Permintaan Rita

1056 Kata
"Sejak aku jadi istrimu, aku bersikap sebaik mungkin untuk jadi ibu yang baik untuk Kevin. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Walaupun aku tahu kamu selalu kasar dan pilih kasih ke Stevan. Aku tahu sejak dulu Stevan hanya suka berkelahi. Tapi sekarang, lihatlah, dia udah jadi CEO yang sukses. Kasus kecil saja membuat namanya muncul di mana-mana." ucap Rita yang kini duduk di sofa di kamarnya. Danu duduk tak jauh dari Rita, mendengarkan sang istri dalam diam. Ia tak menyangka kalau malam ini Rita meminta berpisah. Selama ini, Rita selalu menurut dan patuh padanya. Apalagi kalau Danu akan mengancam menghancurkan karir Stevan dan menurunkan Stevan dari jabatannya. Kini Danu begitu takut kalau wanita yang ia cintai itu pergi meninggalkannya. Danu setuju untuk memberi saham lebih pada Stevan sesuai dengan syarat yang diajukan Rita. "Maafkan aku." ucap Danu lirih, seolah ia benar-benar menyesali perbuatannya pada Stevan. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia memang tidak menyukai Stevan. Karena dengan melihat Stevan, Danu seperti melihat mantan suami Rita yang tak lain adalah ayah biologis Stevan. "Aku bertahan selama ini demi Stevan. Aku berharap kamu akan berubah ketika melihat Stevan sukses. Tapi apa, sikapmu pada Stevan masih sama aja. Untuk apalagi aku bertahan?" sahut Rita yang masih mengeluarkan isi hatinya. "Aku akan memberi sebagian sahamku ke Stevan. Aku nggak akan ambil saham Kevin untuk di beri ke Stevan. Hal itu akan membuat Kevin marah, aku takut dia nggak mau pulang ke rumah lagi. Kamu tahu, Kevin satu-satunya keluarga yang aku miliki." ucap Danu lirih. "Oh, jadi benar, selama ini aku hanya orang asing bagi kamu. Ck, kenapa kamu harus menahanku di sini? Kalau untuk cari teman tidur, kamu punya banyak uang untuk itu. Kamu bahkan bisa memilih yang jauh lebih muda dari aku. Kenapa kamu harus menahanku?" teriak Rita dengan air mata yang masih terus menetes dan membasahi wajahnya. "Bukan itu maksudku. Baiklah, aku salah. Ma, papa salah, papa minta maaf. Papa sayang sama mama dan papa nggak akan mau pisah sama mama. Papa berani bersumpah, selama ini papa setia sama mama." ucap Danu yang mencoba merayu sang istri dengan segala cara. "Udahlah. Aku lelah, malam ini aku mau tidur di rumah Stevan. Kalau kamu mau mempertahankan hubungan kita, segera kasih Stevan saham tambahan. Kasih dia apresiasi yang sepadan dengan kerja kerasnya. Dan untuk Kevin, cobalah tegas sama dia. Aku begini karena aku peduli, aku nggak mau dia nggak punya masa depan cerah." ucap Rita yang lalu pergi meninggalkan Danu. Danu ingin sekali mencegah Rita pergi dengan kaki telanjang itu. Namun, melihat Rita marah kali ini memang membuat Danu ketakutan. Pasalnya, ini kali pertama Rita marah semenjak mereka menikah. Rita pergi ke rumah Stevan lagi walau tahu putranya marah padanya. Dengan bertelanjang kaki, Rita masuk ke rumah Stevan lagi. Stevan yang sedang gelisah menunggu kabar tentang Sena masih duduk di ruang makan sambil menikmati kopi yang tak terlalu manis kesukaannya. Ketika ibunya datang, Stevan menatap penampilan ibunya yang tampak kacau. Kaki yang tanpa alas itu tampak begitu merah, hati Stevan terasa diiris sembilu, begitu menyakitkan. Stevan menatap wajah sang ibu, mata Rita yang tampak sembab semakin membuat Stevan naik darah. Stevan beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk sang ibu dengan haru biru. Stevan yakin kalau ibunya baru saja berkelahi dengan Danu Prayoga. Karena baru kali ini Stevan melihat ibunya tampak kacau dengan mata sembab. Stevan akhirnya lega karena ibunya memilihnya dan meninggalkan Danu. "Mama ke sini buat Stevan? Mama ninggalin pria itu buat Stevan?" tanya Stevan yang sudah percaya diri, "Maafkan mama sayang..." ucap Rita lirih, Stevan melepas pelukannya pada Rita. "Apa maksud mama? Mama nggak akan bercerai dari pria itu?" tanya Stevan dengan berteriak, Rita menggeleng, ia tak berani menjawab pertanyaan sang anak. "Lalu kenapa mama ke sini? Malam-malam begini? Dan kenapa tampilanmu seperti ini? Di mana sepatumu?" teriak Stevan yang sudah dikuasai api emosi. "Mama cuma mau tidur sama anak mama. Apa nggak boleh?" ucap Rita yang mencoba menutupi kenyataan yang ada. "Mama ngaku sama Stevan, kenapa mama keluar dari rumah kesayanganmu itu malem-malem begini?" tanya Stevan yang tak ingin dibohongi ibunya, "Mama cuma kangen, pengen tidur sama kamu, sayang." aku Rita yang semakin membuat Stevan ingin mendatangi Danu malam ini juga. "Baiklah kalau mama nggak mau jujur, biar Stevan yang tanya langsung sama pria tua itu!" ucap Stevan dengan berteriak, Rita segera mencekal tangan Stevan. Rita tahu, dengan watak Stevan, anaknya itu bisa saja memukuli suaminya sampai babak belur. Rita tak ingin itu terjadi, bagaimana pun ia masih menjadi istri sah Danu dan ia masih mencintai pria itu. "Jangan, baiklah, mama akan jelasin sama kamu. Tapi tolong janji sama mama, kalau kamu nggak akan pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Jangan selalu mengutamakan pukulan di atas segalanya. Kamu harus memikirkan status kamu sekarang, kamu anak mama sudah menjadi orang besar. Mama bangga dan mama mau kamu terus menjadi orang sukses seperti sekarang. . . Di tempat lain, Danu masih duduk termenung di tempat semula. Ia sama sekali tak menggeser posisi duduknya. Danu masih ragu ingin memberikan saham yang lebih untuk Stevan. Selama ini Danu tak pernah berniat ingin mencopot jabatan Stevan, atau mengambilnya dari Stevan. Bahkan Danu ingin Stevan lah yang meneruskan usahanya itu. Namun Danu tak ingin Stevan dan Kevin memiliki jumlah saham yang berbeda. Danu ingin Kevin mendapatkan keuntungan yang sama dengan yang Stevan dapatkan. Bahkan dalam surat wasiatnya, Danu membagi sahamnya untuk istri dan anak-anaknya itu secara adil. Di mana Stevan dan Kevin akan mendapatkan saham yang sama pula dengan saham yang diperoleh Rita. Permintaan Rita mengenai penambahan saham Stevan cukup membuat Danu pusing. Namun jika ia tak memenuhi keinginan Rita, ia akan kehilangan Rita, perempuan yang paling ia cintai. . . "Jadi mama minta saham lebih untuk aku?" tanya Stevan, Rita mengangguk. Keduanya sedang duduk di sofa di ruang tamu rumah Stevan. Rita menceritakan semua yang ia alami barusan dengan sang suami pada putranya. "Ck, pria tua itu tak akan pernah memberikan saham yang lebih untukku. Kalaupun iya, dia pasti akan kasih saham yang sama dengan milik anak manja itu." sahut Stevan dengan seringainya. "Kalau dia nggak mau, mama akan menggugat cerai dia." aku Rita, Stevan menatapnya tajam. "Mama rela ninggalin pria yang mama cintai itu demi anakmu yang selalu kamu abaikan ini?" tanya Stevan seperti biasa, ia selalu meremehkan kasih sayang ibunya. Yang Stevan tahu, ibunya bertahan dengan Danu adalah karena cinta. Stevan tak tahu kalau ibunya bertahan demi kesuksesan dirinya. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN