Amarah Menggebu

1307 Kata
"Entah, tiba tiba kaka memiliki kekuatan. Aku beralih kebangku depan mengemudikan mobil ayah, dengan kecepatan tinggi sehingga lolos melewati mereka." "Tak lama banyak suara tembakan. Siallnya, ban mobil kita tertembak, dengan kecepatan seperti itu aku tidak bisa mengendalikan mobil ayah." "Mobil oleng, jatuh ke jurang. Aku membuka mata saat itu matahari sudah akan tenggelam. Orang-orang itu mungkin mengira kita sudah mati karna jurang sangat dalam." "Aku melihat Rebecca tak jauh dari ku, badannya sudah berlumur darah dan ada bekas luka tembak di punggungnya, Rebecca telah meninggal. Entah . .aku sangat panik saat itu, mungkin saat aku mengendarai mobil, Rebecca sudah tertembak." "Aku lalu melihat mu, mungkin kau terlempar jauh sampai aku harus menyeret kaki ku untuk menghapiri mu. Kau duduk di sebrang sana tanpa menangis sedikitpun, dengan wajah mu yang berlumuran darah, kau tersenyum kepada ku." "Rekaman vidio yang telah kau lihat itu, dari rekaman mobil ayah. Untung saja telah ku temukan pada saat itu juga," Ucap Jessin dengan linagan air mata yang tak terbendung. Tangan Jullia terus mengepal mendengar penjelasan Jessin. Ya, dia wanita berambut merah yang ditemuinya pagi tadi, dia adalah kaka kandungnya yang lama menghilang. "Apa kau bodoh ka?, kenapa kau tidak menyerahkan vidio rekaman itu sejak dulu?!" ucap Jullia. "Hahaha .., kau tau alasan kenapa keluarga kita di bunuh??," tanya Jessin. "Aku masi mengingat kejadian itu, tapi karna kaka menutup mata ku pada saat itu, aku kesulitan mencari informasi, dan ayah angkat melarang melanjutkannya," ucap Jullia. "Setelah kejadian itu, aku sembunyi-sembunyi datang kerumah kita mencari buku yang ayah maksud. Apa ayah kita pernah membuat catatan belanaja?," Jessin terkekeh tapi matanya masi merah padam. "Apa dia sudah gila?," Julia menaikan sudut alisnya. "Karna catatan ayah sangat detai dan rici, buku itu menjelaskan bahwa keluarga Edward Jonsep yaitu Mark Jonsep dan Joorce, mereka adalah ayah dan paman Jonnatan. Mereka korupsi di kota kita dan beberapa negara lainya," ucap Jessin. "Cihh, apa dia takut dengan buaya peliharanya sendiri?," Julia tersenyuman tipis, seolah mengejek karna pamannya sendirilah yang memiliki danau buaya, untuk para penghianat." "Dan Pasukan khus yang telah menghabisi keluarga kita, mereka adalah badan intelijen seperti ayah. Karna ayah berhasil menemukan dokumen penting dan bukti lainya, tentang penggelapan dana keluarga Edward Jonsep. Mereka membeli badan hukum." "Kau tau Juliia?, teman ayah yang sering berkunjung saat kita kecil, dan memberikan kita banyak boneka. Aku melihat dia ada di sina, dia menyaksikan segalanya keluarga kita tertembak, tanpa berkedip." "Kau sekarang hanya boleh percaya dan mengandalkan ku saja,Jullia. Jangan percaya pada siapapun!", tegas Jessin. "Lalu siapa lagi yang terlibat ?," ucap Jullia. “ketika aku melihat mu menggunakan gaun pengantin konyol itu dengan laki-laki sialan, rasanya saat itu juga aku ingin menebas kepalanya, cih!." "Jangan terlalu kasar kepadanya, Jonnatan memang dari keluaraga Edward Jonsep, tapi dia tidak terlibat. Jangan campuri urusa ku. Aku sendiri yang akan membuat Jonnatan ikut menderita," ucap Jullia. "Heii adik ku sayang.. apa kau sangat mencintainya??," Jessin menatap tajam Jullia. "Sudah ku bilang, jangan ikut campur, aku bisa mengurus orang itu!," tegas Jullia. "Remaja yang saat itu membunuh orang yang melahiran kita, dia Jonnatan Jonsep!," tegas Jessin. Mata Jullia seketika membulat, badanya terasa beku, aliran darahnya seketika berhenti. "Shhhhtt ! aaaaaak!!," teriakan Jullia menggema memenuhi ruangan itu, lalu membanting fas ke cermin yang menghadapnya. "Brak!!." Jessin memeluk Jullia, berkata "kau sekarag memiliki emosi Jullia, kau bahkan sekang seperti manusia," bisik Jessin. "Ada yang harus ku urus! kau tau apa yang sekarang jadi tujuan kita, ambilah ini dan hubungi aku," Jessin melepaskan pelukannya dan memberikan sesuatu di tangan Jullia dan pergi meninggalkan tempat itu. *** Setelah Jonnatan menelpon orang suruhannya dia pergi ke tempat berkuda miliknya. "Siapkan Jordi!, aku ingin berkuda!!," teriak Jonnatan pada pengurus kuda. Pengurus itu takut takut sadar akan tuanya sedang buruk suasana hatinya, "Ba-baik tuan," serunya. "Heakk!." Jonnatan mulai menunggangi Jordi kuda kesayangannya. Emosi Jonnatan membuat kuda berlari sangat kencang. Tempat berkuda itu sangat luar hampir satu hektar di kelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, Jonatan masi berkuda meluapkan emosinya. "Sruukk brukkk!!." Kuda terjatuh, karna kakinya terpelintir akibat kelelahan. Terlihat Jonnatan lumayan terpental jauh. "Tuan tuan .. , tuan baik baik saja?," seru bodyguard yang tak jauh. Jonnatan menggerak gerakan pergelangan tangan dan kepalanya meringis sakit. "Jangan pedulikan aku. Bagaiman, kau sudah mencari tau?," tanya Jonnatan. "Maaf tuan, orang suruhan kita belum menemukan wanita berambut merah itu." "Plak plak plak." Tamparan keras membekas di wajah sangar bodyguard itu. "Aku tidak suka orang berkerja lamban!!," pekik Jonnatan. Pukul enam sore, Jullia masi di tempat memikirkan sesuatu, ia meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. "Ka, tolong urus pasport dan visa ku, orang Jonnatan pasti sedang mencari ku. Aku ingin pergi ke Amerika," ucap Jullia. "Haha. Apa kau ingin ke sana menenangkan diri?," goda Jessin. "Aku sedang tidak ingin bercanda. Percayalah, aku memiliki rencana untuk menghancurkan mereka. Dengan apa yang kita miliki sekarang, belum bisa mengambil nyawa mereka, bahkan hanya menyentuhnya," ucap Jullia. "Oke.. , besok pagi ku pastikan sudah siap semuanya!." tut tut sambungan di putuskan Jullia. "Dasar adik tidak sopan hehh," grutu Jeslin. *** "Ambillah ini ..sesuai janji ku, pasport mu, dan visa mu menyusul. Aku telah mentransfer sejulamlah uang ke rekening mu!," ucap Jessin. "Kau tau rekening ku??," Jullia menaikan sudut alisnya. "Itu sangat mudah ku ketahui, sayang..," Jeslin terkekeh. "Baiklah aku akan pergi sekarang, jaga dirimu!." ketika Jullia hendak pergi, Jesslin menarik tangan Jullia dan memeluknya. "Hei bodoh! tunjukan sopan santun mu sedikit pada kaka mu, aku hanya punya dirimu yang tersisa. Bersikaplah normal sedikit agar orang tidak mencurigaimu," Jeslin lalu melepaskan pelukannya. "Akan ku beritahu jika sudah sampai, aku pergi dulu..," ucap Jullia. "Apa kau tidak ingin tau aku tinggal dimana?, bagaimana cara ku bertahan sampai saat ini hah?, apa kau normal hanya dengan si b******k it?," ucap kesal Jessin. "Dari penampilan mu aku tahu, kau hidup dengan baik. Aku tidak perlu menceaskan mu.. aku akan ketinggalan pesawat untuk mendengar cerita kaka." "Aku pergi..!," Jullia pergi begitu saja melambaikan tangan dari belakang, ia hanya membawa tas gendong miliknya. Jessin hanya menghelangkan napas kasar melihat kelakuan acuh adiknya. Di ruang kerja Jonnatan. Terdengar ketukan pintu dari ruang kerja Jonnatan. "Masuk!," Seru Jonnatan. "Maaf menggangu, tuan. Saya dapat kabar nona Jullia telah pergi ke Amerika," ucap laki laki bertubuh kekar. "Lalu..?," Jonnatan menatap tajam laki laki itu. "Ma-maaf, masudnya tuan?," tanya takut takut. "Kenapa kau membiarkannya pergi?, hhhah??," teriak Jonnatan. "Ma-maaf tua, aku mendapat informasi terlambat, ketika nona sudah pergi," menunduk. "Lalu wanita satunya lagi?!," tanya Jonnatan. "Maaf tuan, aku belum menemukanya," ucap bodyguard itu. "Dor!." Tanpa aba-aba Jonnatan menembak kaki kanan bodyguard itu. Darah segar bercecer di ruangan kerja Jonnatan. Jonnatan akan melakukan kekerasan sebagai pembelajaran, tapi tidak sampai membuh. "Urus dia!," pekik Jonnatan. "Roberrt ..! kenapa kau merekrut orang orang bodah hahh??," Ketus Jonntan. "Tuan saya akan mencari yang lebih, tuan sebaiknya istirahat sejak kemarin tuan tidak tidur," ucap asisten pribadi Jonnatan. "Apa aku bisa tidur dengan kinerja kalian yang begini hah?. Robert, ada yang ingin kau sampaikan tentang perusahaan?," ucap Jonnatan smbil memijat pelipisnya. "Selama tuan tidak di kantor masi bisa saya hendle, dan untuk besok ada jadwal penting meeting ntuk pemegam saham tuan." "Berapa saham ku sekarang?," tanya Jonnatan. "Saham anda 56%, maaf tuan kenapa anda tiba tiba menanyakannya?." "Tarik semua saham ku!, aku akan mulai berbisnis sendiri tanpa ada campur tangan keluarga," ucap Jonnatan. "Aku sangat mendukung anda, tuan. Anda sangat berbakat untuk berbisnis, saya yakin anda mampu membangun sebuah perusahan baru yang lebih besar", Ucap Robert. "Tepatnya, aku ingin kekuasaan yang lebih dari segalanya Robert, aku tidak ingin keluarga ku atau paman bisa megendalikan ku," ucap Jonnatan. "Apa ini karna nona Jullia tuan?." "Berhentilah memanggilnya nona, dia sudah bukan nona kalian. Kau pikir aku Masi menyukainya hah?, Jika kau bukan orang yang ku percaya, sudah ku tembak lidah mu sekarang Robert!," ketus Jonnatan. "Maaf atas kelancangan saya, tuan," memunduk. "Lihatlah nanti, saya buat dia sakit lebih dari kematian!," Jonnatan tersenyum licik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN