Ingatan Lalu

1032 Kata
Mentari mencari keberadaan putrinya yang tak kunjung pulang. Ia tahu jika Riuna pasti datang ke sekitar rawa yang tak jauh dari rumahnya. Ia menemukan sepasang sandal milik Riuna dan sebuah serpihan cermin yang ada di dekatnya. Mentari mengambil sandal itu dan membawanya pulang dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Semoga kau bertemu ayahmu. Sampaikan salam rindu ibu padanya," batin Mentari. Sementara itu di hutan Fantasia, Riuna sedang tegang. "Tidak! Aku tidak bisa mengalahkan Vandmus! Riuna, larilah!" titah Nackromet. "Ada apa? Siapa Vandmus?" tanya Riuna yang tak mengerti dengan makhluk yang dikatakan Nack. "Vandmus si semut beracun. Semua yang digigitnya akan mengalami nasib yang sama seperti burung itu. Darahnya mengering sampai korban benar-benar mati mengenaskan." "Kau itu raksasa. Kau juga memiliki dua senjata, mengapa tidak bisa mengalahkan semut?" "Riuna, semut itu bekerja dengan berkelompok. Mereka hanya bisa mati dengan cakar serigala. Sekarang tidak ada yang bisa mengalahkan mereka kecuali Ruwan, karena hanya dia bangsa serigala yang memiliki cakar. Kau tidak akan bisa melawannya, Riuna. Pergilah bersama peri hutan," kata Nack. Riuna terpejam. Indra penciuman dan pendengarannya tiba-tiba lebih kuat dari biasanya. Ia bisa mendengar dan mencium makhluk lain dengan jarak yang jauh. Lantas, gadis cantik ini mengingat sesuatu yang membuatnya marah saat di dunia manusia. Ia membuka matanya yang indah dengan cepat serta kuku-kuku yang tiba-tiba memanjang seperti pisau tajam. Riuna menoleh ke arah Nack dan berlari untuk mencakar koloni semut merah kecil yang menakutkan. Dengan beberapa kali cakarannya semut itu binasa. Nack tak percaya jika Riuna memiliki kekuatan yang diturunkan oleh Ryumet. "Riuna, beginikah kau saat marah?" tanya Nack. Mata Riuna yang merah kembali normal. Kukunya kembali memendek. Riuna terjatuh karena lemas. Nack memangkunya dan menjaga gadis berambut panjang itu. Lantas peri hutan membawakan air yang ia taruh dalam daun yang dibuat kerucut. Peri hutan tak bisa berbicara. Tetapi ia adalah makhluk baik yang menjaga dan mengawasi hutan Fantasia. Sayang, mereka semua binasa dan hanya satu ekor yang tertinggal. Nack membasahi wajah Riuna dengan pelan. Gadis itu tersadar dan mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. "Apa kau baru pernah berubah seperti ini?" tanya Nack. "Jika aku marah, kuku ku menjadi panjang dan runcing, tapi mataku tidak berubah. Aku biasanya tidak bisa mengendalikan kekuatanku saat marah. Aku akan menyerang siapa pun yang ada di hadapanku," kata Riuna. "Kenapa kau tidak menyerangku?” "Aku pun tak tahu. Di sini aku sadar siapa musuh dan siapa yang bukan." "Pasti karena segel yang kau jadikan ikat rambut itu," ucap Nack. "Benarkah?" "Ya! Kita harus bergegas segera. Tidak mungkin kita melawan Danz hanya berdua. Kita membutuhkan bantuan." "Apa ada makhluk yang ada di pihak kita?" "Mendiang ayah Sam yang bernama Baphomet memiliki teman seorang raja dari hutan Akaria. Kita akan ke sana dengan hati-hati karena harus melewati sebuah lembah dan bukit yang mengerikan." "Baiklah, aku siap!" Riuna dan Nackromet berjalan menyusuri hutan. Sedang peri hutan terbang untuk mengintai kala bahaya datang. Tanpa disadari kupu-kupu kuning raksasa, dari kejauhan ada makhluk berjubah yang mengintai. Makhluk dengan jubah yang terbuat dari kulit buaya fantasia itu melihat ke arah Riuna. Ia tersenyum jahat dan berlari secepat kilat hingga nampak gulungan angin puyuh yang menyertainya. Riuna berhenti dan menyadari pergerakan itu. Ia menoleh ke belakang. Namun, hanya pepohonan dan semak-semak yang ada. "Ada apa, Riuna?" tanya Nack. "Sepertinya aku merasa ada pergerakan yang menjauh. Baunya samar-samar, aku tidak bisa membauinya dengan jelas." Nack tidak bisa melihat dan merasakannya. Lantas, raksasa putih ini meminta agar Riuna tetap waspada. Makhluk berjubah itu terbang ke arah sebuah gunung batu dengan gua yang ada di sekitar puncaknya. Puncak White Stone, di mana Ratu angsa hitam tewas di tangan Sam kala itu. Makhluk itu menghadap kepada sesosok makhluk berbulu dengan taring dan cakar yang panjang. "Tuanku, makhluk asing telah datang. Ia memegang pedang milik ayahmu," kata makhluk berjubah itu yang ternyata adalah Danz. Musuh para makhluk hutan Fantasia. "Aku ingin pedang itu menjadi milikku. Dengan dua pedang aku bisa menguasai semuanya. Bukan hanya hutan Fantasia," kata makhluk berbulu itu yang ternyata adalah Ruwan. Ruwan tidak sadar jika ia berada di bawah kendali Danz. Danz sengaja memanfaatkan raja muda ini untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya. Danz memiliki dua buah pedang. Di mana salah satu dari pedang itu adalah pedang beracun yang akan membuat siapa pun yang terkena sayatannya akan tunduk kepada Danz. Termasuk Ruwan. Ruwan terkena sayatan pedang yang sudah dilumuri darah oleh Danz beberapa waktu lalu. Bersamaan dengan tragedi pedang Dambala yang menewaskan Sam sebagai raja Hutan Fantasia dan seluruh pengikutnya. Kecuali satu peri hutan dan Nackromet. Makhluk jahat yang berlari secepat angin puyuh ini sengaja memanfaatkan Ruwan untuk membunuh seisi hutan Fantasia yang tak berpihak padanya. Dengan begitu, pada akhirnya Danz hanya kan membunuh Ruwan seorang dan benar-benar menjadi penguasa hutan Fantasia sekaligus dendam atas kematian orang tuanya terbalaskan. "Raja yang bodoh! Selama racun dari pedangku berada di tubuhmu, aku akan terus berpura-pura menjadi pengikutmu, Ruwan. Lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu suatu saat nanti," batin Danz. Ruwan mengambil pedang Dambala miliknya dan bersiap untuk pergi. Sorot mata merahnya yang tajam dengan senyum menyeringai membuat Danz tahu jika raja boneka itu akan melakukan sesuatu. "Apa yang akan kau lakukan, Tuan?" tanya Danz dengan kepala menunduk. "Tidak. Aku hanya ingin melihat orang yang membawa pedang ayahku. Seperti apa rupanya?" Ruwan berlari cepat hingga dedaunan yang tertabrak makhluk berbulu itu tersibak dan beberapa ranting rapuh dari pohon kecil patah terkena gesekan dari tubuh sang raja. Ruwan menaiki pohon yang tinggi. Dengan penciumannya yang tajam ia menghirup aroma asing yang tak pernah ia baui sebelumnya. "Aroma macam apa ini," gumam Ruwan. Matanya menyapu ke segala arah. Hingga ia mendapati sebuah pergerakan yang sangat pelan. "Aku bisa melihatnya," ucap Ruwan seraya menatap Riuna yang tengah berjalan di belakang Nackromet. Melihat sosok manusia, terbesit sebuah ingatan lama Ruwan tentang seseorang. Ruwan mencoba mengingat-ingat sosok itu. Namun, hanya sakit kepala yang didapatinya. "Kenapa muncul sosok ini di kepalaku? Siapa dia?" batin Ruwan seraya memegangi kepalanya. Dalam benaknya, Sam yang saat itu menjadi sosok manusia tengah duduk dan tersenyum kepada Ruwan. Sayang sekali, Ruwan benar-benar tidak mengingat wujud Sam saat menjadi manusia. Ruwan lengah. Ia terlalu sibuk dengan ingatan lama yang ia lupakan. Sampai raja di bawah kendali Danz ini tidak menyadari jika Riuna tengah melihatnya dari jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN