Riyan meletakkan nampan di meja, masih dengan berdiri, ia menyerahkan kopi Stevan di hadapan bosnya itu. Stevan masih kesal pada Riyan dan Sena, ia hanya diam dengan wajah garang yang begitu menakutkan.
"Pak Stevan tak perlu melihat saya seperti itu. Saya tahu Pak Stevan mencintai saya, tapi maaf, saya masih normal." ledek Riyan pada bosnya itu karena Stevan terus menatapnya seakan siap untuk menerkam. Stevan menyeringai, lalu menatap Sena yang tampak kaget dengan candaan Riyan.
Setelah meletakkan kopi Stevan, Riyan mundur dan membawa nampan berisi kopinya itu ke meja yang tak jauh dari meja Stevan. Sena kebingungan dengan apa yang dilakukan Riyan.
"Sebentar lagi rekan bisnis Pak Stevan dateng, jadi kita ambil jarak sambil mendengarkan obrolan mereka dari jauh." terang Riyan yang seakan mengerti dengan kebingungan Sena yang hanya berkedip dengan mulut yang tak tertutup rapat.
Sena akhirnya mengerti, tak lama kemudian datang seorang wanita yang datang dengan membawa keharuman yang semerbak, begitu memanjakan hidung Sena. Sena sendiri pernah menjadi kolektor parfum dari seluruh dunia. Sena tahu merek parfum apa yang dipakai wanita cantik yang ternyata adalah CEO National Group itu. Jangankan merek, Sena bahkan tahu berapa harga parfum itu dan dimana orang bisa membelinya.
"Selamat pagi." sapa wanita cantik yang ditemani sekretaris pria yang tampak gagah. Wanita yang memiliki nama Jeni itu mengulurkan tangannya pada Stevan.
"Pagi." sahut Stevan yang langsung berdiri dan menjabat tangan Jeni.
"Apakah saya terlambat? Maaf kalau saya membuat pria setampan Anda harus menunggu lama." ucap Jeni dengan suara merdunya.
"Ah, pujian Anda membuat saya besar kepala. Anda tidak terlambat, tak perlu sungkan." ucap Stevan yang menyambut Jeni dengan suara yang nyaman sekali didengar.
"Silakan duduk. Mau kopi?" ucap Stevan, Jeni langsung duduk, namun sang sekretaris masih berdiri di sampingnya.
"Aku mau teh aja." ucap Jeni pada sekretarisnya. Pria berbadan kekar itu langsung pergi untuk memesan teh sesuai yang Jeni inginkan.
"Aku nggak bisa minum kopi, malamnya selalu susah tidur." terang Jeni pada Stevan.
Obrolan Stevan dan Jeni berlangsung cukup lama. Perkiraaan Riyan yang memperkirakan bahwa janji temu itu hanya akan memakan waktu sekitar 30 menit, nyatanya salah. Jeni sangat tertarik pada Stevan, ia memang sengaja mengajak Stevan mengobrol tentang banyak hal. Tentu saja tentang bisnis agar Stevan tak curiga.
Sena sendiri merasa iri dengan Jeni. Penampilan Jeni mampu membuat wanita rela melakukan apa saja agar bisa menjadi dirinya. Selain cantik, Jeni adalah CEO muda yang disukai oleh banyak pebisnis pria. Mulai dari yang masih single sampai yang sudah beristri.
Namun lagi-lagi Stevan tak memiliki perasaan apapun pada Jeni. Yang Stevan lakukan hanyalah sebatas urusan pekerjaan. Stevan bahkan sesekali melirik Sena untuk melihat sedekat apa Sena dengan Riyan.
"Senang bisa bekerja dengan Anda. Selain tampan, ternyata benar kalau Anda juga memiliki pengetahuan yang luas. Saya jadi bisa banyak belajar dari Anda." ucap Jeni yang seperti angin segar bagi Sena. Ia mulai jenuh harus berdiam diri mendengar Jeni yang seolah pamer dengan kesuksesannya selama ini. Sena malu karena ia tak bisa seperti Jeni dan malah membuat perusahaan ayahnya bangkrut.
"Saya yang seharusnya berterima kasih kepada pemimpin perusahaan besar yang cantik seperti Anda. Karena telah sudi bekerja sama dengan perusahaan kami yang masih merintis ini." ucap Stevan yang menyanjung rekan bisnisnya itu. Selain memanfaatkan ketampanannya, Stevan selalu menggunakan trik yang satu itu, menyanjung rekan bisnisnya.
"Jangan merendah, siapa yang tak tahu sepak terjang seorang Stevan Prayoga di dunia bisnis ini?" sahut Jeni.
.
.
.
Di rumah Sena, Lea sedang mengobrak-abrik barang-barang milik Sena. Lea mencari barang berharga milik Sena yang bisa ia jual. Setelah tadi pagi ia tahu kalau Sena memberi uang pada ayah tirinya, Lea kira Sena memiliki uang simpanan yang Sena simpan di dalam kamarnya itu.
Tadi pagi, setelah bangun tidur, ayah Sena dibuat terkejut dengan teriakan istrinya. Ibu tiri Sena menanyakan dari mana ayah Sena bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Uang itu tak sengaja jatuh ke kasur ketika ayahnya Sena beranjak dari kasur tipis itu.
Setelah kejadian itu, Lea memutuskan untuk menggedah kamarnya. Namun, bukannya menemukan uang, Lea malah menemukan kalung yang Sena simpan di dalam saku di salah satu baju Sena. Kalung itu adalah kalung peninggalan ibu kandung Sena. Bahkan ada nama ibu kandung Sena yang terukir di sana, "Melia".
Kalung itu sengaja Sena sembunyikan selama ini karena takut ibu tirinya tahu dan merebutnya darinya. Itu adalah satu-satunya kenangan yang Sena miliki dari sang ibu. Sena tak ingin kehilangan benda berharganya yang satu itu. Sayangnya, kini Lea menemukannya dan berniat menjualnya.
Lea tersenyum licik ketika ia menemukan kalung milik Sena itu. Ia senang karena ia bisa punya uang untuk pergi ke club nanti malam dengan teman-temannya. Namun sebelum ia pergi, ia merapikan kembali barang-barang milik Sena agar Sena tak mencurigainya.
Ketika Lea sedang merapikan isi lemari pakaian Sena, sang ayah tanpa sengaja melihat. Sang ayah yang berniat ingin meminta Lea membelikannya makan itu malah mendapati Lea yang mengobrak-abrik lemari pakaian Sena.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya sang ayah curiga, Lea bahkan tampak santai saja ketika ayah tirinya itu masuk ke kamarnya.
"Lagi ngerapiin lemari Sena. Tadi ada kecoa yang masuk." kilah Lea dengan santainya.
Sang ayah tahu kalau putri tirinya itu sedang berbohong. Ia segera mendekati Lea lalu mencoba melihat apa yang ada di genggaman tangan Lea.
"Aku rela dipukuli rentenir, demi kamu. Aku sudah menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Tapi jangan pernah ganggu Sena, jangan sentuh barang-barangnya." ucap sang ayah.
Lea merasa kesal karen sang ayah berusaha merebut kalung Sena darinya. Ia lantas mendorong sang ayah sampai ayah tirinya itu tersungkur di lantai.
"Kalau ayah nggak bangkrut, aku juga nggak akan begini." teriak Lea yang langsung meninggalkan kamar. Ia bahkan belum selesai merapikan pakaian Sena.
Ayah Sena menangis sepeninggal Lea, ia menyesal karena sudah membawa Lea dan ibunya untuk menjadi keluarganya. Ayah Sena mengingat kembali apa yang sudah istrinya itu katakan tadi pagi.
"Nggak ada makanan untuk kamu hari ini. Ini hukuman karena kamu berani nyembunyiin uang dari istri kamu." teriak ibu tiri Sena pada ayah Sena.
Ayah Sena menangis sesenggukan, ia sadar karena salah memilih istri. Wanita yang ia harapkan bisa menjadi ibu yang baik untuk Sena, nyatanya hanya mengincar hartanya saja. Lea yang diharapkan bisa menjadi saudara sekaligus teman bagi Sena, malah menjadi beban tambahan untuk Sena.
Andai waktu bisa terulang kembali, ayahnya Sena tak ingin menikahi ibunda Lea itu. Istrinya itu mencintainya karena uang, setelah ia bangkrut dan jatuh miskin, ia disia-siakan seperti gelandangan.
Di tempat lain, Sena yang menyesap tehnya secara terburu-buru karena Jeni sudah pergi, malah tersedak. Sena tiba-tiba teringat pada ayahnya. Riyan buru-buru menepuk punggung Sena, pelan saja. Hal itu malah membuat Stevan semakin ingin memisahkan Riyan dengan Sena.
Bersambung...