Sena berjalan sedikit terburu-buru, ia berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Stevan. Untung saja sepatu Sena masih bagus sehingga ia tak perlu khawatir kalau heels sepatunya akan patah karena ia berjalan seperti itu.
Sena mengulas senyum di wajahnya, sejak ia menginjakkan kakinya di perusahaan Prayoga Group itu. Stevan berjalan seperti biasa, setiap karyawan yang bertemu dengannya selalu menundukkan kepala untuk memberi hormat padanya.
Semua mata pun tertuju pada wanita cantik yang berjalan di samping Stevan. Wanita yang tersenyum dengan tangan yang menenteng tas Stevan. Namun para karyawan di Prayoga Group itu hanya bisa memendam rasa penasaran mereka.
Sesampainya di ruangan Stevan, Riyan sudah menunggu bersama dengan beberapa karyawan. Mereka memang sedang menunggu Stevan karena rapat yang seharusnya diadakan jam 8, harus diundur sampai Stevan datang.
Stevan langsung duduk di sofa tunggal, menghadap para karyawannya itu. Sementara Sena masih berdiri, ia tak tahu harus bagaimana.
"Duduklah." titah Stevan yang melihat Sena hanya berdiri saja seperti patung. Sementara para karyawan yang ada di ruang Stevan menatap aneh pada Sena.
Riyan memberi ruang bagi Sena agar Sena bisa duduk di sampingnya.
"Dia Sena, asisten pribadiku." terang Stevan yang super singkat. Tak ada yang berani bertanya apapun tentang Sena, Riyan hanya tersenyum menyambut kedatangan Sena. Sementara yang lain seperti tak peduli, walau sebenarnya mereka sangat penasaran dengan Sena.
Bagaimana Sena bisa menjadi asisten Stevan, sementara selama ini Stevan digosipkan memiliki hubungan spesial dengan Riyan. Tentu saja gosip itu muncul seiringnya Stevan yang tak pernah dekat dengan wanita manapun. Hampir separuh waktunya, ia habisnya hanya dengan Riyan, sekretarisnya.
Kini Sena hadir, memberi rasa penasaran pada para karyawan di Prayoga Group itu. Siapa sebenarnya Sena dan bagaimana bisa Sena menempati posisi itu.
"Baiklah, kita mulai rapatnya." ucap Stevan yang menghentikan tatapan aneh para karyawannya itu yang sedari tadi menuju ke Sena.
"Kita mulai membahas tentang penurunan nilai saham setelah nama Pak Stevan menjadi trending topik tadi malam." ucap Riyan yang memulai rapat.
Rapat berlangsung selama kurang lebih 90 menit. Selesai rapat, semua karyawan keluar dari ruangan Stevan. Hanya tinggal Sena dan Riyan yang setia menemani Stevan. Kedua manusia itu layaknya tangan kanan dan tangan kiri Stevan saat ini.
"Untung saja Bu Sena pakai fake account, jadi kita nggak perlu takut para wartawan akan menyorot Bu Sena yang tiba-tiba bekerja dengan Pak Stevan." ucap Riyan ketika bosnya sibuk mengamati perkembangan kasus video yang diunggah Sena semalam.
Sena merasa bersalah pada Stevan, ia hanya bisa diam dan menunduk.
"Apa jadwalku setelah ini?" tanya Stevan yang tak ingin membahas masalah itu lebih lama.
"Pak Stevan memiliki janji temu dengan CEO dari National Group. Untuk membicarakan kerja sama perdana kita dengan perusahaan mereka. Kita masih memiliki waktu sekitar 15 menit lagi." jawab Riyan tegas.
"Baiklah." sahut Stevan santai,
"Kamu, mulai tanyakan semua jadwal-jadwalku ke Riyan. Kamu harus tahu semua jadwalku. Kamu harus siap menggantikan Riyan kalau dia nggak ada. Dan kamu juga harus mencatat semua yang aku katakan, terutama ketika rapat." perintah Stevan pada Sena.
"Semuanya, Pak?" tanya Sena lirih,
"Poin-poin yang penting aja, dodol." jawab Stevan yang geram pada sikap polos Sena.
"Kalau aku dodol, kamu bakpia. Bakpia gosong yang udah jamuran." batin Sena,
"Berhenti menyumpahiku di dalam hati!" teriak Stevan yang membuat Sena membulatkan matanya. Sena tak percaya kalau Stevan akan tahu kalau ia menyumpahi bosnya itu di dalam hati.
Stevan beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi, keluar dari ruangannya. Sena dan Riyan segera mengikuti bosnya itu. Ketika mereka memasuki lift, Riyan menyerahkan buku kecil berisi jadwal Stevan.
"Itu jadwal Pak Stevan sampai akhir pekan. Kamu pelajari baik-baik." ucap Riyan, Sena tersenyum.
"Yang paling penting, jangan pernah menolak perintah Pak Stevan. Ingat itu." bisik Riyan, membuat Stevan mengernyitkan dahinya. Stevan tak suka jika Riyan terlalu dekat dengan Sena.
"Kita mau kemana?" bisik Sena ke Riyan, kedua manusia itu malah saling berbisik dan membuat Stevan naik darah.
"Kalau kalian bisik-bisik sekali lagi di belakangku, kalian aku pecat." ancam Stevan yang lalu melangkah keluar dari lift.
"Ke kafe di seberang jalan sana. Bu Sena perlu tahu dan ingat ini baik-baik. Pak Stevan nggak suka keluar jauh-jauh dari kantor. Jadi kalau ada rapat atau janji temu yang mengharuskan Pak Stevan keluar kantor, sebisa mungkin kita ajak orang itu untuk bertemu di kafe itu. Kalau memang terpaksa, baru kita menyerah dan menuruti keinginan mereka." terang Riyan sambil berjalan di belakang Stevan.
Kini Riyan tak lagi berbisik pada Sena, dan hal itu membuat Stevan tersenyum senang. Karena Stevan tahu apa yang Riyan obrolkan dengan Sena. Dan yang paling penting, kedua manusia itu tak membahas masalah pribadi mereka. Stevan merasa resah dan takut kalau Sena merasa lebih nyaman dengan Riyan dibanding dengannya.
.
.
Sesampainya di kafe yang dituju, Stevan langsung duduk di salah satu meja yang masih kosong. Sementara Sena mengikuti Riyan yang memesan minuman untuk bosnya itu.
"1 kopi hitam, gulanya tolong langsung dicampur, cukup setengah sendok saja. 1 lagi kopi hitam dengan gula terpisah." ucap Riyan ke pelayan kafe, lalu ia melirik Sena.
"Aku teh aja." sahut Sena yang seakan paham apa yang diinginkan Riyan.
"Ingat, Pak Stevan sangat suka kopi. Dan kopinya jangan terlalu manis, cukup setengah sendok saja gulanya. Yang paling penting, gula harus dicampur. Dia bisa marah kalau gulanya dimasukkan terakhir." terang Riyan ke Sena. Sena bahkan menulisnya agar ia tak lupa.
"Cemilannya?" tanya Sena,
"Dia nggak suka ngemil." jawab Riyan sambil melirik bibir Sena. Sena merasa risih dengan lirikan Riyan yang menurutnya tak sopan.
"Berapa lama Stevan cium kamu?" tanya Riyan yang seperti tak ada rem saja mulutnya itu. Sena membulatkan matanya karena malu, bahkan pelayan kafe ada yang memperhatikan mereka sejak tadi.
"Bagaimana dia tahu kalau Stevan nyium aku? Apa Stevan udah biasa nyium cewek? Dasar Stevan brengs€k." batin Sena.
"Pasti Stevan udah nyium nih cewek. Lihat aja, lipstick di bibirnya udah pada luntur sejak ia dateng tadi." batin Riyan yang ternyata hanya menduga-duga.
"Maaf, aku nggak perlu jawab pertanyaan kamu ini kan?" ucap Sena yang berusaha bersikap santai.
"Silakan." ucap pelayan yang lalu menyodorkan nampan berisi pesanan Riyan. Riyan menyodorkan kartu kredit untuk membayar pesanannya itu. Tanpa menunggu lama, sang pelayan mengembalikan kartu kredit Riyan setelah proses pembayarannya selesai.
"Baiklah kalau nggak mau jawab. Aku tanya sendiri aja sama Stevan." ledek Riyan setelah mengambil nampan berisi kopi pesanannya.
Sena segera menghadang langkah Riyan, ia takut kalau Riyan akan benar-benar menanyakan hal itu pada Stevan. Tentu saja Sena tak ingin menanggung malu karenanya.
Ketika Riyan dan Sena sedang adu tatap, Stevan mengamati mereka dengan emosi yang siap meledak. Stevan benar-benar tak suka melihat kedekatan Riyan dengan Sena.
"Aku nggak ngitung berapa menit, tapi nggak lama-lama banget kok." aku Sena pada Riyan, pria itu menyeringai.
"Jadi benar, pria bodoh itu udah nyium kamu. Stevan, jadi wanita macam Sena ini yang bisa buat kamu jatuh cinta? Lihat aja, aku akan buat kalian bersama, selamanya." batin Riyan. Ia senang karena akhirnya ada wanita yang bisa membuat Stevan menunjukkan kejantanannya.
Riyan sangat tahu kalau bosnya yang sekaligus temannya itu tak pernah mencium wanita terlebih dahulu. Bahkan Riyan pernah ikut mencurigai kenormalan Stevan. Ketika Sena pulang semalam, Riyan bahkan melihat dan mengecek ranjang di kamar hotel. Riyan tahu kalau Stevan tak melakukan apapun pada Sena. Hal itu membuat Riyan semakin mencurigai Stevan.
Namun, kini Riyan bisa bernafas lega karena akhirnya ia tahu kalau selama ini Stevan hanya belum menemukan yang tepat.
Riyan melirik Stevan yang sebenarnya sudah memandangnya sedari tadi dengan tanduk yang siap menyerang.
"Tolong jangan tanya itu sama Pak Stevan. Aku nggak mau dipecat." ucap Sena memelas.
"Tenang aja, kamu nggak akan pernah dipecat nona muda." ucap Riyan dengan suara yang sangat lirih, sampai Sena tak mampu mendengarnya. Riyan berjalan ke meja Stevan dengan senyum mengembang, Sena mengikutinya di belakangnya.
Bersambung...