Carol mengusap keningnya, terbersit rasa penyesalan dalam diri. Selama ini, ternyata ia terlalu meremehkan kemampuan para apoteker di sekelilingnya, termasuk kemampuan ayahnya yang setengah-setengah tentang alat-alat penyulingan obat. Di luaran sana, ternyata banyak apoteker yang kemampuannya tidak cukup baik. Ia terkejut ketika menyadari bahwa apoteker pribadi bangsawan pun bahkan pengetahuannya sangat rendah, ia tidak bisa menciptakan alat penyulingan obat yang lebih profesional.
Carol mendesah, ia sedikit segan untuk meminta lebih banyak, “Bisakah kau mencarikan bagiku beberapa pisau bedah?”
“Aku tahu pisau, tapi pisau bedah? Bagaimana bentuknya?” mata Melissa berkedip menyiratkan kebingungan.
Carol menjelaskan dengan sabar, “Hanya pisau yang tajam saja.”
“Pisau biasa? Katakan saja sejak awal, aku akan meminta Wolf mencarikan seperti yang kau mau,” gumam Melissa.
Tiba-tiba, wanita itu memanggilnya, “Carol!”
“Ya!” Carol berkedip dan menundukkan kepalanya seperti yang Wolf biasa lakukan.
“Tuan Putri Melissa, apa lagi yang kau butuhkan?” katanya.
“Jangan kecewakan aku.” Nada bicara Melissa terdengar menegur, tapi juga seperti mengancam. Sesudah berkata seperti itu, ia menyeret jubahnya yang lembut dan cantik dan berjalan keluar dengan cepat tanpa menunggu respon Carol.
“Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan ini,” ujar Carol sambil menghela nafas lega.
Meskipun Melissa tidak kasar padanya, tapi di depan tuan putri yang memesona itu, ia merasa seperti harimau yang tunduk pada rajanya.
Carol menemui Wolf dan memberikan desain pisau bedah yang digambarnya sendiri. Wolf mengerutkan keningnya, “Apa gunanya pisau sekecil ini? Bahkan seorang koki saja tidak akan suka memotong daging dengan pisau ini.”
“Sudah, buat saja seperti yang tergambar di situ,” ucap Carol tanpa menjelaskan terlalu banyak.
Saat waktu makan malam tiba, pisau bedah yang diminta Carol sudah siap. Pisau itu bermata tajam dan mengkilap, dibalut dengan kulit binatang.
“Omong-omong, berapa umurmu tahun ini?” Tanya Wolf dengan santai.
“Umurku?” Carol berpikir sejenak, ia menjawab dengan tidak begitu yakin, “Tujuh belas tahun, kurasa.”
“Ya Tuhan! Kau tujuh belas tahun?” Wolf terkejut.
“Kukira kau baru berusia lima belas tahun, tubuhmu benar-benar terlalu kurus. Jika kau tidak menjadi lebih kuat, para wanita tidak akan menyukaimu,” lanjut Wolf
“Wolf, jangan kau coba-coba mempengaruhi anak kecil,” ujar Miller sambil meneguk anggurnya. “Ia hanya sedikit kekurangan gizi. Selama ia bisa makan cukup dan teratur, tubuhnya pasti akan lebih berisi,” lanjutnya.
Wolf mengangguk paham, ia memegang dagunya sambil memikirkan sesuatu, “Tujuh belas tahun ... kurasa Anida juga berusia tujuh belas tahun.”
“Ssst!” Miller sedikit cemas, ia mengamati sekeliling mereka, lalu tersenyum dan berbisik, “Jangan bercanda tentang Anida. Kalau kau ingin mati, jangan seret Carol bersamamu.”
Tapi Carol tampaknya masih penasaran. Sambil memeriksa pisau baru miliknya, Carol bertanya dengan santai, “Siapa itu Anida?”
“Pelayan pribadi Tuan Putri Melissa. Anida itu istimewa, jika kau bertemu dengan dia, ingatlah untuk bersikap hormat.”
Tiba-tiba Miller mengubah topik pembicaraan, “Carol, bagaimana dengan pisaunya?”
“Pisau ini hampir tidak bisa kugunakan. Mata pisaunya cukup tajam, tapi ukurannya tidak sesuai, dan juga sedikit bengkok,” ujar Carol sambil menghela nafas.
“Apakah kau tidak puas? Ada toko pandai besi milik seorang kurcaci di pelabuhan. Mungkin kau bisa menemukan yang kau mau di sana.” Miller berhenti sejenak, barulah menambahkan, “Hanya saja, harganya pasti akan lebih mahal,”
Kurcaci! Kata ini mengingatkan Carol akan fakta bahwa ia berasa di dunia yang berbeda dengan bumi. Ia penasaran dengan hal lain yang ada di sini, “Selain kurcaci, ada ras lain apa yang ada di sini?”
“Masih ada beberapa Orc yang datang dari Benua Bulan Biru yang ada di sisi laut untuk melakukan perdagangan. Mereka hanya akan mengambil bahan makanan di dermaga dan langsung pergi, tanpa masuk ke daratan lebih dalam lagi.”
Jawaban Miller itu tidak mengecewakan Carol. Keinginannya menjadi lebih besar, “Aku harus melihatnya ketika ada waktu luang.”
“Kalau kau ingin pergi, berhati-hatilah dengan kaum mereka. Baik kurcaci maupun Orc, mereka sama-sama tidak memiliki temperamen yang buruk.”
Carol mengangguk mengerti. Ia mengambil pisau bedah yang dibalut oleh kulit binatang itu, lalu berdiri dan melambaikan tangannya, “Tuan-tuan, aku pergi dulu.”
“Bekerjalah dengan baik!” Wolf dan lainnya mengangkat gelas mengantar kepergiannya.
Carol berdiri di samping meja kerjanya, mengamati alat-alat di atas meja itu. Semua tampak kasar dan ketinggalan zaman, membuat ia merindukan peralatan di bumi.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah dewa! Namun peralatan dan eksperimen yang buruk dan penuh dengan hal-hal yang tidak jelas menyeretnya turun, mengubahnya dari dewa menjadi manusia.
Bukan berarti ia memandang rendah ilmu pengetahuan farmasi di dunia yang sekarang ini ia tinggali. Ia menyadari bahwa adanya kekuatan super di dunia ini telah menuntun perkembangan ilmu kedokteran ke arah yang berbeda dari dunianya sebelumnya.
Carol mengeluarkan buku panduan ramuan obat dari sakunya. Itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya yang ia bawa. Buku itu sudah tua, tampak b****k dan berwarna kuning. Ayahnya membuat buku itu dari kulit domba tipis yang dipotong seukuran telapak tangan dan kemudian dijahit menjadi sebuah buku. Pada setiap halamannya, ramuan resep dicatat dalam tulisan yang berantakan.
Dia telah membuat obat pelumpuh saraf tulisan tangan ayahnya itu ketika masih di kota kecil. Kemudian ramuan obat detoksifikasi untuk pengobatan Miller. Dua resep ramuan itu sudah termasuk yang paling sederhana di antara resep-resep lain.
Beberapa halaman awal buku itu relatif normal. Resep ramuan yang di tulis di situ pada dasarnya merupakan gabungan dari akar, batang, sulur, dan daun berbagai tanaman. Masih tergolong obat-obatan yang umum. Namun ketika sampai di halaman belakang, resep-resep yang tertulis cukup membuat mata terbelalak. Bahan-bahan yang disebutkan cukup sulit untuk dicari. Ada beruang kanibal dengan cakar yang patah, tulang putri duyung, jantung unicorn, bulu burung abadi, darah naga, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bisa dibayangkan, ketika Carol pertama kali menyentuh buku itu dan membaca resep-resep yang tertulis di dalamnya, ia berpikir bahwa itu semua hanya omong kosong belaka. Baru setelah ia bertemu dengan Wolf, ia belajar tentang kekuatan super yang luar biasa. Ia baru yakin bahwa isi buku panduan itu tampaknya bisa dipercaya.
Carol mencermati seluruh isi buku panduan itu, dan dengan semangat seorang ilmuwan yang mempertanyakan segala hal, ia memutuskan mencoba membuat resep ramuan itu sendiri. Ia ingin membuktikan apakah kumpulan resep ini sungguh berhasil atau tidak. Apalagi, ada cukup banyak barang yang bisa digunakan di laboratorium itu. Dan seandainya ada beberapa bahan yang tidak bisa ia temukan, sudah cukup baginya bila ia bisa membuat satu atau dua resep dari kumpulan milik ayahnya itu.
Carol mulai mengambil dua buah beri merah, beberapa akar hitam, absinth, bunga lumut, tanduk domba, jamur payung, ditambah batu bulan. Ia menyiapkan kompor, menyalakan apinya, dan merebus air di atasnya. Setelah air mendidih, ia memasukkan bahan-bahan itu ke dalam kuali satu persatu. Ramuan itu ia aduk perlahan sampai semua bahan tercampur. Proses dekomposisi, reorganisasi, dan restrukturisasi adalah seluruh proses pembuatan ramuan yang tertulis dalam resep. Pengerjaan sederhana ini tidak sulit bagi Carol.
Setelah setengah jam berlalu, ramuan itu berubah menjadi cairan warna merah kehitaman yang mendidih dan mengeluarkan bau yang sangat aneh. Menurut catatan di buku, ini adalah ramuan yang bisa membuat pasien tertidur lelap. Dengan kata lain, ini adalah obat tidur. Apakah ia berhasil membuatnya?
Carol memandangi cairan di dalam kuali itu dengan perasaan ragu. Karena kebiasaan, dia tidak bisa menahan diri menghabiskan waktu 10 menit untuk memurnikan obat itu dan menghilangkan kotoran untuk membuat warnanya lebih jernih. Ramuan kemerahan itu memiliki sedikit aroma yang menyengat.
Carol mengalihkan pandangannya dan melihat kandang besi di sudut ruangan. Tikus yang dikurung di dalam sangkar itu bukanlah tikus percobaan. Rambutnya berwarna abu-abu dan memiliki gigi tajam yang beracun. Carol berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk mengambil kelinci yang lucu dari dalam kandangnya. Ia meneteskan dua tetes ramuan obat yang ia buat ke mulut kelinci itu. Kemudian, ia memasukkan kembali ke dalam kandang dan mengamati reaksi yang terjadi.
Kelinci itu tampak gemuk dan tidak lincah. Hanya beberapa detik setelah menelan ramuan itu, tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan mata merahnya berubah menjadi keputihan dan bahkan memancarkan cahaya aneh. Hewan itu tampak lebih lincah dari sebelumnya.