Kiss, again

1559 Kata
Rita sudah terbiasa dengan sikap kasar anaknya. Ia sadar kalau anaknya sudah banyak menderita karena sikap Danu yang suka pilih kasih kepada anak-anaknya. Rita sendiri tak pernah membedakan antara Stevan dan Kevin. Ia sudah menganggap Kevin layaknya darah dagingnya sendiri, Rita tulus menyayangi Kevin. "Mama tahu kamu sangat membenci mama. Mama nggak akan minta kamu maafin kesalahan mama. Tapi perlu kamu tahu, mama sayang sama kamu dan selalu peduli kamu. Walaupun kita tinggal secara terpisah, doa mama selalu buat kamu, Stevan sayang." ucap Rita lirih, Stevan mengembuskan nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya. Ia seperti tak sanggup beradu tatap dengan ibundanya karena malu. Stevan sadar kalau sikapnya kepada ibunya selama ini sudah keterlaluan. "Baiklah, apapun yang akan terjadi nanti, aku akan terima dengan senang hati. Kalau pria tua bangk@ itu kasih aku saham lebih, aku akan pelan-pelan mulai menguasai perusahaan. Dan kalau dia nggak kasih aku saham lebih, siap-siap aja menyandang status janda lagi." ucap Stevan, ia langsung beranjak dari duduknya. Stevan melangkah pergi, meninggalkan ibunya sendiri di ruang tamu itu. "Harusnya mama nggak ke sini malam ini. Karena kalau suamimu tercinta itu menolak memberiku saham lebih, mama bisa menghabiskan malam ini sebagai malam terakhir kalian. Kalau pria tua itu ingkar janji, jangan harap kalian masih bisa bersama. Dan kalau mama nggak ceraiin dia, aku yang akan buat kalian bercerai." ucap Stevan sesaat setelah ia menghentikan langkahnya, tepat di depan anak tangga. Rita hanya diam, menatap anaknya yang berjalan dengan santai menuju ke kamarnya. Rita memegang kepalanya, lalu memijit pelipisnya karena merasa pusing. Rita takut Danu akan ingkar janji dan malah melakukan hal yang tak diinginkannya. Rita takut kalau Danu akan menghancurkan karir Stevan. Namun sekali lagi Rita meyakinkan dirinya sendiri untuk bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. "Jangan takut, kamu nggak akan kelaparan seperti dulu lagi. Stevan bukan lagi anak yang akan menangis karena lapar. Sekarang, Stevan tumbuh jadi pria yang kuat, dia akan melakukan apapun demi kamu, Rita." batin Rita yang tak ingin kalah oleh rasa takutnya yang sudah menghantuinya selama ini. . Stevan merebahkan tubuhnya di kasur, ia menatap langit-langit kamarnya. "Akhirnya keinginanku agar kalian bercerai bisa terwujud. Aku yakin, pria tua bangk@ itu nggak akan kasih aku saham yang lebih banyak dibanding anak manjanya. Baiklah, aku akan lihat, apa anak manja itu bisa mengurus perusahaan kalau aku dipecat. Ck ck ck." ucap Stevan pada dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Stevan menatap layar ponselnya lalu teringat kembali pada Sena. Baru saja moodnya membaik karena Rita mengancam Danu demi keuntungannya. Namun kali ini mood Stevan kembali memburuk karena sampai tengah malem pun, ia masih belum mendengar kabar dari Sena. "Lihat aja kalau kamu berani kabur, aku nggak akan biarin kamu hidup tenang. Setelah semua yang kamu lakuin, mengancamku dan bahkan membuatku menyukaimu. Kamu bisa masuk ke kehidupanku dengan mudah, tapi jangan harap kamu bisa keluar dengan mudah pula. Langkahi dulu mayatku kalau kamu ingin terbebas dari aku." ucap Stevan lirih. Stevan kemudian memutuskan untuk tidur, ia tak ingin menghabiskan malamnya hanya untuk memikirkan yang membuat jantungnya berdebar tak terkendali. Ketika pagi tiba, Sena yang baru saja selesai mandi langsung bersiap agar ia tak telat masuk kerja hari ini. "Apa aku harus membuat wajahku jelek? Atau aku harus makan pete, atau jengkol? Biar mulutku bauk? Aku nggak mau si preman itu cium aku lagi. Lagian kenapa sih dia cium-cium aku, katanya nggak selera, tapi nyosor aja. Cuih." gerutu Sena sambil menata rambutnya di depan cermin. "Kamu ngomong sama siapa?" tanya ayah Sena yang membuat Sena terkejut. "Ah, ayah udah bangun?" tanya Sena yang mencoba mengalihkan pembicaraan, "Iya, ayah tidur nyenyak semalaman. Sudah lama ayah nggak tidur di kasur yang empuk begini." ucap Hendi yang berbohong. Semalaman ia tidur tak nyenyak karena memikirkan sang istri. Walaupun tahu dan sadar kalau istri dan anak tirinya jahat, ia merasa tak tega meninggalkan mereka begitu saja. "Benarkah? Ayah tenang aja, Sena akan cari duit yang banyak biar ayah bisa tidur di kasur yang empuk tiap hari." sahut Sena dengan senyum mengembang di wajahnya. "Kamu dapet duit secepat dan sebanyak itu dari mana, Sena? Ayah tahu, penginapan ini pasti nggak murah. Kamu kerja apa sebenarnya?" tanya Hendi yang mulai mencurigai anaknya itu. "Ehm, Sena kerja jadi asisten pribadi Yah." jawab Sena ragu, ia takut kalau ayahnya tahu tentang dirinya yang menjual diri pada Stevan. Ayahnya pasti akan kecewa dan marah kalau tahu ia mau tidur dan bahkan rela jadi istri simpanan demi membiayai pengobatan ayahnya. "Asisten pribadi?" tanya Hendi meyakinkan, Sena mengangguk dengan cepat. "Kamu jadi asisten pribadinya siapa? Kenapa dia kasih kamu uang, padahal kamu baru kerja sehari. Kamu nggak ngelakuin pekerjaan yang masuk tanda kutip kan?" pertanyaan Hendi seperti belati yang mengiris setiap bagian perasaan Sena. Sena ingin sekali meneteskan air matanya lalu mengakui kesalahannya. Namun itu hanya akan membuat semuanya jadi kacau. Sena menahan rasa takut dan kesedihannya sebisa mungkin. "Dia Stevan Prayoga, Yah. Dia temen SMA Sena, ayah bisa cek profilnya. Kita temenan, terus dia kasih pinjam uang ke Sena karena tahu Sena lagi butuh uang." kilah Sena yang tak ingin membuat ayahnya khawatir. "Ya udah, ayah cuma nggak mau kerja yang nggak bener. Ayah tahu kamu pandai nak, ya udah, sana berangkat." ucap Hendi yang tak mencurigai sama sekali pada anaknya. "Nanti Sena beliin ponsel, biar Sena bisa hubungi ayah lebih mudah. Hari ini, ayah di sini aja ya, jangan ke mana-mana." ucap Sena yang tak ingin ayahnya keluar ke mana pun, apalagi menemui ibu tiri dan saudara tirinya. . Sena datang ke rumah Stevan tepat waktu. Namun ia dibuat kaget dengan keberadaan Rita yang tengah memasak itu. Rita sendiri kaget karena yang datang adalah seorang perempuan, bukannya Riyan. Rita tak tahu kalau Stevan memperkerjakan seorang perempuab, apalagi sampai menyuruhnya datang ke rumah seperti itu. Rita mulai curiga kalau anaknya mungkin main hati dengan Sena. "Kamu asisten pribadinya Stevan?" tanya Rita, tangannya masih memegang spatula. "Iya, Nyonya. Apa Anda, ibunya Tuan Stevan?" Sena balik bertanya, ia tak ingin tenggelam dalam rasa penasarannya. "Iya, kenalin, saya Rita. Panggil aja ibu, jangan nyonya, risih dengarnya." pinta Rita, Sena hanya mengangguk sambil tersenyum. "Baik, Bu. Saya Sena, asisten pribadi Tuan Stevan." aku Sena, Rita mengernyit mendengar Sena memanggil anaknya dengan sebutan tuan. "Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit Sena, baru saja ia melangkah pergi, "Kamu nggak bawa kopi?" teriak Rita, Sena akhirnya menoleh dan menatap Rita. "Kopi?" tanya Sena kebingungan, Rita mengangguk. "Kamu nggak tahu kalau Stevan nggak bisa disentuh pas lagi tidur? Kamu mau bangunin dia pakai apa? Ini hari pertama kamu kerja?" tanya Rita yang begitu penasaran. "Saya tahu, kemarin tangan saya bahkan diputar sama Tuan Stevan karena saya nyentuh beliau." aku Sena lirih, ia masih tampak kebingungan. "Riyan pasti lupa. Kalau mau bangunin Stevan, cukup bawain kopi. Dia akan bangun kalau mencium aroma kopi. Kamu nggak perlu nyentuh dia, untung saja kamu nggak dipukuli sama dia kemarin." ucap Rita, Sena yang mulai paham hanya mengangguk beberapa kali. Rita akhirnya membuatkan kopi untuk anaknya. "Ingat, Stevan nggak suka kopi yang terlalu manis. Takaran kopi dan gula sebaiknya sama, atau lebih banyak kopinya." ucap Rita sambil mengaduk kopi yang baru saja ia seduh. Sena begitu terpana dengan kecantikan Rita. Bagi Sena, Rita lebih mirip sebagai kakaknya Stevan karena masih terlihat cantik dan muda. "Ini." ucap Rita sambil menyodorkan kopi buatannya ke Sena. Sena tersadar dari lamunannya, ia langsung menerima kopi tersebut dan menuju kamar Stevan. Sena meletakkan kopi buatan Rita di nakas yang berada di samping ranjang Stevan. Benar saja, Stevan mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menggeliat dan bangun dari mimpinya. Stevan tersenyum melihat sosok Sena yang berdiri di dekat ranjangnya. Sena malah kebingungan dan menganggap kalau Stevan mengigau. "Jam berapa ini?" tanya Stevan dengan suara seraknya, "Jam tujuh lewat 10 menit." sahut Sena lantang. Stevan membuka matanya lebar-lebar lalu duduk. "Yah, kenapa kamu telat? Kemana aja kamu semalaman?" tanya Stevan setengah berteriak, "Maaf, tadi ibu tuan mengajukan beberapa pertanyaan, saya nggak enak hati mau ninggalin beliau." jawab Sena setengah ketakutan. "Kamu kerja sama aku, jadi utamain aku." ucap Stevan yang langsung menuju ke kamar mandi. "Saya siapin air hangat dulu, tuan." ucap Sena sambil berlari, ia ingin mengejar langkah Stevan. Namun Stevan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Sena menabrak punggungnya. Sena mengaduh dan merasa sakit pada tulang hidungnya. "Nggak perlu, aku mau mandi pakai air dingin." sahut Stevan, Sena menahan rasa sakit pada hidungnya dan hanya mengangguk. Stevan masuk ke kamar mandi dengan senyuman lebar. Kekhawatirannya tentang kepergian Sena akhirnya pupus setelah melihat Sena datang kembali bekerja. "Bener kata Riyan, selama ayahnya sakit, Sena akan tetap berjuang demi ayahnya. Tapi kalau sampai terjadi apa-apa dengan ayahnya, Sena mungkin nggak akan mau jadi asistenku lagi. Aku harus membuat ayahnya bertahan hidup." batin Stevan sambil menikmati guyuran air dari shower di kamar mandinya. Sambil menunggu Stevan mandi, Sena menyalakan ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Stevan dan juga Riyan. Kemudian pesan-pesan masuk, dari Lea dan Riyan. Karena terlalu malas, Sena langsung menghapus pesan Lea tanpa membacanya. Lalu Sena membaca pesan Riyan. "Kenapa ponselmu mati?", "Saya cuma mau bilang, bangunin Pak Stevan dengan kopi. Ingat, jangan terlalu manis.". "Telat, aku udah terlanjur tahu. Kenapa nggak bilang dari kemarin coba?" gerutu Sena, tepat saat Stevan keluar dari kamar mandi. Sena memasukkan ponselnya ke saku celananya dengan terburu-buru. Setelah itu ia segera menyusul Stevan yang menuju ke ruang pakaian. Baru saja Sena masuk ke ruang pakaian itu, tubuhnya langsung disambut dengan pelukan Stevan. Tak tunggu lama, Stevan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sena. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN