"Maaf kalau saya membuat Anda marah, Pak." ucap Riyan yang sebenarnya masih bingung kenapa Stevan tiba-tiba marah dan menggebrak meja.
Riyan adalah tangan kanan Stevan yang sering bersikap kurang ajar pada Stevan karena status pertemanan mereka. Namun, jika Stevan sudah marah, Riyan tak pernah berani menyela atau melawan. Yang bisa Riyan lakukan hanyalah meminta maaf, walau ia sendiri tak tahu apa yang membuat Stevan marah.
Sena yang baru saja masuk ke ruangan itu, ikut terkejut melihat Stevan yang menggebrak meja dengan sangat keras. Kini, ia hanya berani berdiri di depan pintu sambil melihat ekspresi Stevan yang siap menerkamnya.
Stevan melirik ke arah Sena, Sena hanya berani menunduk karena begitu takut nelihat Stevan yang sedang naik darah. Riyan ikut menoleh ke arah Sena, ia mulai sadar kalau Stevan mungkin sedang marah pada gadis cantik itu.
"Saya permisi dulu, Pak." ucap Riyan lirih, ia memberi waktu agar Stevan menyelesaikan masalahnya dengan Sena.
"Masuklah." perintah Riyan pada Sena sebelum ia meninggalkan ruangan itu.
Sena melangkah mendekat ke meja Stevan, Riyan menutup pintu ruang kerja Stevan lalu menunggunya di depan pintu agar tak ada yang menguping.
"Kamu sengaja?" tanya Stevan lirih, Sena masih kebingungan. Sena tak tahu apa yang membuat Stevan begitu marah padanya. Sebelumnya pria itu marah karena ia berlari-lari, dan kini Stevan bahkan menggebrak meja sampai meja kerjanya retak.
"Maafkan saya, Pak. Saya bodoh, saya nggak tahu saya salah apa." sahut Sena yang memilih jalan aman yaitu dengan meminta maaf walaupun ia tak tahu apa yang membuat Stevan marah.
Stevan menggigit bibirnya, menahan malu dan bingung yang bercampur menjadi satu. Bagaimana ia bisa mengatakan kalau dirinya sedang menegang hanya karena kejadian tak sengaja di lobi tadi. Stevan berpikir kalau Sena akan menertawakannya kalau ia mengaku jujur.
"Argh! Sana keluar!" teriak Stevan yang semakin membuat Sena ketakutan.
Riyan mendengar teriakan Stevan, ia segera membuka pintu agar Sena bisa keluar dari ruangan itu. Tak lama kemudian, Stevan berdiri lalu berjalan mendekati Riyan.
Riyan mengembuskan nafas panjang, ia sadar kalau kali ini ia akan menjadi santapan bagi Stevan lagi.
"Ini masih pagi, Stev." ujar Riyan sambil menggerakkan tubuhnya agar tak terkena tinju Stevan.
Ya, kini Stevan memilih adu kekuatan dengan Riyan. Walaupun sudah jelas kalau ia yang akan menang, Stevan hanya butuh tempat pelampiasan segala emosinya.
Ini bukan kali pertama bagi Riyan, ia sudah sangat terbiasa menerima pukulan-pukulan dari Stevan. Semakin lama ia bekerja dengan Stevan, ia mulai belajar. Bukan belajar membalas pukulan Stevan melainkan belajar menghindari pukulan Stevan. Riyan sadar, seberapa keras pun ia berlatih, ia tak akan bisa menang melawan kekuatan Stevan yang terbiasa adu jotos sejak belia itu. Namun, dengan menghindar setidaknya ia hanya akan menerima beberapa pukulan saja dibanding harus diam pasrah.
Sena menunggu di luar ruangan, ia memainkan jemarinya karena merasa takut. Ia tahu kalau Stevan sedang memukuli Riyan di dalam ruangan mewah itu.
Ketika mendengar suara keras, Sena sadar kalau itu pasti suara Riyan akibat dipukuli Stevan. Wanita itu akhirnya membuka pintu ruang kerja Stevan dan mencoba menghentikan aksi sang CEO.
Sena melihat Riyan yang tersungkur di lantai, sementara Stevan berjalan hendak mendekati Riyan. Sebenarnya Stevan sudah merasa puas, melampiaskan emosinya pada Riyan. Ia berniat membantu Riyan berdiri, namun Sena malah mengira kalau Stevan akan memukuli Riyan kembali.
Sena berlari lalu memeluk Stevan dan membenamkan wajahnya di d**a pria yang kini jadi atasannya itu. Sena berharap dengan ia menyembunyikan wajahnya itu, ia tak akan dipukuli Stevan dengan mudah.
Stevan begitu terkejut, sang adik yang akhirnya melemas, kini kembali menegang. Dengan susah payah ia mencoba mengalihkan pikiran mesumnya. Namun lagi-lagi Sena membuat batang kejantanannya kembali menegang dan meronta-ronta ingin diperhatikan.
Riyan menatap Sena dengan mulut menganga, ia tak habis pikir, bagaimana bisa Sena senekat itu. Riyan merasa seperti melihat drama antara 2 manusia yang saling suka namun tak bisa saling bersuara.
Stevan memegang kedua lengan Sena lalu mendorong Sena agar tak lagi menyentuh tubuhnya. Saking kuatnya, tubuh Sena bahkan hampir terjatuh. Untungnya, Sena yang sempat terhuyung itu mampu berdiri dengan tegak kembali. Ia begitu kaget dan takut kalau Stevan juga akan memukulinya, sama seperti yang Stevan lakukan pada Riyan.
Riyan berdiri, ia menghampiri Sena lalu melihat apakah Sena baik-baik saja.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Riyan lirih, Sena mengangguk beberapa kali sambil menatap Stevan. Pria itu malah membuang pandangannya karena ia merasa begitu tersiksa dengan kondisi bagian intinya yang mengeras tak terkendali.
"Keluarlah, aku nggak apa-apa." lanjut Riyan yang tak ingin melihat Sena ikut kena dampak dari kemarahan Stevan yang masih belum ia ketahui alasannya itu. Sena menatap wajah Riyan dengan seksama, ia bisa melihat ada bekas 2 pukulan di wajah Riyan.
"Kenapa Stevan mukul Riyan? Kenapa Riyan diam aja?" batin Sena yang rasanya enggan meninggalkan Riyan berdua saja dengan Stevan. Sena tak tahu kalau level persahabatan pada 2 manusia itu sudah tak bisa dijelaskan dengan nalar manusia normal.
"Keluarlah, aku nggak apa-apa." Riyan mendorong Sena pelan, wanita itu akhirnya berjalan keluar ruangan dengan terpaksa.
Riyan menutup pintu ruangan itu lalu menatap Stevan dengan penuh curiga.
"Kamu gila? Kurang puas kamu pukulin aku, jadiin aku tumbal pagi-pagi begini? Bisa-bisanya kamu main kasar sama cewek? Sebenernya apa masalah kamu? Ha? Ngomong!" ucap Riyan setengah berbisik agar Sena tak mendengar ucapannya. Riyan tahu, Sena masih berdiri di depan pintu.
"Aku nggak mukul dia, nggak usah lebay deh." jawab Stevan yang sebenarnya sadar kalau ia tadi sudah berbuat kasar pada Sena. Namun ia meyakinkan dirinya sendiri kalau perbuatannya tadi tak sepenuhnya salahnya. Sena yang tiba-tiba memeluknya dna membuat miliknya harus menegang kembali.
"Dari pada aku minta dia tanggung jawab buat ngelayani aku di ranjang, bukannya lebih baik aku dorong dia kan?" batin Stevan.
"Sebenernya apa masalah kamu? Ngomong, biasanya kalau kamu udah pukul aku, kamu pasti akan ngomong semuanya ke aku. Aku tahu kamu cuma butuh tempat buat ngelampiasin emosi kamu." ucap Riyan, ia masih penasaran tentang apa yang sudah membuat Stevan begitu emosi, bahkan pada Sena.
"Aku ..." ucap Stevan yang terputus,
"Aku apa?" tanya Riyan dengan setengah berteriak.
"Aku pengen bangs@t! Lihat, punyaku berdiri. Ini gara-gara dia meluk aku tadi." akhirnya Stevan mengaku, ia menunjuk miliknya yang berhasil membuat celananya terlihat sempit.
Riyan tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka hal sepele itu yang membuatnya harus menerima pukulan-pukulan dari Stevan.
"Kamu marah cuma gara-gara itu?" tanya Riyan setelah berhenti tertawa,
"Cuma? Aku tersiksa bangs@t! Aku harus gimana ini? Nggak mungkin aku paksa dia kan?" ucap Stevan yang masih merasa tersiksa oleh kondisinya saat ini.
"Yah, dikocok dong. Ya kali semua cowok begok kayak kamu. Astaga ..." ucap Riyan yang tak menyangka kalau atasan sekaligus sahabatnya itu memiliki pikiran yang begitu polos.
"Dikira semua cowok punya pasangan, enggak Bambang. Buat nyari kepuasan nggak harus ena-ena sama cewek, Bambang. Dikocok juga ntar muncrat." lanjut Riyan yang disambut dengan tatapan sinis Stevan.
"Aku nggak pernah ..." aku Stevan dengan ragu, ia malu namun tetap mengaku.
"Cari tutorialnya di Youtube! Atau kamu mau aku yang bantu kamu?" Riyan semakin puas meledek Stevan.
Bersambung...