"Di rumah, kamu pelayanku. Tapi di kantor, kamu adalah asistenku. Ingat itu baik-baik." ucapan Stevan yang berhasil membuat Sena tersadar dari mimpinya yang ingin kembali menjadi CEO seperti dulu.
"Ah." jawab Sena yang tak terlalu fokus dengan ucapan bosnya itu. Stevan geram dan menendang kaki Sena lagi, namun tak terlalu keras. Seperti sebelumnya, Sena meringis kesakitan.
"Kalau di rumah, kamu pelayanku. Tapi kalau di kantor, kamu asistenku. Kamu harus bisa menempatkan diri dengan baik. Salah sedikit aja, kamu, aku pecat." ucap Stevan yang langsung menarik piring di hadapan Sena dan memakannya sendiri.
"Baik, Tuan. Saya harus panggil Tuan apa nanti kalau di kantor?" tanya Sena dengan suaranya yang nyaring di dengar.
"Panggil aku seperti Riyan memanggilku." sahut Stevan datar.
"Baik, Tuan." ucap Sena tegas.
Ketika Stevan masih sibuk mengunyah makanannya sambil menatap layar ponselnya, tiba-tiba saja suara keroncongan terdengar mengisi ruang makan yang luas nan megah itu. Seketika itu juga Stevan menghentikan aktivitasnya yang sedang mengunyah makanan.
Stevan menoleh ke arah Sena lalu melirik ke perut Sena. Sena pura-pura tidak terjadi apa-apa, ia hanya diam dan mengedipkan matanya berkali-kali.
"Kamu laper?" tanya Stevan ragu, ia sadar kalau sedari tadi ia hanya makan sendiri.
"Enggak Tuan." jawab Sena sambil menggelengkan kepala. Namun tepat setelah ia menjawab pertanyaan Stevan itu, perut Sena kembali mengeluarkan suara keroncongan.
Sena memejamkan matanya lalu mengatupkan kedua bibirnya, menahan malu karena perutnya tak bisa diajak berbohong. Stevan sendiri merasa bersalah, namun ia masih menjaga imagenya dengan bersikap dingin pada Sena.
"Makanlah, kamu mau aku gendong kamu lagi kalau kamu pingsan?" teriak Stevan, ia mencoba menutupi rasa bersalahnya dengan bersikap kasar pada Sena.
"Emang kapan kamu pernah gendong aku?" batin Sena,
"Baik, Tuan." jawab Sena malu-malu. Sena akhirnya mengambil piring, ia ikut makan di samping Stevan. Keduanya sibuk sendiri- sendiri sampai ruang makan itu terasa sunyi. Hanya terdengar dentingan suara sendok yang membentur piring, namun tak terlalu keras pula.
Selesai makan, Stevan mengajak Sena untuk segera berangkat kerja. Sena berlari lebih dulu mendekati mobil yang sudah disiapkan sopir Stevan itu. Sena membukakan pintu untuk Stevan, Stevan masuk dengan santai. Ketika Sena hendak menutup pintu mobil itu dari luar, Stevan mencegahnya.
"Duduk di belakang." titah Stevan,
"Baik, Tuan." jawab Sena yang kemudian ikut masuk ke mobil dan duduk di samping Stevan.
Perjalanan mereka dilalui dengan damai, Stevan tak melakukan banyak hal dan tak membuka mulutnya sama sekali. Sena pun bersikap santai, walau sebenarnya ia takut dan gugup. Sena takut dan gugup pada hal yang tidak ia ketahui. Yang pasti, hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
Stevan sendiri diam sambil terus menatap ponselnya. Ia ingin melihat apakah namanya masih menjadi trending topik di media sosial. Tentu saja Sena sudah menghapus postingannya tentang video Stevan dan bahkan mengunci akun instagramnya itu. Sementara Riyan juga bekerja keras agar para wartawan tak membahas lagi gosip-gosip tentang Stevan.
Sesampainya di depan kantor, Sena hendak membuka pintu mobil. Namun tangan Stevan lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Sena menatap lekat pada Stevan yang sudah menatapnya lebih dulu.
"Ingat, di rumah, kamu pelayanku. Dan di kantor, kamu asistenku." ucap Stevan yang kemudian melepas tangan Sena.
"Baik, Pak." ucap Sena yang sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Sena membuka pintu, namun belum sampai kakinya menginjak tanah, Stevan mengucapkan hal yang tak bisa ia bantah sedikit pun.
"Dan ingat, di manapun kita berada, kamu adalah milikku.".
.
.
Sementara di rumah megah milik Presiden Direktur Prayoga Group, anak bungsu sang Presdir yang tak lain adalah saudara tiri Stevan, masih terlelap dalam tidurnya. Setelah semalaman ia berpesta dengan teman-temannya. Sekitar jam 4 pagi putra bungsu Presdir Prayoga Group itu baru pulang.
"Pa, sampai kapan Kevin akan hidup seperti itu? Bukannya papa seharusnya bicara sama Kevin, supaya dia mau belajar berbisnis seperti Stevan?" ucap ibunda Stevan pada suaminya, ayah tiri Stevan yang juga Presiden Direktur Prayoga Group. Keduanya sedang menikmati sarapan. Stevan memang memilih hidup terpisah dari mereka karena tak sanggup melihat ayah tirinya yang selalu pilih kasih terhadapnya.
"Biarkan saja, dia masih muda. Toh ada Stevan yang sudah menggantikan posisiku di kantor. Kenapa? Kamu nggak suka karena anak kamu yang cari uang. Sementara Kevin yang menghabiskannya?" sahut pemilik Prayoga Group itu. Ia memang begitu memanjakan sang anak, Kevin Prayoga.
"Bukan begitu, pa. Stevan kan anak papa juga. Mama cuma mau yang terbaik buat anak-anak kita. Untuk Stevan, kemampuannya dalam berbisnis udah nggak perlu diraguin lagi. Sementara Kevin, dia perlu banyak belajar dari papa." ucap wanita yang bernama Rita itu.
"Kamu nggak perlu khawatirkan Kevin. Dia akan berubah kalau sudah saatnya. Kamu urus aja anak kamu itu. Kamu nggak lihat, semalam namanya jadi trending topik di internet. Dan karenanya, nilai saham perusahaan jadi turun." sahut Danu, ayah tiri Stevan.
Rita kembali menelan rasa kecewa, ia sadar betul kalau suaminya pilih kasih terhadap Stevan dan Kevin. Kevin selalu menjadi prioritas utama di atas segalanya bagi Danu. Namun sejak Rita memutuskan menikah dengan Danu, ia sudah terbiasa menelan rasa kecewa dan bahkan sakit hati.
Rita masih ingat, bagaimana Danu mengancamnya akan menceraikannya dan membuat Stevan jatuh miskin jika Rita berani meninggalkannya. Sementara Danu begitu mencintai Rita karena kecantikannya. Namun Danu tak bisa menerima Stevan dengan lapang d**a, ia selalu bersikap kejam pada anak tirinya itu. Dan itu membuat Rita diam-diam menangis karena melihat anaknya yang diperlakukan tak adil.
Rita sendiri sangat takut pada Danu, ia tak ingin hidup miskin lagi. Kenangannya dulu ketika hidup menjanda dengan kondisi di mana Stevan pernah menangis karena kelaparan, membuat Rita bertahan. Rita berpikir kalau Stevan lebih baik hidup sebagai CEO dengan status anak tiri dari pada harus menjadi orang miskin lagi.
Namun terlepas dari semua rasa kecewanya pada sang suami. Kini Rita bangga pada putranya karena berhasil menjadi CEO muda yang sukses dan terkenal. Ketika Stevan masih sering berkelahi dulu, Rita sempat khawatir kalau anak kandungnya itu tak bisa memiliki masa depan yang cerah. Kini, semua rasa khawatirnya sudah lenyap karena Stevan mampu membuktikan kalau dirinya mampu menjadi yang terbaik.
"Kalau papa nggak puas dengan kinerja Stevan. Kenapa papa nggak minta Kevin, anak kesayangan papa itu untuk menggantikan Stevan di perusahaan?" tanya Rita yang memberanikan diri untuk melawan suaminya. Rita sudah terlalu sering melihat suaminya bersikap kejam pada Stevan. Rasanya Rita ingin sekali menggugat cerai Danu.
Tak peduli seberapa cintanya ia pada Danu, Rita memilih kebahagiaan Stevan di atas segalanya. Kini, Stevan sudah menjadi orang sukses. Rita mulai berani membantah suaminya walau sebenarnya ia takut kalau suaminya akan main tangan padanya.
Danu memang sering main tangan pada Stevan. Namun Danu tak pernah main tangan pada sang istri karena ia begitu mencintai ibu Stevan itu yang awet cantik di usia yang tak lagi muda.
Stevan sendiri pernah dipukuli oleh Danu ketika Stevan masih tertidur pulas. Dan itu terjadi tak hanya sekali, itu sebabnya Stevan seperti merasa trauma. Stevan akan menyerang siapa pun yang berani memegangnya ketika ia sedang tertidur.
Danu tampak marah ketika Rita mencoba melawannya dengan kata-kata. Danu merasa Rita mulai besar kepala setelah kesuksesan anaknya itu.
"Kamu jangan terlalu sombong, Stevan bisa sukses karena ada nama Prayoga yang melekat di belakang namanya. Dia bisa sukses karena aku, dan aku juga bisa mengambil kesuksesannya itu jika aku mau. Berhenti membanggakan anakmu itu kalau kamu tidak ingin aku merebut kesuksesannya." ancam Danu yang kemudian pergi tanpa menyelesaikan sarapannya itu.
Bersambung...