Naya merentangkan tangannya yang terasa pegal. Farah dan Lisya juga sebelas dua belas dengan Naya. Meski memiliki jurnal super tebal, tetap banyak catatan yang harus dimiliki mereka. Dean pernah menawarkan Naya untuk paperless, namun Naya menolak karena telanjur nyaman dengan buku. "Aku langsung pulang, ya, Mas Dean udah jemput," pamit Naya saatmelihat pesan di ponselnya. "Sampai bertemu empat hari lagi." Naya mengangguk sambil tersenyum senang. Besok dia akan libur tiga hari, pun dilanjutkan dengan tanggal merah. Senyum Naya tercetak saat melihat mobil Dean yang telah menunggunya. Dia berlari kecil menghampiri mobil hitam itu. Dean yang menunggu sambil mengetukkan jari di roda kemudi juga tersenyum begitu Naya masuk ke mobilnya. "Mau mampir makan dulu?" tanya Dean. "Boleh, aku

