Hati siapa yang tak hancur, melihat ayahnya sendiri harus mengais sampah demi mengisi perut. Makanan sisa orang yang sudah menjadi sampah, makanan yang tak jelas masih layak makan atau tidak, harus dimakan oleh sang ayah.
Kehidupan Sena yang selama ini selalu berkecukupan dan bahkan mewah sejak ia lahir, harus hilang begitu saja dan diganti dengan kehidupan yang amat menyakitkan.
"Aku tak pernah jahat sama siapa pun. Tapi kenapa dunia kejam kepadaku? Aku salah apa?" tanya Sena di bawah langit gelap, tangisannya membuat sang ayah merasa menyesal.
Ayahnya Sena mendekatinya lalu ikut berlutut, sang ayah lalu memeluk sang putri. Anak yang begitu ia sayangi dan banggakan selama ini. Namun kali ini ia harus menyakiti hati anaknya karena harus melihatnya sebagai gelandangan.
Sena sendiri membalas pelukan sang ayah dengan mulut yang masih menangis. Teriakan tangisnya bagaikan silet tajam yang mengiris hati sang ayah.
Sena merasa sakit hati, hancur sudah perasaannya. Ia merasa gagal menjadi anak. Setelah semua kemewahan yang ia nikmati dari sang ayah. Kini ia merasa gagal dalam membalas kasih sayang sang ayah.
"Maafin ayah, sayang." ucap sang ayah yang ikut menangis,
"Sena yang seharusnya minta maaf. Kalau Sena bisa seperti ayah, perusahaan nggak akan bangkrut. Ayah nggak akan hidup menderita seperti ini." balas Sena yang masih larut dalam isak tangisnya.
Ayah dan anak itu malah sibuk menyalahkan diri mereka sendiri.
Ketika Sena merasa sedikit tenang, ia segera menghentikan drama tangisannya lalu menghapus air matanya dan bahkan membuang ingusnya.
"Ibu yang ambil semua uang yang Sena taruh di kantong celana ayah?" tanya Sena yang kini duduk di samping ayahnya, di trotoar yang lumayan sepi.
"Iya, dia kira, ayah sembunyiin uang itu dari dia." sahut ayah Sena yang memilih berkata jujur.
"Lea yang ambil kalung dari ibu?" tanya Sena lagi, tatapannya hanya menuju ke jalan, ia tak berani menatap sang ayah.
"Ayah sudah berusaha menghentikannya, maafkan ayah." sahut Hendi, ayah Sena dengan penuh penyesalan.
"Apa ayah mau melakukan apapun demi kebahagiaan Sena?" tanya Sena lirih, di tengah rasa laparnya yang melanda. Ia hanya makan tadi pagi di rumah Stevan.
"Ayah akan lakuin apapun demi kebahagiaanmu, sayang." sahut Hendi mantap,
"Bercerailah dari wanita itu. Sena nggak sudi kasih makan dia dan anaknya itu dengan keringat dan darah Sena." pinta Sena yang membuat Hendi terkejut.
Namun permintaan Sena sangat wajar, Hendi sadar kalau istrinya itu tak pernah mencintainya dengan tulus. Hanya kekayaannya yang mampu membuat istrinya bertahan. Setelah ia bangkrut, sikap sang istri begitu acuh dan bahkan sama sekali tak pernah peduli dengan keadaannya yang sakit-sakitan itu.
Sena menunggu jawaban dari sang ayah dengan berharap cemas. Semua keputusan ada di tangan sang ayah. Jika sang ayah tidak ingin melepas ibu tirinya itu, Sena tak bisa memaksa. Namun Sena mungkin akan membenci ayahnya karena sudah memilih wanita yang salah.
"Baiklah. Ayo kita pergi sejauh mungkin, meninggalkan mereka. Ayah nggak mau anak ayah bekerja membanting tulang untuk mereka yang tak peduli dengan keluarganya sendiri." ucap Hendi yang membuat Sena langsung menatap sang ayah. Sena kemudian memeluk sang ayah karena keputusan ayahnya untuk meninggalkan ibu tiri dan saudara tirinya.
"Ya udah, malam ini juga, kita pergi dari rumah itu. Sena akan cari penginapan untuk kita malam ini." ucap Sena girang. Ia kemudian mencari penginapan di internet.
"Ayah, Sena udah pesen kamar di sini. Sena juga udah pesen makanan untuk kita. Kalau Sena belum sampai sana, ayah makan duluan ya." pinta Sena,
"Kamu nggak bareng sama ayah? Kamu mau kemana?" tanya Hendi yang kebingungan.
"Sena mau ambil barang Sena di rumah, sebentar aja. Nanti Sena menyusul." sahut Sena santai, ia tersenyum demi meyakinkan sang ayah.
Hendi akhirnya pergi lebih dulu ke penginapan yang Sena pesan menggunakan taksi. Sementara Sena kembali ke rumah kontrakannya. Sesampainya di rumah, rumah yang masih sepi karena ditinggal penghuninya itu segera diobrak-abrik oleh Sena.
Sena membanting semua skin care milik Lea, lalu menginjak-injaknya. Setelah itu Sena pergi ke dapur mengambil pisau dan kembali ke kamarnya. Ia mengambil beberapa tas branded milik Lea, ia menyobek tas-tas itu menggunakan pisau. Tak puas di situ, Sena juga menghancurkan semua sepatu Lea.
Pakaian-pakaian Lea juga tak terlewatkan begitu saja. Hampir semua barang-barang milik Lea, ia hancurkan. Ia kemudian mengambil tas dan memasukkan beberapa barang miliknya, seperlunya. Setelah itu ia masuk ke kamar ayahnya dan mengambil beberapa baju milik ayahnya.
"Untung saja aku udah jual laptop itu ke Stevan. Kalau Lea yang lebih dulu nemu, aku nggak mungkin punya uang sebanyak ini." batin Sena sambil memasukkan baju-baju ayahnya.
Setelah itu, Sena melirik barang milik ibu tirinya. Sena menggertakkan rahangnya, mengingat bagaimana sang ayah harus mengais makanan sisa karena ulah ibu tirinya itu. Sena juga melakukan hal yang sama ke barang-barang ibunya, seperti apa yang ia lakukan ke barang-barang Lea.
Setelah puas, Sena pergi meninggalkan rumah kontrakannya itu. Sebelum melangkah jauh, Sena menengok kembali rumah yang tampak lusuh itu.
"Ibu, aku akan cari kalung ibu lagi." ucap Sena dalam hati.
Sena langsung mencari taksi dan menyusul ayahnya. Tak lama, hanya butuh waktu sekitar 15 menit baginya untuk tiba di penginapan sederhana itu.
"Ayah sudah makan?" tanya Sena setelah masuk ke kamar,
"Belum, ayah nunggu kamu. Kenapa lama sekali? Apa kamu ketemu Lea dan ibunya?" tanya Hendi penasaran.
"Enggak. Sena malah berharap ketemu sama Lea, Sena ingin jambak rambutnya karena udah berani nyolong kalung ibu." sahut Sena sinis. Ia meletakkan tasnya lalu menuju ke meja yang sudah berisi makanan yang ia pesan.
"Ayo, makan, ayah." ajak Sena, ia sendiri sudah merasa kelaparan sejak tadi. Ayahnya ikut duduk di samping Sena dan ikut makan bersama putri kesayangannya itu.
"Ayah, jangan lagi makan makanan sisa orang. Sena akan lakuin apa aja buat ayah. Sena sekarang punya uang yang cukup buat beli rumah. Tapi sementara kita cari kontrakan lagi karena Sena ingin melunasi hutang-hutang kita. Selain itu, Sena ingin ayah ke rumah sakit untuk periksa kesehatan." ucap Sena lirih, Hendi menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Hendi merasa bangga pada putrinya, tanpa ia tahu apa yang sudah anaknya lalui demi dirinya.
"Baiklah, sayang. Maafkan ayah karena ayah udah buat kamu bekerja keras." sahut Hendi.
"Ayah dulu juga bekerja keras demi Sena. Apa ayah mau Sena berterima kasih sama ayah?" ledek Sena.
Di tempat lain, Lea dan ibunya sedang teriak-teriak tak karuan karena melihat barang-barangnya hancur. Sena tiba-tiba merasa telinganya sakit, namun ia tak begitu peduli.
"Kalian sekarang pasti sedang nangis darah. Aku akan buat kalian menyesal karena udah buat ayah begini." batin Sena.
.
.
"Apa yang terjadi antara kamu dan Sena?" tanya Riyan sambil menikmati sebatang rokok di tangan kanannnya. Ia sedang duduk di balkon di rumah Stevan.
"Kamu nggak perlu tahu." sahut Stevan sinis, Riyan menyeringai.
"Baiklah kalau kamu nggak mau cerita tentang perjanjian di antara kalian. Tapi jangan salahin aku kalau aku buat dia jatuh hati sama aku. Kamu boleh membeli tubuhnya, tapi tidak dengan hatinya." ancam Riyan yang ternyata ampuh membuat Stevan naik darah.
"Yah!!!!!" teriak Stevan tak terima, ia tiba-tiba cemas, takut kalau Sena jatuh hati pada Riyan.
Bersambung...