Pertemuan Danz dan Ruwan Pertama Kali

1162 Kata
Ruwan sepertinya tidak mengingat semua kejadian-kejadian sebelum ia terkontaminasi racun pedang milik Danz. Bahkan ia tak ingat jika Danz pernah melukainya saat kecil. 20 tahun lalu Untuk pertama kalinya dalam sejarah hutan Fantasia terdapat klan baru yaitu putra pertama sang Raja dengan Naina. Sam merupakan keturunan manusia dan makhluk setengah serigala. Sedangkan Naina merupakan manusia kucing. Putra pertama mereka diberi nama Pangeran Ruwan. Ruwan adalah bayi kecil lucu dengan bulu-bulu yang menutupi sekujur tubuhnya. Ia memiliki telinga segitiga seperti ibunya dan ekor serigala seperti sang ayah. Pangeran kecil ini lahir di tempat persembunyian baru bagi Sam dan para pengikut yang selamat saat ikut bertarung melawan Ratu Angsa Hitam. Sebuah tempat penuh dengan peri hutan, rerumputan yang menyelimuti tanah serta bunga-bunga indah di sekeliling tempat itu. Tempat di mana dulu Herena, ibu dari Sam bersembunyi dengan aman. Semua peri hutan melayani Sam. Tak perlu lagi mencari makanan sendiri seperti dulu. Sam tetap berada dalam persembunyian kecuali jika ingin berkeliling menyapa para penghuni hutan Fantasia. Kelahiran Ruwan menjadi kebahagiaan bagi seluruh penghuni Hutan Fantasia. Ketika usianya satu tahun, untuk pertama kalinya Ruwan di ajak berkeliling oleh sang ayah untuk melihat betapa indahnya tanah kekuasaannya. Kini Ruwan kecil berusia tiga tahun. Perkembangannya sangat lah mengagumkan. Di usia sedini itu, pangeran kecil sudah berbicara lancar. Bahkan sesekali meminta berlatih pedang kepada Nackromet, Crocomet yang merupakan pengikut setia Sam. Bahkan Ruwan meminta berlatih pedang kepada Ryumet. Terkadang pun Flammy , makhluk dengan sayap yang merupakan ahli memanah seperti Naina mengajarkan cara memegang busur dan anak panah yang benar. Namun Ruwan tak tertarik. Ia hanya ingin mahir bermain pedang seperti ayahnya. Tak disangka, putra dari Sam dan Naina ini begitu cerdik dan nakal. Sering kali Nackromet, Crocomet dan Ryumet mendapatkan kejahilan dari pangeran mungil ini. Apalagi Fraks si kuda bertanduk yang selalu menjadi tunggangan setia ke mana pun Ruwan ingin pergi. Siang yang begitu terik membuat Fraks merasa mengantuk. Ia berbaring di atas rerumputan di bawah pohon yang besar dan rimbun. "Fraks, Ayo main!" ucap Ruwan. "Nanti, aku ingin tidur sebentar saja,” jawab Fraks memejamkan matanya. Tak lama setelah itu Flammy membangunkan Fraks yang baru beberapa menit tertidur lelap. "Fraks, di mana Ruwan?" teriak Flammy dengan kepanikan. Fraks membuka matanya pelan, berdiri dengan keempat kakinya. Tanduk runcingnya ia usap-usapkan ke rerumputan yang baru saja menjadi alas tidurnya. Fraks melihat sekeliling. Peri hutan beterbangan tak beraturan. Ryu, Crocomet, Nack bahkan Naina dan Sam berlarian membuat Fraks bingung. "Ada apa ini?" tanya Fraks. "Dasar kuda pemalas! Ruwan menghilang," jawab Flammy sembari mengepakkan sayapnya dan terbang mencari sang pangeran. Ditemani seekor peri hutan putih, Ruwan minta diturunkan di hutan embun. Ia sering mendengar cerita tentang hutan embun yang berubah menjadi hutan tandus. Namun berkat ayah, ibu dan teman-temannya hutan tandus kembali menjadi hutan embun. "Jemput aku satu jam lagi di sini, jangan bilang siapa pun, mengerti?" perintah Ruwan pada kupu-kupu raksasa yang biasa disebut peri hutan. Peri hutan putih itu menurut dan terbang meninggalkan bocah kecil itu sendirian. Pangeran Fantasia ini berjalan pelan sambil melihat-lihat hutan embun yang begitu asri. Suasananya sangat sejuk. Ini untuk kedua kalinya Ruwan meninggalkan tempat persembunyian. Sebelumnya ketika ia berusia satu tahun, keluar bersama sang ayah dan yang lainnya. Berbagai tanaman besar belum pernah ia lihat sebelumnya. Memang pohon dan bunga di hutan embun berbeda dengan tempat lain. Daun-daun di sini selalu basah berembun sehingga disebut hutan embun. Tak terasa langkah kaki anak kecil ini sudah jauh. Ia melihat sebuah jembatan dan air terjun. Jembatan kayu yang terlihat sudah lapuk. Kaki kecilnya ia pijakan di atasnya tanpa rasa takut. Entah apa yang ada di pikirannya. Ia merasa ada sebuah pintu di balik air terjun besar itu. Matanya terpejam dan kakinya melangkah. Ia merasakan sensasi hangat ketika beberapa detik melintas melewati air yang begitu banyak. Persis seperti Sam dulu ketika melewati air terjun itu. Ruwan memasuki sebuah gua setelah melewati air terjun. Banyak tulang belulang yang merupakan pengikut raja Baphomet terdahulu. Mereka tewas ketika Sam baru saja tiba di tempat ini karena p*********n yang dilakukan Ryumet dan kawanannya. Mata bulat Pangeran Ruwan mengembun. Hatinya sedih melihat pemandangan ini. "Ternyata cerita yang dikatakan Ryu selama ini benar," gumamnya sambil mengusap air mata yang mulai membasahi pipi. Kakinya melangkah jauh ke dalam menuju tempat penyimpanan pedang milik kakeknya yang sekarang ada pada Sam. Tak lama bocah kecil itu ada di sana. Ia berbalik lagi menatap tumpukan tulang belulang yang berserakan. Diambilnya sebuah baju putih berdebu tebal. Baju yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pada umumnya penghuni hutan Fantasia menggunakan baju yang terbuat dari kulit rusa. Namun baju putih lusuh yang ia pegang berbeda. Terlihat bekas darah yang sudah mengering di sana. Ia bolak-balikan pakaian itu dan mendapati sebuah tulisan Samuel. Meskipun Ruwan tak bisa membaca, tapi ia tahu baju itu milik ayahnya. Ia ingat betul gelang hitam yang selalu dikenakan Naina, ibunya, bertuliskan sama seperti huruf yang ada pada baju itu. Ibunya pernah bilang bahwa gelang hitam itu milik sang ayah yang diberikan kepada ibunya. Ia simpan baju itu dan hendak membawanya pulang ke tempat persembunyian. Ia juga mengambil sebuah pedang di antara tumpukan tulang. Saat hendak keluar, di mulut gua terdapat seseorang yang sedang mengintai. Sebagai keturunan serigala dan kucing, penciuman bocah kecil ini cukup tajam. Ia mencium bau makhluk asing yang belum pernah ia temui sebelumnya. Pedang yang baru saja ia ambil diacungkannya ke arah mulut gua. "Siapa di sana?" dengan lantang pangeran Ruwan bersuara. Trap! Trap! Trap! Suara langkah kaki yang menggema membuat Ruwan mundur satu langkah. Sesosok makhluk keluar dengan senyum menyeringai. Ia membawa pedang di tangan kanannya. Makhluk itu berdiri menatap tajam dengan mata merahnya. Tubuhnya berbulu seperti harimau dan memakai jubah dari kulit buaya dengan penutup kepala. "Jadi kau keturunan raja?" ucap lirih makhluk itu. "Aku bertanya, siapa kau? Aku adalah pangeran Ruwan." "Sampaikan pada ayahmu, aku akan membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuaku." "Siapa orang tuamu?" Makhluk itu mendekat dan mencabut pedangnya. "Kau tak perlu tahu siapa orang tuaku, yang perlu kau ingat adalah namaku." "Si... siapa namamu?" Ruwan gugup dan takut karena makhluk itu semakin mendekat. "Namaku Danz." Jebbbbbb Ruwan kecil tertusuk pedang Danz hingga menembus dadanya. Dengan paksa makhluk jahat itu mencabut pedangnya hingga Ruwan jatuh ke tanah. Tangannya masih menggenggam baju milik Sam. Napasnya masih teraba yang menandakan ruwan belum mati. Sekali lagi Danz ingin menusuk pangeran kecil tak berdosa ini. Namun sebuah panah melesat mengenai lengannya. Naina! Ibu dari Ruwan datang bersama Ryumet dan Fraks. Naina belum melihat wajah penyerang putranya itu karena masih memunggunginya. "Siapa kau!" tanya Naina mendekat, diikuti Ryumet yang siapa menghunuskan pedangnya. Penutup kepala yang terbuka dipakai lagi oleh Danz. Kemudian ia berlari cepat seperti angin puyuh melewati Naina dan Ryumet. Fraks berlari menghampiri Ruwan yang sekarat. Tak lama kemudian Naina juga mendekat. Ryumet meraung memanggil Sam. Memang Sam dan Naina berpencar untuk mencari Ruwan. Sam ditemani oleh Nackromet dan Crocomet. "Ruwan," Naina menangis memangku anaknya yang sudah tak sadarkan diri. Untung saja Sam, Nack dan Crocomet datang lebih cepat. Melihat anaknya sekarat, Sam mencabut pedang Akoman dan menghunuskan ke jantung putranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN