Bab 7: Efek Samping yang Kuat

1310 Kata
Melihat kelinci yang mulanya lesu tiba-tiba menjadi segar membuat Carol kebingungan. Ada apa ini? Bukankah itu obat tidur? Mengapa kelinci itu tidak tertidur? Atau, apakah obat itu hanya berpengaruh pada tubuh manusia? Carol mengernyitkan kening. Ia mencoba mendekati dan mengamati kelinci itu. Dalam sekejap, kelinci itu menjadi sangat beringas dan membenturkan badannya ke kandang besi. Meskipun kandangnya sangat kokoh dan tidak bisa dibuka sama sekali, kelinci itu tidak menyerah dan terus mendobrak kandang besi. Suaranya keras memenuhi ruangan. Baru kemudian, efek samping dari obat itu mulai terlihat. Perlahan, terlihat ada perubahan di tubuh kelinci itu. Tubuhnya yang gemuk dan berdaging mulai mengencang, dan bahkan garis-garis otot perlahan mulai terlihat. Monster kelinci berotot? Carol terkejut dan merasa ada yang aneh. Ia dengan cepat mundur beberapa langkah. Pada saat itu juga, kandang besi yang kokoh itu runtuh. Monster kelinci itu berhasil keluar dari kandangnya. Kakinya berdiri di tanah, dan rambut-rambut di tubuhnya berubah seperti jarum besi, berdiri satu persatu, mengerikan dan menyeramkan! Kelinci di dunia ini bisa berubah? Carol menelan ludah, menyadari bahwa keadaan kini sangat buruk. Tanpa ragu, ia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan berteriak, “Miller, tolong aku!” Ia berlari ke luar halaman, dan beberapa sosok terlihat mendekat ke arahnya. Miller dengan pedang besarnya melompat di hadapannya, “Carol, apa yang terjadi?” “Apakah kau diserang musuh?” Wolf tampak waspada. Sebelum Carol mampu menjelaskan, bayangan gelap muncul dari arah laboratorium. Monster kelinci itu mendarat dengan keras dan menimbulkan lubang di tanah. “Monster?” Miller dan Wolf tertegun. Dari mana datangnya monster ini? Apakah ini sengaja dikirim oleh musuh? Apakah pesawat itu berhasil menerobos masuk? Saat mereka sedang kebingungan, monster kelinci segera mengayunkan kaki belakangnya dan melompat tinggi ke udara, bersiap untuk melompati tembok. “Takkan aku biarkan kau pergi!” Miller bergerak cepat, ada roda bergerigi yang berputar samar-samar terlihat di belakangnya. Ia tidak menggunakan gerakan khusus, tapi kakinya terlihat sedikit ditekuk. Sedetik berikutnya, Miller muncul di udara, dan menebaskan pedang besarnya. Kelinci itu menabrak pedang besar milik Miller dan kemudian terjun jatuh ke tanah. Pada waktu bersamaan, Wolf dengan cepat melintas di bawah kelinci itu, pedang panjangnya yang tajam berkilat memancarkan cahaya setengah bulan sabit, siap untuk menusuk jantung monster kelinci itu. Carol buru-buru berteriak, “Tangkap ia hidup-hidup!” Huh? Wolf mengangkat alisnya dan menarik kembali pedangnya. Ia mengangkat kakinya yang besar dan menendang kelinci itu dengan keras. Kelinci itu menyentuh tanah, terpental lebih dari sepuluh meter di udara, dan kemudian jatuh terhempas ke tanah. Debu bertebaran di sekitarnya. Kelinci itu tampak mengenaskan, lehernya bengkok, lidahnya menjulur keluar, dan terkapar tidak bergerak. Miller masih bisa merasakan energi kehidupan dari kelinci itu. Sambil berjalan, ia mencibir, “Pura-pura mati kau rupanya!” Kelinci itu membuka matanya dalam sekejap, sambil berbaring ia berusaha mengumpulkan kekuatannya. Ia masih tidak menyerah untuk mencoba melarikan diri. Namun pada saat itu, tubuhnya bergetar lagi seolah-olah mabuk, dan kemudian menggelengkan kepalanya. Semua orang menatap perubahan wujud kelinci itu. Rambutnya yang seperti jarum besi perlahan melunak, tubuhnya yang berotot perlahan kembali menjadi seperti semula. Kelinci itu sekali lagi ke bentuk aslinya dalam sekejap mata. Ia terkapar di tanah tidak sadarkan diri, dan tidak ada lagi menjadi sebuah ancaman. Perubahan wujud ini membuat Miller dan yang lainnya saling bertatapan, mereka bingung dengan situasi itu. Mata semua orang menatap ke arah Carol. Miller penuh dengan tanda tanya berkata, “Carol, apa yang kau lakukan padanya? Itu jelas-jelas berasal dari kelinci biasa.” Carol sendiri juga kebingungan, apalagi mereka. Bagaimana mungkin obat tidur malah menyebabkan kelinci itu menggila? Dan juga, bagaimana kelinci yang tadinya jinak, tidak berbahaya sama sekali bisa berubah menjadi ganas dan memiliki kemampuan super? Tapi, tunggu sebentar, apa yang tadi Miller katakan? Pesawat terbang? Pikiran Carol berkelebat. Ia buru-buru bertanya, “Miller, aku punya bertanyaan. Bisakah hewan biasa berubah menjad monster?” Mungkinkah obat yang ia buat adalah obat rahasia yang legendaris itu? Sepertinya tidak mungkin. Wolf berpikir sejenak dan berkata, “Secara umum, hanya hewan yang memiliki darah monster yang dapat berevolusi menjadi monster yang sesungguhnya.” “Maksudmu, kelinci itu memiliki darah monster?” Tanya Carol. “Uh ...” Wolf dan yang lainnya saling berpandangan. Secara teori memang demikian. Namun, dalam kenyataan sebenarnya tidak masuk akal. Terlalu kecil kemungkinan seekor kelinci memiliki darah monster di dalamnya. Jika ada pun, mereka akan sulit hidup dan berkembang biak karena keterbatasan ras. Miller berdiri untuk memeriksa kelinci itu, “Aneh, baru saja masih ada gelombang kekuatan sihir dalam tubuhnya, mengapa sekarang sudah hilang?” Tidak hanya gelombang kekuatan sihir yang berubah, bentuk tubuhnya juga terlihat cepat sekali berubah. Perbedaan itu mengejutkan semua orang. Wolf membungkukkan badannya, mengambil kelinci itu, dan menggoyangkannya seakan dia tidak punya hati. Namun, seberapa pun kuatnya kelinci itu diguncang, ia tetap tidak bergerak. Jadi, obat ini sama sekali bukan ramuan untuk obat tidur, tapi memiliki efek yang lain? Carol lalu memikirkan ayahnya, seorang apoteker dengan tingkat keberhasilan setengah-setengah dalam menyembuhkan para pasiennya. Ia perlahan memahami sesuatu. Benar, ramuannya! Carol bergegas kembali ke laboratorium tanpa mengucapkan sepatah kata. Wolf dan yang lain saling melempar pandangan dan kemudian mengikuti Carol. Di meja kerjanya, sebotol cairan kemerahan berpendar disinari cahaya matahari. Untungnya ramuan itu tidak dirusak oleh si kelinci. Carol menghela nafas lega, kemudian meraih botol itu. Miller yang sedari tadi penasaran, melangkahkan kakinya berusaha melihat ramuan itu lebih jelas, dan bertanya, “Carol, apa ini?” Carol tampak canggung, sudut mulutnya terangkat, “Ini adalah obat yang bisa membantu kau tertidur.” “Wow!” Miller berkedip. “Kedengarannya menarik.” “Apa kau ingin mencobanya?” tanya Carol sambil mengangkat botol ramuan itu. “Hanya perlu satu sampai dua tetes, kau akan tidur nyenyak tanpa khawatir terbangun di tengah malam.” “Terima kasih tawarannya,” Miller tersenyum. “Firasatku mengatakan bahwa kau pasti tidak punya maksud baik terhadapku.” “Sejelas itukah?” Carol tertawa sambil mengambil sendok dan sedikit ramuan itu. Ia menaruh ramuan itu ke kandang besi di sampingnya. Seekor tikus yang bersembunyi di sudut kandang menatapnya dengan waspada, tetapi pada akhirnya ia tidak bisa menahan godaan makanan. Tikus itu menggigit sendok yang Carol sodorkan dan menelan cairan ramuan itu. Semua orang memperhatikan gerak-gerik tikus itu, tidak sabar untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Sementara itu, kandang besi milik kelinci yang telah rusak tadi tampak tergeletak di dekat mereka. Mereka bisa melihatnya dengan jelas dan tentu saja mulai berspekulasi. Setelah beberapa saat, tikus abu-abu yang berada di dalam kandang itu mulai menjadi liar. Selain terus mencicit, tubuhnya juga mengalami perubahan menjadi semakin besar. Matanya yang seukuran kacang mengeluarkan cahaya kehijauan. Sedangkan, taringnya yang tajam menggigit kandang besi itu dengan ganas. Kawat besi tipis itu terpelintir dan hampir putus karena gigitannya. “Hei, tikus kecil, diamlah!” Wolf mendekati tikus itu dan merogoh ke dalam kandang untuk menggenggam tikus abu-abu itu dengan kuat. Tikus itu terus meronta dan mencicit, mencoba membebaskan diri dari genggaman Wolf, namun tidak berhasil. Setelah beberapa saat, tubuh tikus itu melemah dan jatuh pingsan. Ternyata benar, ini jelas bukan hanya kebetulan! Carol tiba-tiba menyadari sebuah kemungkinan. Mungkinkah sebetulnya memang tidak ada yang salah dengan resep ramuan itu, namun si pemilik buku panduan sengaja mengacaukan formula dan efek obat itu? Semua orang menatap Carol dengan rasa heran dan ingin tahu. Tiba-tiba, seseorang teringat bahwa Miller pernah terluka parah dan diracuni sebelumnya. Selama dirawat oleh Carol, luka-lukanya tidak hanya pulih, tapi Miller juga berhasil lolos dari kematian dan naik tingkat menjadi ksatria Cahaya Bintang orde ketiga. Pada saat itu, semua orang merasa bahwa itu mungkin hanya sebuah kebetulan. Tapi, setelah melihat perubahan kelinci dan tikus abu-abu itu hari ini, tidak mungkin mereka masih meremehkan kemampuan Carol. Mengingat semuanya, beberapa orang yang memperhatikan Carol menjadi lebih antusias. Miller akhirnya bertanya, “Carol, obat macam apa ini?” “Aku sudah bilang, ‘kan? Ini obat tidur.” Dengan usil, Carol menggoyangkan botol ramuan itu dan menawarkan, “Miller, apakah kau benar-benar tidak mau mencobanya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN