Stevan terkejut ketika melihat Sena berlutut. Stevan jadi berpikir kalau Sena benar-benar tak membuat salinan atas video-video itu.
Stevan menyeringai, ia puas melihat Sena bertekuk lutut padanya. Bahkan hanya dengan ucapannya saja, Sena sudah menyerah padanya.
"Berani sekali kamu mencoba tawar-menawar denganku? Kamu udah bosan hidup?" ucap Stevan yang kini kembali duduk di ranjang.
Sena masih berlutut di tempat semula, kepalanya menunduk dan keringatnya yang bercucuran mulai membasahi sebagian rambutnya. Seluruh tubuh Sena gemetaran, degub jantungnya seakan hampir meledak saja.
Jangankan menatap Stevan, mengangkat wajahnya saja sudah tak mampu. Yang bisa Sena lakukan saat ini hanya diam, meminta ampun dan berdoa agar ia selamat.
"Se.. Sena 123." ucap Sena terbata, ia masih menunduk, suara yang ia ucapkan pun sangat lirih.
"Apa?" tanya Stevan karena ia tak bisa mendengar ucapan Sena dengan jelas.
"Sena 123." Sena mengulangi ucapannya, dengan suara yang lebih lantang walau tak selantang biasanya.
Stevan menyeringai puas, ia meraih laptop milik Sena lalu memasukkan password sesuai yang Sena ucapkan. Ketika berhasil masuk, Stevan langsung mencari video-video tentang dirinya.
"Apa nama foldernya? Di mana?" tanya Stevan yang tak kunjung menemukan hal yang ia cari.
"Nama foldernya Preman Sekolah, aku simpan di C." aku Sena yang mulai bisa mengontrol degub jantungnya. Walaupun masih dirundung rasa takut yang luar biasa, Sena hanya berusaha menjawab pertanyaan Stevan agar Stevan tak marah padanya.
"Ck, preman?" gerutu Stevan sambil menyeringai, ia kemudian mencari folder yang disebutkan Sena barusan.
"Password?" tanya Stevan karena untuk bisa membuka folder, Stevan membutuhkan password.
"Stevan si preman, nggak pakek spasi." sahut Sena lirih, Stevan tertawa sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu bener-bener punya dendam sama aku?" gerutu Stevan yang langsung mengecek beberapa video yang direkam Sena.
Video-video itu hanya berdurasi kurang dari 30 detik. Itu membuktikan kalau Sena hanya mencoba merekamnya walau hanya sekian detik saja. Stevan paham kalau Sena mengumpulkan semua bukti kalau ia memang preman semasa sekolah dulu.
Stevan tak menghapus video-video dan malah menutup laptop Sena. Stevan menatap Sena yang masih berlutut di tempat semula. Stevan menatap Sena dengan rasa iba.
"Kamu berhasil buat aku menciummu lebih dulu. Kali ini, kamu berhasil membuatku merasa iba. Sena, apa yang sudah kamu lakukan padaku?" batin Stevan.
"Ambilkan ponselku." titah Stevan, Sena mendongakkan kepalanya lalu mencari-cari di mana benda yang diinginkan Stevan itu berada.
Sambil terus mencari, Sena berusaha berdiri dengan susah payah. Sena hampir terjatuh ketika ia menyadari kalau kakinya kram. Sena meringis, menahan sakit yang ia rasakan. Ketika melihat Sena hampir terjatuh, hampir saja Stevan berlari ingin menolong Sena. Namun ketika melihat Sena mampu berdiri sendiri, Stevan mengurungkan niatnya.
Sena menuju ke nakas, tempat Stevan meletakkan ponsel. Sena berjalan dengan tertatih, namun ia berusaha mengumpulkan semua tenaganya agar tak terlihat lemah di depan teman sekelasnya itu.
Segera setelah menerima ponselnya yang diberikan Sena, Stevan menggerak-gerakkan jempolnya di atas layar ponselnya. Setelah itu ia kembali menyerahkan ponselnya ke Sena yang masih berdiri di depannya dengan wajah lesu.
Sena kebingungan, ia tak tahu kenapa Stevan memberinya ponsel itu. Sena menerimanya dengan ragu, namun ia hanya diam setelah itu.
"Masukkan nomor rekeningmu." ucap Stevan yang kini berbicara dengan pelan. Stevan merasa dirinya terlalu keras pada Sena. Dan entah bagaimana Stevan tak ingin melihat Sena berlutut seperti tadi.
Sena menatap Stevan dengan mata berbinar, ia senang akhirnya Stevan mau mengganti video-video itu dengan uang. Walaupun ia harus mati saat ini juga, setidaknya uang yang dikirim Stevan bisa ayahnya gunakan untuk membayar hutang.
Sena mengetik nomor rekeningnya dengan semangat. Setelah itu, Sena menyerahkan ponsel bosnya itu dengan senyuman yang mampu membuat hati Stevan bergetar.
"Uangnya sudah aku kirim, silakan cek. Aku bayar lebih untuk laptop busukmu ini. Aku terlalu malas untuk menyalin video-video itu. Jadi aku berniat menghancurkan, semuanya." ucap Stevan yang disambut dengan senyuman Sena yang semakin melebar.
"Terima kasih, Tuan." ucap Sena girang, Stevan pun ikut tersenyum melihat Sena tersenyum.
"Ingat, jangan berani-beraninya kamu buat penawaran denganku. Denganku, aku yang menentukan segalanya." ucap Stevan lantang,
"Baik, Tuan. Maafkan atas sikap saya yang lancang. Saya tidak akan mengulanginya lagi." sahut Sena antusias. Sena tak peduli jika harus diperlakukan seenaknya oleh Stevan, asal Stevan tak berlaku kejam padanya.
"Bawa jasku dan tasku, ayo turun. Aku mau sarapan." ucap Stevan yang langsung berdiri dari ranjangnya itu dan meninggalkan kamarnya. Sena buru-buru mengambil jas dan tas Stevan yang masih ada di ruang pakaian.
Sena berlari menuruni tangga, namun sebisa mungkin langkahnya tak menimbulkan suara berisik. Sena bahkan lupa beberapa saat yang lalu ia menjadi pecundang yang sesungguhnya. Jangankan untuk berlari, berdiri tegak saja ia tak mampu. Dan semua itu disebabkan oleh sikapnya yang tak sabaran dan tamak.
Sesampainya di lantai bawah, Sena melihat Stevan sudah duduk di bangku di ruang makan. Sena segera menghampirinya dan meletakkan jas dan tas Stevan di bangku kosong. Namun Sena dengan sadar diri memilih berdiri tak jauh dari Stevan duduk.
Stevan baru saja menyeruput kopi yang tak terlalu manis di hadapannya. Stevan melirik Sena yang memilih berdiri.
"Duduklah. Layani aku." titah Stevan yang langsung dituruti oleh Sena. Sena duduk di bangku yang tepat berada di samping bangku Stevan. Sena mengambilkan nasi ke piring Stevan, beserta dengan lauk-pauknya.
"Silakan, Tuan." ucap Sena pelan,
"Suapi aku." pinta Stevan yang membuat Sena sedikit terkejut. Sena tak habis pikir kalau Stevan bahkan akan memintanya menyuapi Stevan.
"Kamu punya tangan, kenapa bisa semanja ini? Apa tanganmu hanya kamu gunakan untuk berkelahi saja?" batin Sena lagi,
"Baik, Tuan." ucap Sena patuh. Mulut dan hati Sena berbicara bertolak belakang. Kalau ada kesempatan, Sena ingin sekali memaki Stevan. Namun, kali ini ia akan bertahan. Demi ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Sena akhirnya menyuapi Stevan dengan hati-hati. Sena berusaha agar setiap makanan yang ada di sendok itu bisa masuk ke mulut Stevan tanpa ada yang terjatuh. Stevan mungkin akan marah jika ia membuat baju Stevan kotor karena makanan itu.
"Ini sudah jam 8. Tuan bilang, Tuan biasa berangkat bekerja jam 8." ucap Sena yang mencoba mengingatkan Stevan. Sena takut, ia yang akan dimarahi Stevan jika ia tak mengingatkan Stevan mengenai waktu kerjanya.
"Aku bosnya, suka-suka aku mau berangkat jem berapa." sahut Stevan yang tampak santai sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sementara mata dan jari-jarinya terfokus ke layar ponsel yang melihat laporan-laporan dari Riyan yang dikirim via email.
Sena terdiam, ia tak merasa marah karena apa yang diucapkan Stevan memang benar. Yang membuat Sena heran, bagaimana perusahaan Stevan berkembang pesat jika Stevan bersantai seperti itu. Sementara ia yang membanting tulang dan memutar otaknya, pada akhirnya harus menjadi gelandangan setelah perusahaannya bangkrut.
Sena tiba-tiba berpikir ingin belajar kiat sukses agar ia bisa seperti Stevan. Bukan kekuasaan yang ia butuhkan. Bukan pula kemewahan yang ia nikmati sejak ia lahir. Sena ingin sukses dan memiliki penghasilan besar demi memenuhi kebutuhan ayahnya yang sedang sakit-sakitan itu.
"Di rumah, kamu pelayanku. Tapi di kantor, kamu adalah asistenku. Ingat itu baik-baik." ucap Stevan lantang.
Bersambung...