak Kevin."
Riyan mencoba menjelaskan pada Sena sebisanya. Namun wanita itu masih belum paham apa yang disampaikan tangan kanan Stevan itu.
"Pak Kevin siapa lagi?" tanya Sena lagi. "Udahlah, pelan-pelan aja. Kayak lagunya Kotak, pelan-pelan saja," sahut Riyan sambil menirukan lagu milik salah satu Group Band papan atas dengan suara lirih.
Sena menyeringai, ia tahu betul kalau Riyan suka bercanda. Sementara pikirannya sudah dipenuhi banyak pertanyaan. Mulai dari kenapa Stevan marah tadi pagi, dan siapa Danu serta Kevin. Ia pernah membaca artikel mengenai keluarga Stevan, namun ia tak sepenuhnya paham. Yang wanita itu tahu, Stevan adalah CEO muda yang sukses.
Ketika Danu tiba di ruangan, semua orang yang ada di ruangan itu berdiri dan menyapanya dengan segala hormat. Sena ikut berdiri, membungkuk dan tersenyum tanpa tahu apa yang ia lakukan. Danu datang dengan pengacaranya, lalu duduk di kursi utama yang ada di ujung meja.
"Di mana Stevan?" tanya Danu setelah ia duduk dan mendapati kalau anak tirinya itu belum hadir di ruangan itu. "Biar saya panggilkan." Riyan berdiri seketika.
"Nggak perlu," ucap Stevan yang muncul tiba-tiba, rambutnya tampak basah. Tentu saja basah karena keringat.
Stevan duduk di kursi yang paling dekat dengan Danu. Pria itu sama sekali tak menatap wajah ayah tirinya dan duduk dengan sikap dinginnya. Sementara pandangan Danu tak terlepas dari anak tirinya.
Danu menyeringai, "Kamu berani datang terlambat?" tanya Danu dengan tatapan mematikan.
"Aku bukan anak manja yang kerjaannya cuma makan, tidur dan ngabisin duit orangtua. Aku sibuk kerja, mikirin gimana perusahaan biar nggak gulung tikar. Karena cuma aku di sini yang kerja." Stevan menyerang Danu dengan kata-katanya yang tak bisa Danu balas. Ada banyak mata yang memperhatikan mereka sejak awal.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Danu memberikan saham yang sama untuk Stevan dan Kevin. Namun hanya Stevan yang banting tulang mengurus perusahaan. Sementara Kevin sama sekali tak pernah mau ikut bekerja. Anak kandung Danu itu hanya suka menghabiskan uang dengan berpesta dengan teman-temannya.
Walau bukan lagi rahasia, Danu serasa malu ketika Stevan membahas mengenai Kevin di ruang rapat ini. Wajah Danu memerah, ia meradang sejadinya. Namun ia hanya bisa diam pada anak tirinya itu.
Sena merasa takut bukan main. Suasana di ruang rapat itu memanas seketika.
"Kita mulai rapat ini." Danu memulai rapat sekaligus mengakhiri perdebatannya dengan Stevan. Stevan menyeringai.
"Seperti yang sudah saya informasikan. Dalam rapat kali ini, saya akan memberikan sebagian saham saya untuk Stevan. Saya ingin mengapresiasi usahanya selama ini. Dan semoga ke depannya perusahaan yang saya rintis dari nol ini akan semakin maju dan memberikan kehidupan bagi banyak orang."
Tepuk tangan menyambut ucapan Danu seketika. Riyan dan Sena ikut bertepuk tangan, namun tidak dengan Stevan. Pria itu hanya menyeringai, seperti tahu kalau ayah tirinya itu tak mungkin akan membiarkannya unggul dibanding saudara tirinya.
"Namun, sebagai ayah yang adil. Saya juga akan memberikan saham tambahan untuk Kevin. Anak saya yang sampai saat ini masih belajar di rumah. Dia masih perlu banyak belajar sehingga belum bisa terjun langsung di kantor ini." Danu kembali membuat suasana ruang rapat memanas.
Tak ada yang berani bertepuk tangan. Semua mata tertuju ke Stevan. Hingga tepukan keras dilakukan oleh Stevan seorang. Ia bahkan tertawa terbahak-bahak mendengar keputusan ayah tirinya.
"Ayo, tepuk tangan," pinta Stevan, Sena dan Riyan saling adu tatap dan ikut bertepuk tangan pelan. Barulah orang-orang di ruangan itu ikut bertepuk tangan karena merasa takut dengan Stevan.
"Wah, Papa ternyata baik sekali, ya. Kasih aku saham tambahan, padahal Papa belum MATI." Stevan sengaja menekan kata 'mati' dengan tatapan menakutkan.
"Lihatlah, kalian bisa nilai sendiri. Papa aku itu baik banget. Aku kerja banting tulang, peres otak, dikasih saham tambahan. Padahal aku nggak minta. Bahkan buat anak yang kerjaannya cuma mabok, ngabisin duit buat tidurin cewek sana-sini, dikasih saham yang sama kayak aku. Baik banget." Stevan kembali bertepuk tangan.
"Aku akan bantu Papa buat dapetin penghargaan sebagai ayah terbaik sepanjang sejarah. Atau, sebagai ayah tiri terbaik sepanjang masa?" lanjut Stevan. Danu meradang, ia malu setengah mati. Namun ia hanya bisa diam. Danu takut kalau Stevan akan membawa Rita pergi dari hidupnya.
"Lakuin apapun yang Papa mau. Pagi ini aku lelah, aku akan biarin Papa lakuin apapun yang Papa inginkan. Tapi ingat, lain kali aku nggak akan diam lagi." Stevan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang rapat dengan emosi memuncak.
Stevan marah. Tentu saja, ia sudah tahu kalau Danu tak akan mungkin memberikan saham lebih untuknya begitu saja. Namun dengan saham tambahan untuknya, permintaan Rita sudah terwujud. Dan Stevan tak bisa memaksa Rita menceraikan Danu begitu saja.
Sampai detik ini, Stevan masih percaya kalau Rita cinta mati pada Danu.
Sementara Riyan, ia hanya bisa menyeringai. "Kamu lelah c**i? Sok cool kamu." Riyan membatin sambil melihat kepergian Stevan dari ruangan itu.
"Kamu lelah kenapa?" batin Sena, ia merasa khawatir pada Stevan. Ia merasa mood Stevan hancur sejak kedatangan mereka di kantor. Sena bingung, sementara di rumah tadi sikap Stevan masih menyebalkan seperti biasa.
Bersambung...