Begitu pulang dari kafe, Dean diberi tahu Bagus bahwa Naya sedang dalam kondisi tak terlalu baik. Sedikit rasa bersalah singgah di hati Dean. Bagaimana pun juga dia turut andil dalam menghasut Naya agar mau menghadiri acara keluarga Satrio itu. Sejak setengah jam yang lalu, Dean berdiri gelisah di depan pintu kamar Naya. Berkali-kali tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu, namun berkali-kali pula ia mengurungkan niat. Dean menyandarkan tangan di meja makan dengan mata menatap lurus pintu berwarna putih itu. Apa besok saja? Lagipula ini terlalu malam untuk mengobrol dengan Naya. Dean menghela napas pelan, lalu memilih kembali ke kamar. Paginya, Dean tidak menemukan keberadaan Naya. Pintu kamarnya sedikit terbuka dan sepertinya telah kosong sejak tadi. Dean menuju dapur, mendapati

