Kenyataan menyakitkan

1171 Kata
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Riyan yang masih menepuk-nepuk punggung Sena. "Nggak apa-apa." jawab Sena apa adanya. Stevan langsung berdiri, menghampiri meja yang diduduki Riyan dan Sena itu. Tatapan matanya begitu tajam, Riyan menyeringai girang karena tahu kalau Stevan cemburu padanya. "Jaga sikap kalian, ini masih jam kerja. Apa kalian di sini untuk kencan?" ucap Stevan dengan nada sinis yang semakin membuat Riyan ingin tertawa terbahak-bahak. Sena dan Riyan berdiri seketika. "Maaf, Pak." sahut Riyan tegas, kali ini Riyan memilih bersikap profesional. Sena merasa takut setiap Stevan memasang wajah garangnya itu. "Saya juga minta maaf." sahut Sena lirih sambil menunduk. Stevan langsung pergi meninggalkan Riyan dan Sena yang masih berdiri. Riyan menahan tawanya, Sena merasa bingung dengan sikap Riyan. "Kok malah ketawa sih, dimarahin juga." ucap Sena dengan kernyitan di keningnya, "Kamu santai aja, dia lagi PMS. Yang penting dia mau apa, kamu iyain aja." jawab Riyan santai lalu pergi, menyusul Stevan yang lebih dulu keluar kafe. Sena tak mengerti apa yang diucapkan Riyan. Namun ia segera berlari menyusul Stevan dan Riyan. Stevan, Riyan dan Sena kembali ke kantor. "Apa jadwal berikutnya?" tanya Stevan ketika ia dan kedua karyawannya itu berada di lift. "Hari ini tidak ada jadwal rapat atau janji temu lagi. Namun Pak Stevan harus segera membuat video klarifikasi mengenai video semalam sesuai dengan hasil rapat tadi pagi." ucap Riyan, lagi-lagi Sena merasa bersalah karena melihat Stevan harus menanggung semua itu. Sena tampak murung, bahkan ketika mereka sudah sampai di ruangan Stevan. "Kamu sakit?" tanya Riyan pada Sena, Stevan yang baru saja duduk di meja kerjanya langsung melirik Riyan dengan wajah garangnya. Riyan sadar kalau ia baru saja berbuat kesalahan. "Maaf, Bu Sena, Anda sakit?" Riyan mengulangi pertanyaannya dengan bahasa formal demi menghindari amukan Stevan yang tengah dilanda rasa cemburu tak beralasan itu. "Saya minta maaf, Pak. Karena saya, Pak Stevan harus menanggung semua ini. Saya tidak berpikir kalau usaha saya untuk bertahan di dunia yang kejam ini, malah menyusahkan orang lain." sebagai mantan CEO, Sena tahu kalau perusahaan sedang mengalami penurunan saham yang tak sedikit. "Nggak perlu murung seperti itu. Kesalahanmu sudah kamu tebus dengan menjual dirimu ke aku." sahut Stevan santai, ia sengaja memamerkan kekuasaannya tersebut di depan Riyan. Bukannya cemburu, Riyan malah tertawa di dalam hati melihat tingkah aneh teman sekaligus bosnya itu. "Makanya jangan cuma kerja, kerja, kerja. Kamu juga butuh kencan, biar nggak norak seperti sekarang. Ya Tuhan, biar noraknya Stevan cukup aku aja yang tahu." batin Riyan. "Tapi, apa? Jual diri? Maksudnya? Argh, apa sebenernya yang terjadi semalam? Giliran urusan cewek aja, aku nggak dikasih tahu kan? Dasar Stevan norak." batin Riyan lagi. "Ah, benar, aku udah menjual diriku untuk itu semua. Untuk apa aku merasa bersalah? Tapi apa benar kalau dia akan memintaku tidur dengannya? Bukannya dia bilang kalau aku bukan tipenya?" batin Sena yang kini merasa lega. "Baiklah." sahut Sena tegas, Stevan sedikit terkejut dengan perubahan sikap Sena secepat itu. Baru saja ia terlihat murung dan merasa bersalah. Dan setelah Stevan menyebutnya menjual diri, Sena tampak acuh pada Stevan. "Apa ucapanku terlalu kasar?" batin Stevan. "Saya akan menyiapkan kamera untuk Pak Stevan." ucap Riyan memecah keheningan ruangan yang semakin lama terasa dingin itu. "Nggak perlu, pakai HP aja." sahut Stevan yang langsung mengeluarkan ponsel. Ponsel yang baru ia beli semalam setelah ponsel lamanya ia banting. "Kamu, pegang hpnya." ucap Stevan pada Sena yang masih berdiri di dekat Riyan. Sena kemudian mendekati Stevan lalu meraih ponsel yang diulurkan Stevan untuknya. Tanpa rasa gugup atau apapun, Stevan merekam ucapan klarifikasinya mengenai video yang menjadi trending semalam. Sena segera meng-upload video klarifikasi dari Stevan itu ke akun resmi Stevan sesuai dengan panduan Riyan. . . Hari pertama Sena bekerja sebagai asisten sekaligus pelayan Stevan berlangsung lancar. Sena senang karena Stevan memperlakukannya layaknya karyawan biasa ketika di perusahaan. Walaupun ketika di rumah, Sena kesal karena ia merasa seperti w************n ketika ia hanya bisa diam waktu Stevan menciumnya. Namun apa yang bisa Sena lakukan selain menahan semua rasa malu dan kesal itu. "Pulanglah, jam kerjamu sudah habis. Jangan lupa untuk datang seperti hari ini, besok." ucap Stevan ketika Riyan membukakan pintu mobil untuknya. Kali ini, Riyan yang mengantar Stevan pulang. Sementara Sena pulang sendiri, ia berencana menggunakan jasa ojek. "Baik, Pak." sahut Sena lantang, ia lega karena akhirnya ia bisa pulang dan bertemu ayahnya lagi. Selama bekerja, Sena beberapa kali memikirkan ayahnya. Sena takut kalau ibu tirinya dan Lea tak mengurus ayahnya lagi. Sena buru-buru mencari ojek agar bisa segera sampai di rumah. Ketika sampai di rumah, Sena tak menemukan siapapun. Rumah dalam keadaan kosong dan yang membuat Sena marah, lemari pakaiannya berantakan. Sena mengecek tempat di mana ia menyimpan kalung pemberian sang ibu. Benar saja apa yang ia takutkan, kalung itu sudah hilang. Sena berteriak lalu menendang lemari dengan kaki kanannya. Brak! "Lea, kamu akan mati di tanganku!" teriak Sena yang menebak kalau saudara tirinya lah yang mengambil benda berharganya. Sena kemudian teringat kembali kalau sang ayah tak berada di rumah. Ia segera keluar rumah, mencari keberadaan sang ayah. "Ayah di mana? Ini udah malem, kenapa nggak di rumah aja?" batin Sena sambil mencari ayahnya di sekitar rumahnya. Ketika ada beberapa tetangganya yang lewat, Sena memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya. "Bu, permisi. Saya orang baru di sini, ayah saya nggak ada di rumah. Apa kalian melihatnya, ini fotonya." tanya Sena sambil menyodorkan ponselnya yang berisi foto sang ayah pada tetangganya itu. "Oh, bapak ini, tadi saya lihat bapak ini ada di deket tempat pembuangan sampah sana." ucap seorang wanita sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah rumah Sena. "Terima kasih, bu." sahut Sena yang buru-buru mencari ayahnya itu, ia bahkan berlari agar segera menemukan sang ayah. Sena celingukan, ia mencari sang ayah di tempat pembuangan sampah. Namun sang ayah tak ada. Namun Sena tak menyerah, ia masih mencari sang ayah di sekitar lokasi pembuangan sampah itu. Betapa hancur hati Sena ketika melihat pria yang ia sayangi sedang makan di bawah pohon. Ada lampu kecil yang menyorot keberadaan sang ayah, lampu yang menggantung di pohon itu. Sena tak bisa menahan air matanya lagi, menyaksikan sang ayah makan dengan sangat terburu-buru. Tangan sang ayah memegang kertas nasi yang sudah lusuh, Sena yakin ayahnya mencari sisa makanan di tempat pembuangan sampah ini. Sena segera menghampiri sang ayah, ia merebut kertas nasi yang berisi sisa makan orang itu dari tangan ayahnya lalu membuangnya dengan kasar. Sang ayah terkejut melihat putrinya tiba-tiba datang dan memergokinya melakukan hal yang memalukan itu. "Ayah, aku ninggalin uang untuk ayah. Kenapa ayah makan makanan sisa seperti ini?" teriak Sena sambil menangis sesenggukan. "Apa ibu yang ambil uangnya? Atau Lea?" teriak Sena lagi, "Apa ayah nggak punya harga diri? Makan sampah seperti ini? Sena malu, ayah, Sena malu. Sena sakit.." ucap Sena yang kini bersimpuh di tanah, tangisannya semakin menjadi. "Ayah lapar. Maafin ayah kalau ayah buat kamu malu." ucap ayah Sena lirih, dengan suara yang terdengar gemetar. Sena semakin larut dalam tangisannya, ia merasa dunia begitu kejam. Setelah semua yang ia lakukan, setelah ia rela menjual dirinya ke Stevan, ia masih harus menghadapi kenyataan kalau ibu tiri dan saudara tirinya yang jahat. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN