Setelah pertemuan di kafe beberapa waktu lalu, Satrio jadi sering berkirim pesan dengan Naya. Mereka memang tidak mengobrol banyak malam itu, tapi secara tidak langsung sebuah dinding pembatas anak dan ayah itu telah roboh. Meski sedikit canggung, Naya berusaha membalas pesan-pesan Satrio sebaik mungkin. Ketika pertama tahu tentang ini, yang paling senang tentu saja mamanya. Dengan berdamainya Naya dan Satrio, Ratih tak lagi harus merasa seperti akan memakan buah simalakama. "Udah siap?" tanya Bagus dari pintu kamar Naya yang terbuka. Satrio memang sedang semangat-semangatnya meminta Naya untuk berkenalan dengan keluarganya, ralat, keluarga istrinya. Setelah dihasut berhari-hari, akhirnya hari ini Naya mau hadir ke perayaan ulang tahun mertua Satrio. "Aku udah dijemput?" tanya Naya.

