Azela menggit bibir dalamnya merasakan lengan kokoh yang menyelinap diantara lengannya memeluk tubuhnya, menghela nafas merasakan ribuan gejolak yang sedang berkecamuk meruntuhkan akal sehatnya.
"Leo."
Bibirnya bergetar melihat pantulan dirinya dan Leo dicermin yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ada apa, sayang?"
Satu kecupan basah ditengkuknya membuat Azela lagi lagi menahan nafasnya.
"Azela? Kau Menangis?"
Azela menggigit bibirnya saat lengan lokoh itu memutar tubuhnya dan merasakan jemari panjang yang menyentuh sisi wajahnya dengan lembut.
Bagaimana bisa?
Bagai mana bisa pria ini memperlakukannya seperti ini?
"Azela.."
"Aku ingin pulang."
Azela mendongak, memberanikan diri menatap mata tajam menakutkan yang kini mematapnya bingung.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku. Ingin. Pulang."
Sahut Azela penuh penekanan, Leo menghela nafasnya dan memilih mengalah.
"Baiklah, Aku antar."
"Tidak, Aku akan pergi sendiri."
Leo mengerutkan keningnya tidak suka menatap Azela dengan mata memicing yang membuat tubuh Azela makin bergetar.
"Ada apa denganmu? Kau baik baik saja?"
"Aku ingin pulang."
Raut wajah Leo berubah, Matanya menyorot Azela dengan tajam bahkan rahang kokohnya tampak mengeras.
"Apa kau menyesal?"
"Aku. Ingin. Pulang. "
Bisik Azela berusah menggerakkan kakinya yang bahkan sulit untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Azela."
Azela menepis tangan Leo dengan kasar, melangkah dengan cepat meskipun langkah kecilnya tidak mampu menandingi langkah lebar seorang Leo.
"Azela."
Suara itu meninggi seiring dengan sentakan kuat yang memaksa tubuhnya berhenti dan berbalik menatap Pria menyeramkan yang seolah ingin mengulitinya hidup hidup.
"Apa kau menyesal?"
Azela tak menjawab dalam hidupnya tidak ada kata penyesalan termasuk apapun yang telah terjadi diantara mereka.
"Aku pergi."
Bisik Azela menunduk, kembali mendongak menatap sekilas Leo dengan tatapan yang sangat sulit pria itu artikan sebelum berbalik.
"Azela."
Gadis itu benar benar pergi, nyaris berlari meninggalkan Leo yang mengepalkan jemarinya dengan kuat.
"Brengsek."
Leo harus menjadikan Azela miliknya.
Segera.
Jemarinya bergerak merogoh sakunya mengambil benda mungil persegi dari dalam sana dan melemparkan perintah tak terbantahkan.
"Harry, Ikuti Azela dan panggil Kalvian!"
Kerutan samar tampak tercetak diwajah tampannya meskipun hanya sebentar.
"Aku tidak ingin tahu."
Sambungan terputus, rahangnya kembali mengeras mengingat tatapan terakhir Azela.
Putus asa?
Kecewa?
Atau ..
memang Azela menyesal?
Tidak mungkin!
Perempuan itu bahkan menjeritkan namanya berkali kali dengan sangat keras.
Sial!
Leo memikirkannya lagi, itu pertanda buruk.
Leo harus memanggil Kalvian.
Menenangkan diri dan mencari pelampiasan atas kemarahannya.
Tidak.
Bukan wanita.
Leo bahkan tidak tertarik lagi pada wanita manapun sejak memimpin Perusahannya dan sebelum ia menemui Azela.
Perempuan itu.
Leo masih tidak mengerti.
***
"Sayang, tenangkan dirimu."
Suara lembut penuh kecemasab itu sama sekali tidak berpengaruh pada putri sulungnya Azela. Entah apa yang terjadi, gadis itu pulang dengan sesunggukan dan langsung mencari telpon.
"Setidaknya bantu aku, Bu. Hubungi Glenn, Anna atau Kekasihnya."
Sahut Azela mengulurkan tangannya menarik rambutnya sendiri, Lana sang Ibu menatap Putrinya prihatin sebelum meraih kedua tangan itu kedalam genggamannya.
"Tenang. Azela. Ayo, tenangkan dirimu."
Namun gadis itu hanya menatap kosong menggigit bibirnya cemas, tidak tahu apa yang dicemaskan anaknya ini.
Tidak, Tidak lagi.
Jangan sampai hal buruk terulang kembali dalam hidup putrinya.
"Kazela Kinova."
"Ibu.."
Lana menghela nafasnya lega saat Azela memeluk tubuhnya dan menangis sesunggukan. Ini jauh lebih baik dari pada melihat gadis itu menarik rambutnya sendiri dengan tatapan tak terbaca.
"Aku takut."
"Ada ibu disini, Sayang."
Bisik Lana lembut mengusap rambut Azela dengan sayang.
"Ada apa ini?"
Lana melirik kearah pintu dimana Suaminya Alex menatap mereka dengan bingung bercampur khawatir.
"Azela."
Lana menatap suaminya penuh arti, membuat Alex menghela nafasnya begitu sesak melihat putrinya berada dalam kondisi seperti ini lagi.
"Ayah akan menghubungi Anna."
Lana hanya mengangguk masih berusaha menenangkan Azela yang Menangis dalam pelukannya
"Sayang, Ayah dan Ibu ada disini"
Azela menggeleng keras melepas pelukan ibunya, mata yang sering berbinar indah itu tampak berembun membuka luka lama.
"Aku tidak akan tenang sebelum melihatnya sendiru, Bu."
"Bukankah itu lebih berbahaya?"
Azela terdiam, menunduk dalam menatap tangannya yang saling bertautan dengan gelisah. Kedua mata itu tampak makin meredup membuat Lana menghela nafasnya.
"Bersihkan tubuhmu dan istirahatlah, ambil keputusan setelah kamu lebih baik."
Azela mengagguk menatap Ibunya dengan tatapan bersalah sebelum kembali memeluknya dengan erat penuh penyesalan.
"Maaf membuat Ibu cemas."
"Tidak apa apa, Sayang."
Lana menghela nafasnya membiarkan Azela pergi meniti tangga menuju kamarnya dengan langkah berat.
"Alex?"
"Bagaimana Azela?"
Tanya Alex pada Lana yang menggeleng pelan dengan tatapan senduhnya, Alex mengusap bahu istrinya Azela sangat ahli jika memang berniat menyembunyikan perasaannya.
"Anna belum bisa dihubungi."
"Tidak apa apa, kita tunggu keputusan Azela."
"Baiklah, kalau begitu aku harus kembali ke Toko. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Alex mengecup kening istrinya sebelum meninggalkan rumah sederhana mereka.
Semoga semuanya baik baik saja.
**
Setelan mewah yang sama, tubuh tegap yang sama dan kedua wajah yang terlihat sama tanpa celah. Hanya sepasang mata dan rambut legam berkilauan itu yang membuat keduanya terlihat berbeda.
"Kau menggangguku lag, Leo."
"Bukankah, untuk itu kau ada?"
Leo menatap mata hijau terang yang menatapnya kesal sebelum melemparkan sesuatu padanya
"Bersenang senanglah."
"Kau akan mendapat bonus."
Bisiknya dengan mata berkilat saat menatap senjata mungil mematikan ditangannya.
"Well, tanpa kau minta aku akan mengambilnya."
"Pergi, Harry menunggumu."
Leo Berbalik meninggalkan Kalvian, bayangannya juga berbalik menuju ujung gang lainnya.
Bukan gang yang sama.
Ada ribuan gang di kota ini, bukan salahnya menelusuri banyak gang demi menghindari para musuh yang diam diam mengincar tahtahnya.
"Sebastian Michaelson."
Ucap Leo Pelan namun mengusik jiwa sang pemilik nama yang kini berbalik menatapnya dengan terkejut.
"Oh Dude, Kenapa kau sangat suka melihat Partner in Crime kesayanganmu ini terkejut?"
Cerewet seperti biasa membuat Leo mengibaskan tangannya meminta agar pria itu mengikutinya tanpa banyak bicara memasuki sebuah lorong yang akan menghubungkan mereka pada sebuah pintu besi.
"Sepertinya, suasana hatimu sedang buruk."
"Diam sebelum aku akan membuatmu tidak bisa bicara."
"Okey Okey."
Sebastian menyerah mengingatkan dirinya sendiri jika Leo bukan Kalvian yang bisa sedikit bermain tapi Leo Sahabatnya yang menyeramkan.
"Selamat Datang,Tuan."
Tepat saat pintu itu terbuka beberapa pria menyambutnya, dengan angkuh seperti biasa Leo melangkah menuju meja raksasa di tengah ruangan tidak mempedulikan sosok yang berdiri di samping jendela sang pemilik ruang rahasia tersebut.
"Membutuhkan sesuatu, Leo?"
"Tentu saja, musuhku sedang berkeliaran diluar sana."
Leo menyeringai.
Ada hal yang harus dilakukannya lebih dulu.
**