Setelah sampai di rumahnya, Riyan menghubungi orang kepercayaannya untuk memata-matai Sena. Riyan mengirim alamat Sena sesuai dengan alamat yang Sena berikan tadi siang, yaitu rumah kontrakan yang sudah Sena tinggalkan.
Orang kepercayaan Riyan itu langsung datang ke kontrakan Sena. Setelah beberapa jam mengamati, ia mengirim pesan ke Riyan.
"Sepertinya nona Sena tak lagi tinggal di sini. Rumah ini sekarang begitu gelap dan sunyi. Sebelumnya ada 2 wanita yang keluar dari rumah itu sambil teriak-teriak." pesan orang itu yang dikirim ke Riyan.
Riyan langsung memberi tahu Stevan mengenai hal tersebut.
Stevan yang masih rebahan di ranjang, langsung beranjak dari rebahannya. Ia begitu khawatir dengan wanita yang mampu mencuri hatinya itu.
Tanpa menunggu lama, Stevan langsung menelepon Sena.
Di tempat lain, Sena baru saja selesai mandi. Ayahnya sudah tertidur pulas setengah makan malam tadi. Sena sengaja menon-aktifkan ponselnya untuk menghindari telepon yang masuk dari ibu tirinya dan juga Lea. Sena langsung menyusul ayahnya, ikut berbaring di samping ayahnya lalu memejamkan matanya.
"Enaknya, akhirnya aku bisa istirahat. Semangat Sena, kamu kuat, kamu hebat." ucap Sena untuk dirinya sendiri sebelum akhirnya terjatuh dalam mimpi indahnya.
Karena nomor ponsel Sena tak bisa dihubungi, Stevan langsung menelepon Riyan.
"Yah, kenapa nomornya nggak aktif? Kenapa kamu bisa sampai kehilangan dia? Dasar bodoh!" teriak Stevan pada Riyan sesaat setelah Riyan mengangkat telepon Stevan.
Riyan menjauhkan ponselnya dari telinganya begitu mendengar teriakan Stevan.
"Mungkin mbak Sena lagi tidur. Ini kan udah malam." jawab Riyan santai, mencoba menenangkan bosnya yang dilanda rasa gelisah itu. Riyan menyesal karena sudah memberi tahu informasi itu, seperti membangunkan macan tidur saja pikir Riyan.
"Untuk apa dia matiin HPnya kalau cuma mau tidur aja?" teriak Stevan lagi,
"Mungkin mbak Sena terlalu lelah hari ini, dia nggak mau tidurnya diganggu." Riyan masih berusaha menenangkan Stevan.
"Tapi kenapa dia nggak pulang ke rumahnya? Kamu tahu kan, rumahnya sepi dan gelap." teriak Stevan lagi,
"Mungkin aja mbak Sena lagi nginep di rumah temennya." jawab Riyan asal.
"Mungkin, mungkin, mungkin aja dari tadi!" teriak Stevan yang semakin dirundung rasa gelisah.
"Pak Stevan yang terhormat, mohon jangan negatif thinking dulu. Kita tunggu sampai besok pagi, kalau mbak Sena nggak dateng buat kerja, saya yang akan tanggung jawab. Saya akan mencari mbak Sena kemana pun, bahkan sampai ke ujung dunia." sahut Riyan dengan santai.
"Ya walaupun aku nggak tahu ujung dunia itu di mana." batin Riyan.
Namun sepertinya ucapan Riyan itu mampu memberikan sedikit rasa tenang bagi Stevan. Stevan tahu kinerja Riyan memang bagus.
"Baiklah, kalau Sena nggak dateng besok, siapin surat pengunduran diri kamu." ucap Stevan yang langsung memutus teleponnya tanpa mendengar jawaban Riyan.
"Argh, beginikah rasanya orang jatuh cinta? Gila tanpa alasan. Lagian Sena juga kemana sih? Apa mungkin terjadi sesuatu sama dia? Semoga aja enggak deh, aku bisa babak belur dipukuli Stevan kalau dia sampai kenapa-napa." gerutu Riyan setelah Stevan menutup teleponnya.
Sementara di tempat lain, Lea dan ibunya baru saja pulang dari rumah lamanya. Anak dan ibu ini berpikir kalau Sena pulang ke rumah yang sudah mereka jual itu. Mata-mata yang dikirim Riyan mengambil potret kepulangan Lea dan ibunya itu. Ia pun langsung mengirimnya ke Riyan.
Riyan semakin curiga karena Sena tak ikut pulang. Namun Riyan menahan rasa penasarannya itu dan menunggu sampai besok pagi. Riyan berharap Sena tak kemana-mana.
.
"Kemana anak itu pergi? Setelah dia hancurin semua barang-barang kita. Dasar jal@ng! Aku nggak akan maafin dia." teriak Lea setelah ia masuk ke dalam rumahnya.
"Ini semua karena kamu ambil kalung ibunya. Kalau kamu nggak ambil barang dia, dia nggak akan sekurang ajar ini." teriak ibu tiri Sena yang menyalahkan Lea.
"Apa ibu bilang? Ibu nyalahin aku? Ibu juga salah, ibu pergi tanpa kasih makan ayah. Sena pasti marah karena itu." teriak Lea yang tak terima disalahkan oleh ibunya sendiri.
Kini anak dan ibu itu saling menyalahkan. Sementara Sena dan ayahnya bisa tidur nyenyak di tempat yang nyaman pula.
.
.
"Kamu dari rumah anak kesayanganmu?" tanya Danu ketika melihat istrinya baru saja masuk kamar.
"Apa salahnya kalau aku mengunjungi anakku sendiri?" jawab Rita dengan lesu, ia masih memikirkan semua ucapan Stevan padanya.
"Oh, jadi dia anakmu sendiri? Kamu jangan lupa, aku yang buat anak kamu jadi orang sukses dan terpandang seperti sekarang ini." ucap Danu sinis. Ia memang tak suka kalau Rita mengunjungi Stevan terlalu sering. Danu takut Rita akan termakan rayuan Stevan untuk meninggalkannya. Danu tahu kalau Stevan sering meminta ibunya untuk meninggalkannya.
Rita begitu lelah untuk menjawab Danu, ia hanya diam. Rita duduk di meja rias, melepas semua perhiasannya dengan mulut yang tertutup rapat.
"Harusnya kamu berterima kasih sama aku karena aku yang udah buat kamu dan anak kamu jadi seperti ini. Lihat saja, semua yang kamu pakai itu adalah hasil keringatku. Bukankah kamu bangga karena memakai itu semua?" ucap Danu yang ingin membanggakan dirinya sendiri. Namun ucapannya barusan membuat luka hati baru bagi Rita.
Rita selama ini bertahan dengan Danu karena Danu memperlakukannya dengan baik terlepas dari masalah Stevan. Namun malam ini, Danu membuat luka yang mungkin akan menambah keyakinan Rita untuk meninggalkannya.
Rita beranjak dari tempat duduknya, ia melepas semua yang ia pakai, termasuk pakaian yang ia kenakan saat ini. Rita kemudian mengambil pakaian yang Danu jadikan hadiah pernikahannya dulu. Danu hanya diam melihat semua yang dilakukan Rita.
"Baju ini kamu kasih ketika menikahiku, jadi ini udah jadi milikku. Dan semua baju-baju yang pernah aku pakai itu, silakan kamu buang atau lakukan sesukamu. Begitu juga dengan perhiasan, tas, sepatu, semuanya, itu memang bukan milikku. Dan mulai malam ini, aku bukan lagi istrimu." ucap Rita dengan mata yang berkaca-kaca.
Rita melangkah pergi dari kamarnya itu, dengan bertelanjang kaki. Danu yang terkejut dengan keputusan Rita, segera mencegah kepergian Rita.
"Sayang, maafin ucapanku barusan. Bukan itu maksudku, aku minta maaf kalau aku kelewatan." ucap Danu setelah ia menghadang Rita dan berhasil menghentikan langkah wanita yang sedang sakit hati itu.
"Aku memang orang miskin, dan aku hanya menumpang di rumah ini. Aku bukan siapa-siapa dan aku... Semua yang aku pakai itu cuma barang yang kamu pinjemin ke aku. Jadi sekarang, ambilah." ucap Rita dengan derai air mata, raut wajahnya mewakili perasaannya saat ini. Sakit.
"Bukan, kamu adalah istriku, semua itu milikmu." ucap Danu yang langsung dipotong oleh Rita.
"Kalau kamu mau hancurin karir Stevan, lakukanlah. Kami nggak takut hidup miskin. Aku udah cukup bersabar lihat kamu yang pilih kasih dan selalu membela Kevin. Aku muak dengan sikap kamu." semua amarah Rita seakan tumpah, ia tidak peduli lagi dengan semua ancaman Danu.
Ketika Rita hendak pergi meninggalkan Danu, pria itu mendekapnya dan memohon ampun atas semua kesalahannya.
"Aku mohon, kasih aku kesempatan. Aku nggak pilih kasih, aku juga peduli dengan Stevan. Aku hanya ingin yang terbaik buat dia." ucap Danu yang merayu Rita.
Rita menolak pelukan suaminya yang sering bersikap kejam pada anaknya itu.
"Aku udah lelah. Aku capek." ucap Rita lirih, ia melangkah pergi lagi. Kali ini Danu memegang pergelangan tangannya.
"Aku akan lakuin apa aja asal kamu mau memaafkanku. Please sayang, kasih aku kesempatan." rayu Danu yang benar-benar frustrasi, ia tak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Kalau kamu mau kasih Stevan saham yang lebih banyak dari Kevin, aku akan mempertimbangkannya. Kamu bilang mau yang terbaik kan? Itu yang terbaik menurutku, memberi saham lebih untuk Stevan. Karena dia bekerja sendiri dan anak kesayanganmu itu hanya pergi ke club setiap hari." pinta Rita yang memberanikan diri meminta keadilan untuk putranya. Danu hanya diam, namun ia masih memegang tangan Rita.
"Kalau kamu nggak mau, silakan cari istri baru. Karena aku.." ucap Rita terpotong,
"Baiklah." ucap Danu yang akhirnya menyerah dan menuruti keinginan Rita.
Bersambung...