1. Dibully
Bab 1. Di bully
"Aku nggak mau duduk sama orang banci!"
"Aku juga!"
"Duduk sendiri dan ambil meja mu di lab sana!"
Teriakan yang sangat membisingkan keluar dari mulut siswa kelas XII IPA 1, yang baru saja memasuki tahun ajaran baru. Mereka tidak ingin duduk satu meja dengan Arkana Andrew, yang lemah dan pendiam. Wajahnya yang polos dan masih menggunakan bedak bayi itu sering kali menjadi olok-olokan teman-temannya.
Lelaki pemilik mata bulat dan rambut yang rapi berjalan gontai dengan wajah menunduk. Ia berbalik hendak keluar tetapi kemudian ia tersungkur mencium lantai tepat di sebelah Syakila, seorang gadis pendiam dan juga pemalu.
"Ha … ha … ha … . Jalan yang bener aja nggak bisa. Gimana mau ambil meja dari lab"
Sorak-sorai kembali bersahutan sehingga suasana semakin gaduh tetapi Arkana masih di posisi, nyaris mencium lantai. Tangannya mengepal dan menghentakkan beberapa kali ke lantai. Setelah puas dia bangkit dan melempar asal tas yang digendong ke arah Syakila.
"Kenapa kalian ketawa! Kalian belum puas selama ini ngejek aku aja! Hah! Dan kau! apa kita punya masalah? Mau ku patahkan kaki mu, Hah!" teriak Arkana berang dengan mata yang sedikit melotot.
"Kau bisa apa Arkan … bisanya cuma mengadu kan sama bapak mu yang polisi itu. Ha … ha … ha …" Kelas kembali riuh dengan beberapa argumen dari mereka dan tak sedikit pula yang masih mencemooh.
"Bapak ku memang polisi, tapi aku tidak pernah mengadu tentang sikap kalian selama ini. Kalau aku sampai melakukan itu, kalian pasti dalam masalah" Bibirnya bergetar sedangkan manik matanya sedikit berembun menatap lekat teman-temannya. "Selama ini aku diam atas kelakuan kalian, ejekan kalian. Tapi kenapa kalian tak pernah puas. Ah sudah lah …" Arkana melangkah gontai dengan menahan sesak dalam hati, kemudian menjatuhkan bobotnya di kursi kosong samping Syakila, tangannya meremas tas yang berada depannya. "Siapa teman dudukmu?" Ia menoleh pada gadis yang sudah dua tahun terakhir menjadi teman satu meja. Mata yang mengembun pun tertuju pada manik teduh milik Syakila dengan penuh harap.
"Tidak ada. Tadinya Laila tapi dia pindah dengan Meilia" sahut Syakila dengan pandangan mengarah ke samping tempat temannya duduk.
"Kalau gitu aku duduk sini aja, boleh?" Arkana membenarkan posisi duduknya dan meraih tas, menaruhnya di kursi tempat dirinya bersandar meskipun belum sempat dijawab oleh Syakila.
"Kau-" Syakila mengacungkan jarinya ke wajah Arkana.
"Cukup Sya! … tolong, ya?" Arkana secepat kilat memotong pembicaraan sahabatnya itu dengan menggenggam hangat telunjuk Syakila. Dahinya berkerut, netranya menatap dalam sedangkan tangannya masih menggenggam jemari Syakila. "Ya sudahlah. Aku tau kamu tidak keberatan kan!" bibirnya tertarik ke samping hingga menampakkan barisan gigi yang putih, rapi.
Syakila hanya tersenyum malu dengan menundukkan wajah. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuannya, sehingga tanpa disadari rok abu-abu miliknya sedikit kusut.
"Kalian memang ditakdirkan untuk duduk semeja dalam tiga tahun ini, Cuy!"
"Kalian memang cocok jadi pasangan!"
"Cinlok euy … cinlok …"
Berbagai sorak-sorai keluar dari mulut siswa maupun siswi. Mereka sengaja melakukan itu sebagai candaan. Namun dalam hati Syakila ia berharap hal itu bisa menjadi kenyataan. Sudah lama dia menyimpan perasaan pada Arkana, yang semula hanya iba tapi lambat laun telah berubah menjadi cinta.
Arkana Andrew adalah lelaki pertama yang mampu menyentuh hati Syakila yang terkenal diam tapi jutek, galak dan pemalu. Di mata Syakila hanya Arkana yang paling tampan dan menawan. Meskipun dia belum tau apakah cintanya akan terbalas atau tidak.
"Nggak usah dengerin omongan mereka. Aku keluar dulu ya" Arkana beranjak dari kursi dan menepuk pundak Syakila pelan.
Sedangkan Syakila hanya bisa mengangguk dengan wajah tertunduk menahan dentuman dalam d**a dan wajah yang terasa memanas.
"Malu aku malu pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
Sedang apa disini
Menanti pacar jawabku" Spontan suara Laila mendendangkan lagu yang diikuti seluruh siswa siswi yang ada di ruangan tersebut. Liukan tubuh ke kanan dan ke kiri disertai tepukan tangan dengan tatapan mengarah pada Arkana yang hendak pergi meninggalkan ruangan. Dengan sekejap mereka melupakan ketegangan yang sempat terjadi sebelumnya.
"Ayo kejar Syakila … kejar dia" Suara Laila menghentikan lagu dengan tangan menunjuk Arkana sehingga semua mata terfokus pada Syakila.
"Ah apa-apaan sih kalian. Kita nggak ada hubungan apa-apa kok" jawab Syakila tersipu malu dengan bibir melengkung menciptakan senyum indah dengan tampaknya gigi gingsul.
"Ada juga nggak apa-apa kali. Lagi pula siapa yang mau sama Arkana, duduk satu meja dengannya aja ogah apalagi sampai jadi pacarnya, hi …." sambung Meilia dengan mengedikkan bahu. Hidungnya ditarik ke atas begitu juga dengan bibirnya yang mungil ikut juga tertarik.
"Ha … ha … ha … Kasihan kali lah kamu Arkan. Makanya jangan lemah jadi cowok" teriak yang lain.
*
Hari ini matahari sangat terik tapi tidak menyurutkan siswa untuk bermain di lapangan. Begitu juga dengan Arkana yang berdiri di pinggir lapangan volly sedari tadi menunggu giliran tetapi dia selalu saja ditolak jika ingin bermain. Lelah menanti ia pun kembali ke kelas, langkahnya gontai, wajahnya tertunduk lesu bahkan sesekali tangannya melempar kerikil yang di genggam.
"Kenapa nggak jadi main" sapa Syakila yang tengah duduk di taman depan kelasnya. Ia menyodorkan sebotol air mineral mini.
"Nggak pengen" Arkana menjawab singkat dan langsung menuju kelas tanpa menghiraukan tawaran minum dari Syakila.
"Hei … Arkan mau nggak aku kasih tau gimana bisa gabung sama kita-kita" ucap Rizal sang ketua kelas dengan menepuk-nepuk pundak Arkana yang masih berdiri menatap sekelompok siswa.
"Gimana" sahut Arkana dengan menurunkan tangan Rizal yang berada di pundaknya lantas memasukkan tangannya sendiri ke dalam saku kantong.
"Kamu kenal Linda siswi kelas XI IPS 2?"
"Linda-" Arkana mencoba mengingat siswi adik kelasnya itu.
"Itu loh orangnya yang bohay, kulitnya hitam manis, yang pake kacamata. Biasanya pakai honda beat"
"Itu tuh dia yang di pintu"
"Oh dia, kenapa?" Senyum Arkana lepas sehingga menampakkan barisan gigi yang rapi.
"Cium dia! Aku yakin kamu pasti berani" ujar Rio yang memiliki tubuh gendut, dia menepuk pundak Arkana dengan tatapan menuju gadis hitam manis di seberang sana.
"Jangan Arkana, kamu jangan lakukan itu untuk mereka-" Syakila berteriak memasuki kelas tapi ucapannya terhenti ketika semua yang berada dalam kelas menatapnya.
"Hei … diam kamu Syakila, nggak usah ikut campur" Rio mendekat dengan tatapan tajam menembus manik Syakila sedangkan tangannya masih terangkat dengan jari telunjuk mengarah kedepan dan jari yang lainnya di genggam tepat di depan wajah gadis bertubuh kurus ini.
Syakila hanya menunduk menahan gemuruh di dalam d**a sedangkan matanya mulai memanas menahan buliran embun yang menggumpal di sudut netra.
"Cepat lah Arkana kami tunggu dan kami lihat dari sini" Rio membalikkan badan dan berjalan menuju sekelompok temannya, di sana juga Arkana masih berdiri menatap jauh gadis yang berada di seberang.