Pacar bayaran

1093 Kata
Sena menuruni tangga dengan perasaan malu bercampur takut. Ia malu karena baru saja kepergok sedang berciuman dengan Stevan, oleh ibunya Stevan sendiri. Sena juga merasa takut kalau ia akan melakukan kesalahan sebagai pacar bohongan di depan ibunya Stevan. Sena mengambil nafas panjang, mencoba menetralkan perasaan gugupnya. Lalu dalam hitungan detik, Sena memasang seulas senyum di wajahnya. Sampai akhirnya Sena sampai di ruang makan, Rita memandangnya dengan wajah ceria. "Duduk sini, Sena. Stevan masih ganti baju?" tanya Rita yang sudah duduk manis di depan meja makan. Sena mengangguk lemah, tentu saja ia masih mempertahankan senyum palsunya itu. Sena duduk dengan perasaan gugup, ia berharap Rita tak banyak bertanya tentang hubungannya dengan Stevan. "Apa kamu sama Stevan pacaran? Atau kalian hanya berhubungan tanpa ada status yang jelas?" tanya Rita. Harapan Sena sepertinya musnah, Rita begitu terobsesi ingin mengetahui hubungan asmara anaknya. Rita sangat berharap kalau Stevan bisa menikmati hidup, memiliki kekasih, menikah dan punya anak. Namun, selama ini yang Rita tahu anaknya itu hanya kerja, kerja dan kerja. Belum lagi gosip mengenai Stevan yang menyukai sesama jenis, siapa lagi kalau bukan Riyan. "Sebenernya, aku sama Stevan pacaran, Bu." ucap Sena yang akhirnya menuruti apa mau Stevan. Rita tampak begitu senang, senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan. "Aku sama Stevan teman sekelas pas SMA dulu. Terus belum lama ini kami ketemu secara nggak sengaja. Stevan kasih aku kesempatan bekerja sama dia, dia juga minta aku jadi pacar dia." lanjut Sena dengan bahasa yang terdengar gugup tak karuan. Sena sendiri sadar kalau bahasanya terdengar aneh, ia hanya bisa menahan rasa malunya. Namun Rita seperti tak peduli karena baginya, Stevan memiliki pacar adalah sebuah keajaiban. Sejak kecil Stevan hanya berkelahi, ketika dewasa ia sibuk bekerja. Stevan tak pernah menghabiskan waktu dengan wanita mana pun, Rita sangat tahu tentang hal itu. "Jadi, bener kan kalau kalian pacaran?" tanya Rita meyakinkan, Sena mengangguk lemah. Rita tiba-tiba berdiri lalu memeluk Sena, Sena hanya bisa diam menerima perlakuan ibunda Stevan itu. "Ibu kamu baik, kenapa kelakuan kamu kayak iblis begitu?" batin Sena. "Ehem." Stevan yang menuruni tangga langsung berdeham ketika melihat ibunya memeluk Sena. Stevan tahu persis kalau ibunya sedang senang. Ia juga tahu kalau Sena akhirnya menuruti permintaannya untuk mengaku sebagai pacarnya. Rita langsung melepas pelukannya dan kembali duduk di bangkunya. Stevan yang baru datang langsung ikut duduk dan memandangi Sena dan ibunya secara bergantian. Sena sendiri mencoba bersikap dingin walau sebenarnya ia begitu gugup, takut kalau ia melakukan kesalahan yang hanya akan membuat dirinya dipecat. Stevan menendang kaki Sena, membuat wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar. Sena menatap Stevan dengan bingung. Sementara Stevan menggerakkan dagunya untuk menunjuk nasi. Sena sempat kebingungan, namun akhirnya ia sadar kalau Stevan ingin ia mengambilkan makanan untuk Stevan. Sena langsung mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk Stevan. Rita semakin bahagia melihat Sena yang begitu perhatian pada Stevan. "Ini sayang, nasinya mau tambah lagi?" ucap Sena, walau gugup ia mampu bersikap tenang. "Enggak perlu, kamu aja makan yang banyak. Aku nggak suka punya pacar yang terlalu kurus." sahut Stevan yang mencoba menekankan kalimat bahwa Sena adalah pacarnya. Ada perasaan senang yang menelusup di d**a Stevan, tapi ia sendiri masih bingung kenapa dan bagaimana bisa. "Iya, Sena makan yang banyak ya. Biar makin berisi tubuhnya, terlalu kurus itu nggak bagus juga." sambung Rita yang mencoba memberikan perhatian pada Sena. Ia sangat berharap Sena bisa menjadi menantunya. Tanpa berpikir panjang lebar, Rita begitu terobsesi untuk menikahkan Stevan dan Sena. Selesai sarapan, Stevan dan Sena langsung berangkat ke kantor. Rita sendiri sudah berpesan pada Stevan untuk menghubunginya nanti. Rita ingin tahu apakah Danu benar-benar akan memberi Stevan saham lebih, atau malah memilih bercerai darinya. Namun, apapun hasilnya, Rita sudah bersiap. Berkat kebahagiaan yang ia dapatkan dari status palsu anaknya, Rita berharap ia dapat hidup bahagia bersama Stevan, Sena dan cucu-cucunya nanti, walau mungkin ia tak lagi bia hidup bergelimang harta. . . "Ingat, di rumah kamu pacar aku. Tapi di kantor, kamu hanya asisten aku." ucap Stevan kepada Sena sebelum mereka turun dari mobil. Sena tak lagi kaget mendengar ucapan dari Stevan. Apapun perannya, ia hanya bisa menuruti sesuai permintaan Stevan. Tanpa mendengar jawaban dari Sena, Stevan langsung turun dari mobil. Sena berlari mengikuti langkah Stevan yang sulit ia susul. Sampai akhirnya Sena tersandung dan membuatnya teriak, seketika saja Stevan menoleh ke belakang dan menangkap Sena yang hampir terjatuh. Sayangnya, tangan kiri Stevan mendarat tepat di buah d**a Sena, membuat keduanya sama-sama terkejut. Sena merasa ada sengatan listrik yang mengalir di dalam tubuhnya. Untuk berciuman, Sena sudah sering melakukan dengan beberapa mantan pacarnya dulu. Namun Sena tak pernah membiarkan ada pria mana pun menyentuh dadanya apalagi bagian intinya. Bagi Stevan, ini juga adalah kali pertamanya, tangannya bisa menyentuh buah d**a wanita walau hanya dari luar kemeja dan bra. Stevan langsung melepaskan tangannya dari tubuh Sena. Sena sendiri berdeham beberapa kali untuk menghilangkan perasaan gugupnya. Untung saja kondisi di lobi sedang sepi, tak ada yang memperhatikan tragedi memalukan itu. Sena berusaha bersikap biasa, sayangnya tragedi tersebut menjadi petaka bagi Stevan. Sang adik tiba-tiba menegang setelah ia merasakan betapa empuk dan kenyalnya buah d**a milik Sena. Walaupun tangannya tak bisa menyentuh secara langsung, Stevan sangat menikmatinya. Stevan akhirnya meninggalkan Sena begitu saja ketika ia sadar celananya menjadi sesak. Sena kembali berlari menyusul Stevan, pria itu tiba-tiba berhenti melangkah dan menengok ke belakang. "Kamu mau jatuh lagi?" teriaknya, ia masih merasa kesal karena tak tahu harus bagaimana untuk mengatasi batang kejantanannya yang masih menegang itu. Sena yang tak tahu apa-apa memilih meminta maaf berkali-kali. "Maafkan saya, Pak." ucap Sena berkali-kali. Stevan menelan salivanya ketika pikirannya sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Tanpa sadar ia memandangi tubuh Sena dari atas sampai bawah. Stevan kembali pergi meninggalkan Sena sambil merutuki dirinya sendiri. "Dasar bangs@t, pagi-pagi udah omes aja sih. Nggak biasa-biasanya!" gerutu Stevan. Sesampainya di ruangannya, Riyan sudah menunggu Stevan dengan tumpukan dokumen di meja. Stevan duduk dengan gusar, ia mencoba memejamkan matanya untuk menetralkan pikirannya yang sedang membayangkan hal yang tak seharusnya ia bayangkan. "Selamat, Pak. Pak Danu sepertinya akan memberi saham tambahan untuk Anda." ucap Riyan setelah ia membaca pesan dari Danu mengenai rapat dadakan nanti siang, yang akan membahas mengenai pemberian saham tambahan untuk Stevan. Brak! Bukannya senang, Stevan malah menggebrak meja kerjanya. Meja yang terbuat dari kaca itu bahkan sampai retak. Riyan kaget bukan kepalang, ia pikir Stevan akan menyukai informasi yang ia sampaikan. Sementara Stevan sendiri sebenarnya tak mendengarkan ucapan Riyan. Ia marah pada dirinya sendiri karena pikiran mesumnya. Ketika ia memejamkan mata untuk bisa mengontrol hawa nafsunya, bayangan Sena malah muncul di benaknya. Stevan membayangkan Sena yang tampil dengan pakaian seksi, hal itu semakin membuat Stevan sulit mengendalikan sang adik. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN