"Dimas... You don't love him, do you?" "Sok tau." Naya menurunkan cangkirnya. Ia tersenyum sinis. Bukan untuk Dean, namun lebih untuk dirinya sendiri. "I cherish him so much." Dean tak bertanya lagi. Dia hanya mengangguk pelan, lalu menandaskan minumannya. Ia kemudian berdiri beberapa menit setelah minuman Naya habis. "Ayo, nanti dikira kamu diculik." Naya mengangguk, lalu mengekor Dean. *** Hari ketiga Ujian Tengah Semester, otak Naya rasanya buyar, ambyar, dan lelah. Selain harus bisa menghafal serta memahami jurnal-jurnal yang direkomendasikan, Naya juga harus pintar-pintar menganalisis dan mengambil keputusan. Kalau ada yang bilang ingin masuk kedokteran hanya karena pandai biologi dan jago menghafal, pasti akan langsung Naya tertawakan. Bukan hanya biologi, kemampuan mumpuni di

