Sena begitu terkejut, ia tak menyangka kalau Stevan akan langsung menciumnya. Sena juga merasa bingung, kenapa Stevan menciumnya lagi walau sering mengatakan kalau ia bukanlah seleranya. Walau begitu, Sena hanya bisa pasrah dengan apa yang Stevan lakukan padanya.
Stevan menyesap kuat-kuat bibir Sena, menikmati kenyalnya bibir lembut yang sudah dipoles lipstick merah jambu itu. Tangan kiri Stevan memegang kepala Sena dan tangan kanan Stevan sudah memegang erat pinggang Sena.
Tiba-tiba saja Stevan melepas ciumannya, Sena pikir ia akan lepas setelah itu.
"Aku udah bilang kan, bales ciuman aku. Kamu perlu kuajari bagaimana caranya berciuman yang benar?" ucap Stevan tepat di depan wajah Sena, wanita itu hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali. Tentu saja nafasnya sudah terdengar tak beraturan.
Sena baru sadar kalau ia baru saja melakukan kesalahan. Ia tidak ingat kalau kemarin Stevan menyuruhnya untuk membalas ciumannya. Sena takut membuat Stevan marah dan ia harus kehilangan pekerjaannya. Sampai ayahnya sembuh, Sena masih membutuhkan uang yang tak sedikit. Tak hanya untuk berobat ayahnya, Sena juga butuh uang untuk membeli rumah baru. Uang yang ia peroleh dari hasil menjual video kemarin hanya cukup untuk melunasi hutang-hutangnya.
"Maaf." kata Sena lirih, Stevan seperti mendapatkan lampu hijau dari Sena. Ia kembali menikmati bibir Sena dengan begitu berg@irah. Sena pun ikut larut dalam ciuman itu, ia membalas setiap gerakan bibir Stevan. Sena bahkan berinisiatif menjulurkan lidahnya sehingga Stevan bisa menyesap lidahnya dengan lebih leluasa.
Tak sampai di situ, Stevan yang mulai merasa menang atas tindakannya pada Sena itu kini mulai memikirkan aksi mesumnya. Tangan kanan Stevan yang awalnya hanya memegang pinggang Sena, kini semakin turun dan berhasil meraba p****t Sena. Sena yang sedari tadi memilih memejamkan matanya, kini membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dengan apa yang Stevan lakukan.
Tepat ketika Sena ingin mendorong tubuh Stevan, pintu kamar Stevan tiba-tiba terbuka. Muncullah Rita yang ingin memanggil Sena dan Stevan untuk segera turun dan sarapan. Nyatanya Rita malah memergoki anaknya yang sedang menikmati bibir Sena. Ditambah pemandangan mengejutkan, di mana tangan Stevan yang meraba b****g Sena.
Stevan segera menghentikan aksinya ketika ia menyadari sang ibu mengawasi dari depan pintu. Walaupun jarak mereka tak dekat, dan Stevan juga sedang berada di ruang ganti, namun Rita bisa melihat dengan jelas apa yang Stevan lakukan pada Sena.
Rita begitu terkejut, baru kali ini ia melihat anaknya melakukan hal seperti itu kepada seorang wanita. Namun dalam sekejap saja, rasa terkejut Rita segera terganti dengan rasa bahagia. Ia senang karena nyatanya anaknya normal, suka kepada lawan jenis. Tak heran jika Rita selama ini khawatir pada Stevan, itu karena Stevan yang tak pernah dekat dengan wanita manapun selain karena urusan pekerjaan. Stevan hanya menghabiskan waktunya bersama Riyan.
Sena terkejut dengan kedatangan Rita yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Stevan pun merasa kesal, ia lupa kalau ibunya menginap di rumahnya semalam.
"Kenapa Mama tiba-tiba masuk? Nggak ketuk pintu dulu lagi?" protes Stevan yang mencoba menutupi rasa malunya. Sena mundur beberapa langkah agar tak terlalu dekat dengan Stevan.
"Mama cuma mau ajak kamu dan Sena sarapan. Maaf kalau mama mengganggu. Ehm, itu, kalau kalian mau bermesraan, kenapa nggak dikunci aja pintunya?" ucap Rita dengan malu-malu, Stevan semakin malu. Stevan memejamkan matanya lalu menutup pintu ruang ganti tanpa menjawab ucapan ibunya.
Setelah itu, Stevan menatap Sena yang sejak tadi sudah melihatnya.
"Kamu, kalau mama tanya, bilang aja kita pacaran." ucap Stevan lirih,
"Tapi saya sudah bilang sama ibu Tuan kalau saya asisten Tuan." sahut Sena lugas.
"Yah, kamu lupa, nggak ada penolakan. Kalau aku bilang a, kamu harus lakuin a. Nggak ada penolakan apapun!" tegas Stevan setengah berbisik karena takut Rita dapat mendengarnya. Stevan sengaja meminta Sena mengaku sebagai pacar Stevan karena ia malu pada ibunya. Stevan tak ingin dicap buruk oleh ibunya sendiri, karena ia memang tak pernah mempermainkan wanita manapun.
Rita yang masih berdiri di depan pintu, berusaha mendengarkan apa yang Stevan dan Sena bicarakan. Ia bahkan melangkah mendekati ruang pakaian dengan berjingkat agar tak menimbulkan suara. Sayangnya Stevan yang sangat peka terhadap suara itu tetap mengetahui perbuatan ibunya. Ketika Rita tepat berada di depan pintu ruang pakaian, ia berusaha menempelkan daun telinganya ke daun pintu itu.
Tepat saat itu, Stevan membuka pintu dan memergoki ibunya yang bersikap layaknya stalker.
"Ma...!" panggil Stevan dengan tatapan garangnya, Rita buru-buru berdiri tegak, bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Ehm, mama cuma mau nunggu kalian." ucap Rita yang salah tingkah, Sena sendiri mengernyit malu karena Rita malah berusaha menguping.
"Nggak usah ditunggu, aku sama Sena punya kaki sendiri jadi nggak perlu minta gendong Mama. Turun. Aku akan turun kalau udah pakai baju." ucap Stevan lantang,
"Iya, mama turun. Jangan lama-lama ciumannya, eh, maksud mama pakai bajunya." ucap Rita yang lalu melangkah keluar kamar.
Stevan dan Sena sama-sama malu karena ucapan Rita barusan.
"Ingat, kalau mama tanya, kamu pacar aku sekaligus asisten aku. Dan jangan panggil aku tuan, panggil aku sayang." pinta Stevan yang membuat Sena terkejut lagi. Sena tak percaya kalau Stevan memintanya melakukan hal konyol, memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Nggak jawab?" tanya Stevan,
"Iya." jawab Sena singkat, namun Stevan malah melotot padanya.
"Iya, Sayang." Sena mencoba menuruti keinginan Stevan walau rasanya mulutnya terasa aneh ketika memanggil Stevan dengan sebutan sayang.
"Bagus, sana keluar. Aku mau ganti baju." ucap Stevan lirih, ia senang mendengar Sena menyebutnya sayang.
"Saya belum siapin baju buat Tuan." ucap Sena terburu-buru,
"Yah!" teriak Stevan yang membuat Sena terkejut.
"Ah, maaf. Saya belum terbiasa." ucap Sena,
"Pakai aku, jangan saya. Kamu mau malu-maluin diri kamu sendiri, atau malu-maluin aku?" tanya Stevan setengah berteriak, kini Sena melirik tajam pada teman sekolah yang kini jadi tuannya itu.
"Kamu berani menatapku seperti itu?" teriak Stevan yang kini memegang dagu Sena dan sedikit mengangkatnya sehingga membuat Sena sedikit mendongak.
"Maaf, Sayang. Aku akan bersikap senetral mungkin di depan ibu kamu." ucap Sena yang tidak ingin membuat Stevan semakin naik darah.
Stevan kembali memandang bibir Sena yang begitu menggoda baginya. Namun ia terlalu gengsi kalau harus menciumnya berkali-kali. Stevan melepaskan tangannya dari dagu Sena lalu menyuruh Sena keluar hanya dengan gerakan dagunya saja.
Sena keluar dari ruang ganti itu dan menunggu Stevan di depan pintu.
Sena merasa lelah, malu, kesal dan bahkan takut. Ia lelah harus menuruti permintaan Stevan yang kerap tak masuk akal. Ia malu karena Rita tadi melihatnya sedang berciuman dengan Stevan. Ia kesal karena ia tak bisa melakukan apapun selain pasrah. Dan ia takut kalau sampai Stevan benar-benar akan memintanya tidur dengannya setelah apa yang Stevan lakukan tadi.
Bersambung...