Rasa kecewa Stevan

1163 Kata
"Apa? Aku tahu semua tentang kamu, Stevan. Jangan kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu suka kan sama tuh cewek? Kamu pikir kamu bisa bohongin aku? Kamu pikir aku nggak tahu kamu tadi pagi cium diam duluan? Ha?" teriak Riyan pada Stevan. Di luar jam kerja dan ketika mereka hanya berdua, Riyan dan Stevan memang bersikap layaknya teman dekat. Bagi Stevan, Riyan satu-satunya teman yang bisa ia percayai dan bisa ia handalkan. Dan bagi Riyan, Stevan adalah teman terbaiknya karena setia menemaninya ketika ia sedang terpuruk kehilangan keluarga akibat kecelakaan. Selain teman, Riyan sudah menganggap Stevan keluarganya sendiri. "Kamu minta aku mundurin jadwal biar kamu bisa ena-ena sama dia kan? Ngaku deh, percuma kamu muna begini. Aku bisa baca isi otak kamu yang selalu m***m kalau lihat tuh cewek." lanjut Riyan, Stevan hanya bisa membuka mulutnya, ia memang tak bisa membohongi Riyan selama ini. "Kalau udah tahu, kenapa harus tanya? Lagian siapa yang mau ena-ena? Aku tadi pagi kesel karena dia pegang aku pas bangunin aku. Kamu kalau kerja yang bener dong. Kamu nggak kasih tahu dia kalau aku phobia hal itu?" ucap Stevan yang memilih mengalihkan pembicaraan. "Yah, kamu nggak banting dia kan?" tanya Riyan serius, ia tahu betul bagaimana reaksi Stevan ketika Stevan disentuh orang ketika sedang tertidur. "Untungnya enggak." aku Stevan yang lalu meneguk minuman kaleng di tangannya sampai habis. Lalu ia meremas kaleng itu dan melemparnya ke tong sampah layaknya ia memasukkan bola ke ringnya. "Kamu suka sama Sena?" tanya Riyan terang-terangan, "Aku nggak tahu." jawab Stevan malu-malu, ia bahkan tak berani menatap Riyan dan sibuk menatap langit. "Baiklah, kalau begitu aku akan mendekati Sena." ancam Riyan lagi, "Iya, aku suka sama Sena. Puas?!" jawab Stevan dengan berteriak. Riyan tertawa terbahak-bahak, gelak tawanya bahkan terdengar nyaring sampai di lantai bawah. Ia merasa puas melihat teman sekaligus bosnya itu yang sedang dimabuk cinta. "Wajar sih, tuh cewek cantik, badannya juga bagus. Nggak heran kalau kamu ingin menikmati tubuhnya." ucap Riyan meledek Stevan, Stevan menendang kaki Riyan, sangat keras. "Aku nggak sebrengs€k itu! Bangs@t!" gerutu Stevan, "Terus, maksud kamu, kamu mau nikahin dia?" ledek Riyan lagi. "Ya.. bukannya itu lebih baik dari pada aku cuma pakai tubuhnya aja kan?" kilah Stevan malu-malu. "Iya kalau dia mau sama kamu. Kalau enggak? Jangan lupa, dia nurut sama kamu cuma karena dia butuh uang kamu. Kamu berdoa aja deh, semoga ayahnya panjang umur. Jadi ada alasan dia buat berkorban diri. Kalau ayahnya udah... ehm, tahulah, dia mungkin akan pergi dari hidup kamu selamanya." ucap Riyan yang menurut Stevan ada benarnya. "Kalau dia nggak nanggung biaya pengobatan ayahnya, dia bisa nikah dengan siapapun. Kalau hanya untuk makan, aku yakin cewek cantik kayak dia bisa cepet dapet kerja. Atau dia malah menikah dengan orang yang dia cintai. Nah iya, dia punya pacar nggak? Jangan sampai dia di sini jadi wanita kamu, tapi di luar sana dia jadi wanita pria lain." ucap Riyan panjang lebar. Stevan memikirkan apa yang Riyan ucapkan. Benar apa yang diucapkan Riyan, jangan sampai ada pria lain. Karena Sena adalah wanita pertama yang mampu mencuri hatinya. Stevan tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Sena seutuhnya. "Kalau begitu, awasi dia. Cari tahu kehidupan pribadinya lebih jauh lagi. Laporkan setiap info yang kamu dapetin." pinta Stevan yang memasang wajah serius. Riyan tahu kalau Stevan sedang gelisah karena cinta pertamanya itu. "Baiklah. Aku akan minta orang andalan kita buat memata-matai wanita Anda, Pak Stevan." ucap Riyan. "Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit Riyan dengan bahasa formal, "Yah, masih jam berapa ini. Kenapa udah mau cabut aja?" teriak Stevan tak terima, ia paling tidak suka sendirian di rumah. Stevan merasa kesepian setiap kali ia menghabiskan waktu sendiri di rumah. Itu sebabnya ia gila kerja, selain mengejar kekuasaan, Stevan tak ingin pulang ke rumah secepat mungkin. "Aku juga butuh hawa buat melengkapi hidupku yang hampa ini, tuan muda. Aku juga ingin menikah, jadi biarkan aku berkelana mencari calon mempelaiku." sahut Riyan yang kemudian pergi meninggalkan Stevan sendirian. Ketika Riyan menuruni tangga, tepat saat itu pula Rita datang ke rumah Stevan. "Selamat malam, Bu." sapa Riyan dengan senyum mengembang di wajahnya, "Selamat malam. Sudah mau pulang?" tanya Rita yang tampak begitu cantik dengan gaun berwarna peach itu. "Iya nih, Bu." sahut Riyan singkat, "Sayang sekali, ibu bawain makanan ini. Kamu nggak mau ikut makan malam bareng?" tanya Rita. "Maaf Bu, silakan menikmatinya bersama Pak Stevan. Saya permisi dulu." pamit Riyan yang langsung pergi meninggalkan Rita. "Aku tahu masakan ibumu sangat enak. Kamu harus berterima kasih karena aku nggak ikut makan. Selamat menikmati waktu berhargamu itu kawan." batin Riyan sambil berlalu. Riyan tahu kalau Stevan sangat mencintai ibunya dan begitu merindukan ibunya setiap saat. Namun karena harga diri Stevan yang begitu tinggi, pria itu memilih menelan rasa rindunya dan memendamnya. Hanya Rita yang selalu mendatangi Stevan lebih dulu. Stevan tak pernah mendatangi ibunya, ia terlalu sakit untuk menerima kenyataan kalau ibunya menolak ajakannya untuk pergi dari rumah milik Danu Prayoga itu. . . "Makannya pelan-pelan sayang. Kamu kelihatan kurus. Apa kamu masih makan tak teratur? Ingat sayang, kamu harus jaga kesehatanmu. Bekerja kan juga butuh tenaga." ucap Rita yang melihat anaknya sedang makan makanan yang ia bawa. "Kenapa mama ke sini? Mama takut aku nggak bisa jaga posisi aku karena kasus semalam? Tenang aja ma, aku udah urus semua. Nilai saham juga perlahan naik ke titik sebelumnya." ucap Stevan pada ibunya, ia bahkan tak menatap mata Rita. "Mama hanya kangen dengan anak mama ini. Apa mama nggak boleh main ke sini, ke rumah anak mama sendiri?" tanya Rita yang berusaha tampak tegar. Namun ia menangis di dalam hatinya, menangis karena sikap dingin anaknya. Rita memang menolak ajakan Stevan untuk pergi dari keluarga Prayoga. Bukan karena Rita takut hidup miskin. Namun Rita tak ingin ia dan Stevan harus kembali ke titik di mana ia masih menyandang status janda. Rita tak sanggup melihat anaknya itu harus hidup susah. Rita begitu takut pada ancaman Danu yang selalu mengancam akan menghancurkan kesuksesan Stevan. "Jadi, mama mau bilang mama nggak peduli dengan apa yang terjadi sama Stevan?" tanya Stevan sinis, ia mencari setiap kesempatan untuk menyentil hati ibunya. "Bukan, bukan karena mama nggak peduli. Tapi mama percaya kalau anak mama bisa melakukan yang terbaik." sahut Rita yang masih bersikap sok tegar walaupun tangannya mulai gemetar. "Kalau mama memang percaya kalau aku bisa lakuin yang terbaik, ceraikan suami mama. Ayo kita pergi jauh dan hidup bahagia." pinta Stevan dengan volume suara tinggi. "Maaf, Stevan sayang. Mama bahagia lihat kamu sukses, mama bangga sama kamu. Tapi tolong relakan mama agar mama hidup bahagia dengan papa kamu." ucap Rita memelas, kali ini ia tak bisa lagi berpura-pura tegar. "Dia bukan papaku. Dan kalau mama memang bahagia hidup dengan dia, aku akan selalu berdoa semoga Tuhan segera panggil dia. Dengan begitu mama nggak akan bisa hidup bahagia lagi." ucap Stevan lantang yang lalu pergi meninggalkan ibunya sendirian di ruang makan itu. Rita menangis sepeninggalan Stevan, ia tahu kalau anaknya begitu membenci Danu karena sikap kasar Danu. Tapi Rita begitu lemah dan takut untuk melawan Danu. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN