"Tentu nona, tidak ada. Apa wanita itu boleh Masuk?."
"Biar aku yang menemuinya saja!," ucap Jullia.
Wanita berambut merah gelep menggunakan kemeja rapih agak sexy, tersenyum ke arah Jullia.
"Jullia, aku perlu bicara dengan mu,’’ ucap wanita itu, tanpa basa basi.
Jullia menaikan sudut alisnya, menatap sinis. "Kenapa aku harus bicara dengan mu?."
Wanita itu hanya tersenyum, tidak membalas pertannyan Jullia.
Jullia Menghampiri wanita itu mendekatkan dirinya sampai badan mereka saling bersentuhan, ia agak menundukan badannya, merogoh rok sampai ke punggung wanita itu.
Memastikan tidak ada senjata walaupun bodyguard sudah memastikan, kemudian Jullia menyuruhnya duduk.
Mereka duduk Saling berhadapan, tidak tahu kenapa membuat Jullia sangat fokus pada wajahnya. Wanita itu masi belum menyampaikan apa pun.
"Aku tidak ingin bicara dengan wanita yang terlihat menggoda, pergilah ke kamar mandi, kancingkan baju mu terlebih dulu," ucap Jullia, dengan tatapan yang penuh arti.
Entahlah, padahal Jullia sangat suka berpakaian sexy. Setelah menunggu beberapa lama, wanita itu sudah kembali dari kamar mandi, ia kembali menghampiri Jullia.
"Sandra, tadi kau membuatan ku juss terlalu banyak sepagi ini, kau Membuat ku sakit perut. Aku ketoilet dulu dan berikan wanita ini minuman!," seru Jullia.
"Maaf Jullia, aku akan buatkan.. ," seru wanita paruh baya , yang tak lain ART yang Jullia hormati. Ia yang masi di dapur segera memhuatkan minuman.
"Apa nona masi lama? waktu sudah sangat sempit." bodyguard itu tampak cemas memandangi toilet, yang tak jauh dari ruang tamu.
Tak lama Jullia keluar.
"Maaf sepertinya aku berkunjung tidak tepat, aku sudah membuang waktu mu Jullia."
"Aku akan kembali lagi setelah kau punya waktu luang," ucap wanita Itu, ia memberikan senyuman yang penuh arti. Lalu melangkah pergi meninggalkan Jullia.
Entah mengapa Jullia hanya tersenyum, memandangi wanita itu pergi begitu saja.
Perjalanan menuju gedung begitu lacar. Tepat pukul sebelas, Jullia sampai di gedung resepsi. Terlihat tamu yang di undang hanya teman mereka berdua.
Sangkekasih sudah terlihat rapi, dengan stelan jas bewarna biru marun yang di pilihkan Jullia. Rambutnya di sisir kebelakang, pomed yang di pakai menambah kesan maskulin.
Dengan postur tubuh tinggi, kekar di tambah wajahnya yang sangat tampan hari ini. Ia mirip pangeran di negri dongeng.
Jonnatan tersenyum melihat kedatangan sangkekasih.
Tangan Jullia mengepal, dengan terpaksa ia membalas senyuaman Jonnatan. Kemudian ia menghampiri Jonnatan.
"Sayang kau telat satu menit, akan ada hukuman untuk mu nanti malam," bisik Jonatan.
Mereka sudah di tempat untuk mengucapkan Janji suci pernikahan. Jonnatan tidak berhenti menatap Jullia. Ia sangat bahagia hari ini, melihat Jullia menggunakan gaun pengantin untuknya.
"Jonatan, aku tidak bisa melanjutkan semua ini!." suara lantang Jullia, tiba tiba membuat semua orang yang hadir terkejut.
"Bukan saatnya bercanda sayang..," Jonnatan terkekeh.
"kau sepetinya kurang tepat untuk ku Jonnatan.., kau memang sempurna tapi aku lebih mencintai kebebasan, maaf aku baru sadar setelah di sini dan memakai gaun bodoh ini." Jullia Tersenyum tipis namun matanya berkaca-kaca.
Entahlah rahasia apa yang ia sembunyikan saat ini.
Jonnatan seketika mematung, matanya merah padam, ia tidak percaya mendengar apa yang di ucapkan orang yang sangat di cintai.
Sementara Jullia melangkah pergi begitu saja. Saat di pertengahan pintu keluar, tiba-tiba tangan kokoh Jonnatan menarik tangannya.
Jonnatan mencium bibir Jullia dengan brutal. Jullia melawan tapi-sia sia saja, sampai oksigen dalam tubunya menipis.
"Apa kau sudah siuman???, apa kau wanita bodoh haa??, aku sangat mencintai mu, apa yang kau inginkan akan aku berikan, termasuk alasan konyol mu tadi." Jonnatan menatap tajam Jullia dengan air mata yang berusaha ia tahan di kelopak matanya, rahangnyapun mengeras menahan amarah.
"Kau sadar. . ? kaulah yang bodoh jika aku jadi dirimu aku akan dengan sagat mudah mencari yang lain, apa kau tahu?? hal yang sangat memuakan adalah sikap manja mu kepada ku, aku sangat membenci orang seperti mu Jonnatan.
"Huhh, lagi-lagi aku baru menyadarinya." Jullia terseyum tipis, tapi matanya lagi-lagi berkaca kaca.
"Kelapangan tembak pak!." Jullia pergi menaiki taxi.
Supir taxi hanya mengangguk. Diam-diam sang supir melihat dari sepion, "yang benar saja dia akan pergi ke baku tambak dengan gaun pengantin?," batinya.
Sementara Jonnatan masi di gedung memecahkan segala ornamen gedung resepsi, dengan pistolnya. Melihat itu, para tamu undungan segera berlarian meninggalkan gedung resepsi.
Jonnatan sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarya, tidak pernah hatinya terguncang seperti ini, hilang sudah akal sehatnya, yang membuat dia menjadi orang penting di kotanya.
Sesampai di lapangan baku tembak, Jullia tidak berhenti untuk menembak meluapkan kesedihanya.
Jullia jadi pusat perhatian orang orang di seitar ada yang memuji ketepatanya menembaknya, ada juga yang meledek dengan gaun pengantinya. Satu jam sudah berlalu Jullia masi menembak.
"Keluarlah sesuka mu air mata. .. , setelah ini aku tidak akan mengizinkan mu untuk menetes," air mata membasahi pergelangan tangan Jullia.
Dari kejauhan Sepasang mata sedang mengawasinya. Tiba tiba seorang menepuk bahu Jullia.
"kau pasti haus Jullia, minumlah dulu!," ucap seorang wanita berambut merah.
"Kau hutang penjelasan kepada ku, ka!," ucap Jullia.
"Berhentilah menembak, kita cari tempat untuk mengobrol. Ikutlah dengan ku, disini tidak aman!,” ucap wanita berambut merah.
Jonnatan sudah berada di kediamannya, ia duduk di ruang kerja menyentak-nyentakan kakinya seperti sedang berfikir. Tak lama ponselnya berdering.
"Bagaimana, apa keluarga ku terlibat??," tanya Jonnatan.
"Tidak Tuan, saya sudah pastikan bahwa keluarga anda tidak terlibat, dengan masalah pernikahan anda."
"Tapi ada seorang wanita yang menurut saya mencurigakan, dengan laporan yang saya terima, dia tidak mengatakan apapun dan meninggalkan rumah nona tadi pagi," ucap pria itu.
"Cari tau wanita itu, laporkan secepatnya!!," sabungan terputus.
"kau telah melukai sangat dalam singa ini Jullia!, tunggu lah apa yang ku buat terhadap mu.." tangan Jonnatan mengepal kencang.
Di ruang tertutup. "Aku sudah melihat sebagian file vidio rekaman yang kaka tinggalkan di toilet. Betapa brutalnya keluarga Edward Jonsep membantai keluarga kita."
"Aku baru tahu alasan ayah, menyembunyikan statusnya sebagai badan intelijen, dan menjadikan status ku yatim piatu. Sekarang katakan ka, yang belum ku ketahui selama ini!," ucap Jullia.
"Sebelum ayah meninggal, ia berpesan pada kaka untuk membawa mu ke panti asuhan. Saat itu usia mu sepuluh tahun."
"Kau tahu?, ayah sangat menyayangi mu sebelum pembantaian itu terjadi, dia selalu berbicara tentang mu pada kaka."
"Pada hari itu, entah mengapa ayah tiba-tiba membawa ibu, adik-adik kita dan kau, Jullia. Sebelum berangkat ayah berpesan untuk mengambil buku catatannya, yang di simpan di ruang rahasia ayah, jika sesuatu buruk terjadi."
"Aku ingat, jalanan itu belum pernah kita temui, tepatnya seperti hutan. Tiba-tiba segerobolan mobil melesat menghadang mobil kita, orang -orang itu keluar dari mobil. "Mereka berpakaian seperi prajurit khusus."
"Mereka menyeret orang tua kita keluar dari mobil, dan satu adik kita Marcell. Entah apa yang di bicarakan mereka, tiba tiba suara tembakan bertubi-tubi terdengar."
"Aku menutup mata mu dan juga Rebecca, agar kalian tidak melihat banjirnya darah ayah dan Marcell, yang megalir di seluruh wajah mereka.
"Tubuh ku lemas membeku, hanya sanggup menyaksikanya, tidak ada keberanian untuk kabur."
"Tidak lama ada remaja dan pria paruh baya keluar dari mobil itu. Pria baya itu memberikan senjata pada remaja itu. Melihat ekspresinya, sepertnya dia gemetar mendengar ucapan pria baya itu."
"Aku tidak bisa mendengar mereka, jarak kita lumayan jauh. Remaja itu mulai mengarahkan senjatanya, ke Ibu. Aku sudah menduga akan terjadi. Dia menembak d**a ibu bertubi-tubi."