Azela menggeliat pelan dalam tidurnya, menyadari sesuatu yang melilit perutnya dengan keras yang membuatnya menoleh dengan cepat dengan mata yang membulat sempurna saat menemukan wajah pria yang sangat ingin dihindarinya saat ini berada tepat disisi wajahnya.
"A-hmpp!
Tangan hangat itu membungkam mulutnya, Azela makin menggeliat memberontak mencoba melepaskan dirinya.
"Jangan berteriak, Sayang."
Suara serak itu membuat tubuh Azela membeku, kedua matanya yang nyalang menatap mata kelam diatasnya dengan nafas terengah.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya Azela dengan suara seraknya membuat pria itu menggeram tertahankan, matanya menggelap seolah ingin melahap gadis itu bulat bulat.
"Azela."
Geramnya dengan rahang yang mengeras, Azela menelan salivanya susah payah.
Pria ini benar benar panas dan berbahaya.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?"
Pria itu kembali menggeram bergerak menyusuri rahangnya dengan ujung hidungnya, Azela lagi lagi menelan salivanya susah payah merasakan kecupan kecupan basah di sepanjang lekukan lehernya.
"Leo-"
Nafas Azela tercekat merasakan lidah panas itu bermain meninggalkan jejak panas yang menyiksa.
"Lebih tempatnya diranjangmu."
Azela nyaris mendesah merasakan bisikan sensual itu mengalun begitu menggoda ditelinganya.
"Bagaimana bisa?"
Azela menahan nafasnya merasakan jemari panjang itu bergerak pelan dipahanya yang terbuka membentuk pola pola abstrak yang menggilakan.
"Aku merindukanmu, merindukan didalammu."
Desis Leo dengan rahang yang mengeras saat desahan pelan itu lolos dari bibir menggoda yang sangat dipujanya.
"Leo In-hmpp"
Azela bergetar merasakan bibir panas itu bertemu dengan bibirnya, melumatnya dengan keras dengan lidah yang bermain meluluh lantahkan pertahanannya.
"Aku akan memastikan kau tidak akan menyesal, Azela."
"Kau-"
Azela memekik tertahankan, Leo mulai tak sabaran. Menggila dengan tangan yang menelusup kebalik gaun tidur Azela, menyentuh setiap jengka kulitnya dengan jemari jemari yag meninggakan jejak panas dimana mana.
"Apa yang kau lakulan padaku, Azela?"
Bisikan itu menggema ditelinga Azela seiring dengan gaunnya yang teronggok diujung tempat tidur.
"Leo."
"Iya, Sayang."
Erangan mereka menggema dikamar Azela yang menahan nafasnya dengan bibir yang sedikit terbuka, matanya terpejam merasakan sensasi liar saat kecupan kecupan panas itu turun dari dadanya menuju perut datarnya.
"Ohh."
Azela mencengkram selimut dibawahnya dengan kuat saat bibir Panas itu jatuh diantara kakimya, mengecupnya pelan sebelum menjadi lumatan lumatan liar menggilakan, menjerit tertahankan saat lidah itu mulai bermain tak beretika, perutnya menegang dengan tubuh yang melengkung merasakan gelombang kenikmatan itu datang mengacaukan akal sehatnya.
"Kau tidak boleh menyesal setelah ini, Azela."
"Aku tidak pernah menyesal."
Ucap Azela susah payah, bibirnya terbuka menahan nafasnya yang makin memberat beradu dengan geraman rendah Leo ditenggorokannya saat pria itu mulai mendorong dirinya semakin jauh.
"Azela?"
Azela membekap mulutnya, menahan erangannya saat suara Ibunya di balik pintu kamarnya terdengar smentara pria yang sedang menindih tubuhnya ikut menahan diri dengan jemari jemari panas yang berada disisi tubuhnya.
Tidak ada yang bersuara, hanya deru nafas yang memburu keduanya dan debuman jantung yang menggila.
"Ayah dan Ibu menunggu di bawah."
"Kita lakukan dengan cepat."
Suara berat itu mengalun ditelinganya saat langkah kaki Ibu Azela semakin menjauh.
"Leo-"
Leo tidak akan menahan dirinya lagi, menarik cepat kedua lengan gadis itu yang membekap bibirnya dan menahnnya di atas kepala sebelum melumat dengan rakus bibir yang semakin membara dalam ciuman liarnya.
"Kau harus menjadi milikku, Azela."
Leo menggeram mempercepat gerakannya hingga menjadi hentakan kuat dengan nafas yang memburu beradu dengan erangan tertahankan milik Azela, Lengan kokoh itu menyelinap disisi tubuh Azela, memeluk tubuh mungilnya hingga bergerak mencengkram rambut coklat Azela yang makin terasa kuat seiring dengan hentakan yang makin cepat dibawah sana.
"Oh! "
Bibir Azela terbuka menahan nafasnya saat gelombang itu mulai datang, merasakan Leo yang bergerak semakin cepat menyambut pelepasan mereka
"Leo."
Satu sentakan kuat dan lenguhan panjang Azela mengakhiri sesi panas mereka, Leo menunduk dan kembali menjatuhkan kecupan ringan dibibir menggoda Azela.
"Hebat."
"..sekarang katakan.."
Suara serak itu membuat Leo kembali menggeram, menatap Azela yang masih memejamkan mata, masih menikmati sisa pelepasannya.
Dan masih dengan nafas memburu yang saling bersahutan dengan Leo yang kini memeluk tubuh Azela dalam rengkuhannya dengan begitu erat.
"Bagaimana? Bagaimana bisa kau ada disini?"
"Disini, di rumahmu, di kamarmu lebih tepatnya di ranjangmu."
Azela membuka matanya perlahan menatap Leo yang menatapnya dengan mata tajam menakutkannya yang masih meggelap saat kembali jatuh menatap bibirnya.
"Iya, Tuan Leo yang terhormat."
Azela mulai bergerak melepaskan diri dari lilitan lengan kokoh yang begitu menggoda diperutnya.
"Berniat menggodaku, Huh?"
Azela menelan salivanya susah payah, rahang Leo terlihat mengeras dengan tatapan tajamnya yang menusuk.
Pria ini benar benar menakutkan.
"Tidak."
"Baiklah, Ibu dan Ayahmu tahu Aku disini. Mereka bahkan tahu hubunganmu dan si k*****t itu."
Azela terdiam mendengar Ucapan Leo, Bagaimana bisa ibu dan ayahnya membiarkan Leo berkeliaran dikamar anak perempuannya?
"Azela?"
"Hm."
Sahut Azela menarik selimut melilit tubuhya berniat bangkit dari tempat tidurnya.
"Azela!"
Geraman menakutkan itu membuat Azela menoleh, tubuhnya seketika menegang saat menemukan rahang itu makin mengeras dengan mata yang berkilat semakin tajam.
"Kau tidak menyesal, bukan?"
Azela menghela nafasnya perlahan sebelum menatap Leo dengan tatapan datarnya menyembunyikan dadanya yang mulai berdenyut menyesakkan.
"Menurutmu?"
"Azela."
"Aku tidak pernah menyesali apapun."
Leo menajamkan matanya melihat tatapan Azela.
Tatapan yang sama saat gadis itu menghajar si Rafael b******k malam itu.
Brengsek?
Bukankah kau juga sama brengseknya Leo?
"Azela."
Azela berbalik melangkah cepat menuju kamar mandi diiringi dengan suara bedebum keras.
Meninggalkan Leo dengan ribuan umpatannya.
Leo benar benar ingin membunuh seseorang saat ini juga.
Azela sudah membuatnya gila dengan tubuh mungilnya.
Tubuh mungil yang membuatnya menginginkannya lagi dan lagi.
Lihat.
Bahkan hanya memikirkan Azela dengan hebatnya mampu membuat Leo ingin menggila berani bersumpah jika tidak ada satupun yang bisa menghalangi keinginannya meskipun harus menumpahkan darah dengan kedua tangannya sendiri.
"Brengsek."
**
Azela bersandar dibalik pintu yang baru saja tertutup, tubuh mungilnya meluruh terduduk di lantai yang begitu dingin di kamar mandinya. Memeluk dirinya sendiri merasakan denyutan yang makin menyakitkan didadanya.
Leo.
Pria itu.
Pria yang membuatnya melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Pria menakutkan dengan sejuta pesonan menggilakannya yang membuat Azela tidak bisa berkutik.
Logikanya menolak.
Tapi tubuhnya tidak.
Oh, Mungkin ini satu satunya cara Azela melindungi harta paling berharganya.
Ketika Azela menolak.
Azela harus siap kehilangan.
Percayalah, Leo bukanlah pria yang semenyeramkan itu.
Tidak.
Pria itu bahkan jauh lebih kejam dan menakutkan.
Dan Azeka nyaris melakukan kesalahan besar.
Kesalahan besar yang lagi lagi akan merenggut kehidupannya dan mungkin juga keluarga kecilnya.
**