Ruwan menyadari jika aroma asing itu mendekati dirinya. Tetapi ingatan lama yang membuatnya sakit kepala masih terus membuatnya penasaran.
"Ruwan," panggil Nack yang kini sudah ada di bawah pohon di mana Ruwan tengah bertengger.
Ruwan membuka mata dengan terkejut. Ia melihat raksasa putih bersama seekor peri hutan kuning dan sosok manusia yang membawa pedang Akoman. Pedang milik ayahnya.
Ruwan melompat hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Riuna.
"Serahkan pedang milik ayahku!" pekik Ruwan dengan rahang yang mengeras.
Tanpa rasa takut Riuna mendekatkan wajahnya ke wajah Ruwan yang tengah marah.
"Kau ... apa kau yang bernama Ruwan?" tanya Riuna.
Mata merah milik Ruwan seketika berubah menjadi hitam. Jantungnya berdegup sangat cepat ketika mata itu saling berpandang.
"Me ... menjauhlah dariku!" Riuna menjauhkan wajahnya dengan tatapan pada Ruwan yang belum berubah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Sudah ku bilang, berikan pedang milik ayahku yang sedang kau pegang itu!" ucap Ruwan seraya mengacungkan pedang Dambala ke arah Riuna.
Nack tidak ingin pedang iblis yang dipegang Ruwan melukai Riuna. Ia menarik mundur wanita yang mengenakan gelang segel milik Ruwan yang dijadikannya ikat rambut.
"Mundur, Riuna. Ruwan bukanlah tandinganmu," kata Nack dengan cemas.
"Aku tidak ingin bertanding, Nack. Aku hanya ingin memandang wajahnya lebih lama," balas Riuna dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat air mata yang mengalir tanpa permisi itu membuat hati Ruwan berdenyut. Ia tak tahu mengapa ini bisa terjadi. Akan tetapi, rasanya tidak berdaya untuk sekedar melukai wanita di hadapannya itu.
"Apa yang kau bicarakan makhluk aneh?" tanya Ruwan yang sudah memasukkan lagi pedangnya ke dalam sarung yang terikat di pinggangnya.
"Aku merindukan ayahku. Aku ingin bertemu ayahku yang sudah kau bunuh."
Ucapan Riuna membuat Ruwan tersentak. Siapa makhluk yang dibunuhnya? Mengapa ia tidak mengingat siapa saja yang sudah menjadi korban pedang Dambala miliknya.
"Aku membunuh ayahmu?"
"Ruwan, kau tidak mengingat semuanya? Sadarlah, Ruwan! Kini kau berada di bawah kendali Danz. Tidakkah kau ingat Danz pernah mencelakaimu saat kecil dulu?" ucap Nack berusaha meyakinkan Ruwan.
"Aku malas berbicara dengan kalian. Kali ini akan ku lepaskan. Jika kita bertemu lagi, akan ku pastikan pedang Akoman itu akan menjadi milikku," kata Ruwan seraya berlari menjauhi Nack dan Riuna.
Riuna jatuh terduduk. Ia harus bertatapan langsung dengan seseorang yang sudah membunuh ayahnya. Air matanya terus mengalir dengan suara sesenggukan yang membuat Nack merasa terenyuh.
"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Nack.
"Aku hanya membayangkan jika ayah mirip dengan Ruwan. Apakah seperti itu sosoknya?"
"Ya, kurang lebih seperti itu. Tapi ayahmu memiliki telinga lebih panjang. Telinga Ruwan mirip dengan telinga ibunya yang merupakan manusia kucing. Apa kau tidak takut dengan Ruwan?"
"Tidak. Apa yang harus aku takutkan, Nack?" tanya Riuna.
Di sisi lain, Ruwan kembali kepada Danz dengan perasaan bimbang. Ia menatap lekat-lekat pendampingnya yang selalu mengenakan jubah itu.
"Apakah benar aku berada di bawah kendalinya? Sepertinya tidak mungkin. Aku percaya kepadanya," batin Ruwan.
Kembali ke masa lalu
Ruwan remaja tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Ia tetap memakai gelang segel itu. Permainan pedangnya sudah lincah karena diasah bertahun-tahun dibantu oleh Nack, Crocomet dan Ryumet.
Ryumet dan Crocomet kali ini akan bertugas berkeliling di luar tempat persembunyian. Ruwan meminta izin langsung kepada Sam agar ikut dengan Ryu. Awalnya raja hutan Fantasia ini menolak. Namun Ruwan meyakinkan ayahnya bahwa ia telah cukup dewasa.
"Ruwan, bagaimana jika ada musuh menyerang?" tanya Sam.
"Aku akan melawannya, Ayah. Itu yang aku harapkan. Aku bosan jika harus berburu rusa terus menerus."
"Baiklah, kau harus tetap bersama Ryu."
"Baik, Ayah."
Crocomet, Ryu dan Ruwan pergi berpatroli ditemani seekor peri hutan yang selalu terbang tak jauh dari mereka. Tujuan peri hutan itu adalah memberitahu kepada Sam dan yang lainnya jika Ruwan atau yang lainnya dalam masalah.
Tak seperti biasanya, tak ada binatang satu pun yang mereka jumpai. Ryu merasakan ada yang ganjil dengan keadaan ini. Tangannya sudah bersiap mencabut pedang. Indra penciuman dan pendengarannya dipertajam dan ....
"Berhenti!" perintah Ryu lirih. Ia langsung berdiri di depan Ruwan dengan posisi bersiaga. Crocomet mengetahui apa yang dimaksudkan Ryu dan bersiap dengan senjatanya juga.
Mata Ryumet terpejam dan hidungnya mendengus, mencium aroma tak menyenangkan. Ia buka mata lebar-lebar dan mengerang marah.
Ruwan tahu ada bahaya mengintainya. Ia cabut pedang dari pinggangnya dan bersiap menghadapi apa pun yang ada di hadapannya.
Segumpal angin puyuh mendekat merobohkan pohon-pohon kecil yang dilewatinya. Angin itu berhenti di depan Ryumet. Sosok makhluk yang tak asing bagi semua telah muncul. Danz!
Peri hutan terbang menuju tempat persembunyian untuk memberikan isyarat bahaya kepada Sam dan yang lainnya.
Dengan santai Danz berdiri cukup jauh dari Ryumet. Ia mencabut pedangnya melukai diri sendiri dengan menyayat jarinya hingga berdarah.
Darah itu di usapkan ke seluruh bagian pedang. Ryu, Crocomet dan Ruwan hanya memperhatikan tanpa tahu apa tujuan Danz melakukan itu.
Setelah pedang itu berbalur darah, Danz mencabut pedang yang satunya lagi. Kemudian berlari kencang secepat angin hingga Ryu dan Crocomet tak bisa menghindar dan terluka hingga terjatuh. Luka itu berasal dari pedang yang terakhir dicabut Danz.
Ruwan sedikit bergeming menatap musuh yang ada di depan matanya. Danz menarik tangan Ruwan dan merebut pedang miliknya lalu membuangnya. Ruwan tak bisa berkutik.
Pedang berlumur darah disayatkannya pada punggung Ruwan, hingga darah Danz pada pedang itu masuk ke dalam tubuh Ruwan.
Seketika Ruwan menjadi takluk kepada Danz. Makhluk jahat itu membisikkan banyak kata pada pengeran muda ini.
Ryu melihat kejadian itu dan ia berusaha bangkit dan bersiap menyerang Danz. Namun, luka sayat pada perutnya cukup dalam, hingga ia tak bisa berdiri.
Para peri hutan datang bersama Nack, Naina, Flammy dan tentu saja sang raja, yaitu Sam.
Danz langsung melarikan diri menghilang bersama gumpalan angin yang semakin menjauh.
Naina memeluk Ruwan sementara Flammy mengambil pedang milik Ruwan yang terjatuh di tanah. Sam yang melihat Crocomet dan Ryumet terkapar langsung menolong mereka dengan menusukkan pedang Akoman ke jantung keduanya.
Kemudian mereka semua dibawa oleh peri hutan kembali ke persembunyian.
Ryu dan Crocomet menceritakan semua yang ia lihat termasuk kejadian saat Danz melukai dirinya dan saat Danz membisikkan kata pada Ruwan.
Saat Naina menanyakan pada Ruwan, putranya itu berkata bahwa ia tak ingat apa pun.
"Ayah, Ibu, keadaan semakin kacau, bolehkah aku memiliki pedang Dambala sekarang? Aku sudah cukup dewasa untuk memilikinya," pinta Ruwan.
Dengan penuh pertimbangan akhirnya Sam menyetujuinya. Ia memerintahkan Naina untuk mengambil pedang itu.
Semenjak mendapat bisikan dari Danz, Ruwan menjadi pendiam. Ryumet menyadari hal itu yang tak disadari semuanya. Manusia serigala ini merasa ada yang janggal dengan kelakuan Ruwan.
"Sam," ucap lirih Ryu yang berjarak agak jauh dari Sam. Namun Sam mendengarnya karena pendengaran tajamnya.
Sam menoleh dan melihat Ryu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ryumet ingin memberitahukan langsung pada Sam, namun Ruwan berada di samping ayahnya.
Ruwan yang pendiam tersenyum menyeringai. Ryu memperhatikannya. Ia masih lemah meski luka diperutnya sudah disembuhkan pedang milik raja. Melihat gelagat Ruwan yang aneh, Ryu mendekat pelan dan bersiap dengan cakar maupun pedangnya.
Ruwan berlari mendekati Naina yang masih berjalan cukup jauh dari Sam. Ia meminta pedang Dambala itu. Padahal, pedang itu belum ditempa secara sempurna dan Ruwan tidak boleh menyentuh pedang itu sebelum darahnya dikucurkan untuk memandikan sang pedang.
Namun tak ada yang menyadari itu kecuali Ryumet. Saat Naina memberikan pedang itu pada Ruwan, Ryu berteriak, "Jangan!"
Pedang itu sudah ada ditangan Ruwan dan tak terjadi apa pun. Ryu heran mengapa itu bisa terjadi.
"Kau kenapa, Ryu?" tanya Sam.
"Sam, kau tak ingat kata Mala? Ruwan tak boleh memegang pedang itu sebelum ditempa ulang."
Mala adalah pembuat pedang Dambala yang sudah tewas di tangan Danz sesaat setelah pedang untuk Ruwan itu selesai dibuat.
Sam mengingatnya dan langsung melihat Ruwan yang sedang berdiri menatap dirinya dari jauh. Semua memperhatikan Ruwan. Saat itu juga kepala pangeran Fantasia ini menunduk. Ia cabut pedang Dambala itu dan perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya kosong dan meraung seperti ayahnya padahal wujudnya masih manusia. Gelang segelnya terlepas sendiri dan ....
Jleb Jleb Jleb
Ruwan menusuk Naina tiga kali hingga wanita yang melahirkannya itu terkapar tak berdaya.
Semua yang ada di sana tercengang. Ryu berlari memungut gelang Ruwan dan berusaha memasangkan lagi pada pergelangan tangan Ruwan. Namun, Ruwan berlari dengan sosok seperti serigala yang membabi buta.
Ia menebas semua yang ada di hadapannya termasuk para peri hutan.
Ryu sadar tak bisa melawan Ruwan saat ini. Ia mundur dan kembali pada Sam yang telah menusukkan pedang Akoman ke jantung wanitanya itu. Terlambat! Naina sudah tak bernyawa.
Sam meraung marah, ia memerintahkan Nack, Ryu, Flammy, Fraks dan Crocomet untuk menghentikan kegilaan yang dilakukan putranya.
Sam berduka. Namun dalam duka terdalamnya ia masih mampu bangkit dan menolong satu penempa anak buah Mala yang harusnya menyempurnakan pedang Dambala. "Selamatkan dirimu, Olfmus! Kau harus menyempurnakan pedang itu meski entah kapan," titah Sam. Olfmus berlari tanpa tujuan untuk menghindari amukan Ruwan.
Sam menyusul yang lainnya untuk mencari Ruwan. Di sepanjang jalan banyak jasad peri hutan bergelimpangan. Sam menyadari tempat persembunyian itu lama-kelamaan berubah. Tempat yang asri dan indah berubah menjadi hutan biasa karena peri hutan tak ada lagi yang terlihat beterbangan. Ya, semua kupu-kupu raksasa itu sudah tewas oleh pedang Dambala.
Sam berhasil menyusul kelima temannya yang berhasil mengepung Ruwan. Dengan keyakinannya, Sam pasti akan berhasil merebut pedang Dambala dari tangan putranya.
Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Pedang iblis yang ditempa kurang sempurna itu berhasil membunuh Flammy, Fraks dan Crocomet dengan mudahnya.
"Tidak!" teriak Sam.
Ia mencoba menyelamatkan nyawa Crocomet dan Flammy. Sayang, pedang Akoman hanya pedang penyembuh. Bukan pedang pemberi nyawa.
Dalam dukanya yang mendalam serta dalam kelengahannya, Sam ditebas oleh putranya sendiri.
"Sam!" pekik Ryumet yang terlanjur marah. Ia mencoba melukai Ruwan dengan maksud untuk memakaikan gelang segel ke pergelangan tangan pangeran muda itu.
Terlambat! Jantung Ryu tertusuk tajamnya pedang iblis itu.
"Ruwan! Sadarlah! Apa yang kau lakukan?" bentak Nack. Satu-satunya makhluk yang tersisa saat itu.
Ruwan menyeringai mengacungkan pedangnya pada raksasa putih tulang yang belum siap mati.