Malam terasa mencekam diiringi nyanyian burung malam yang membuat bulu kuduk merinding. Bagi Shika, di balik kegelapan, ada begitu banyak makhluk menyeramkan yang sedang mengintainya dengan mata merah menyala.
Terakhir yang Shika ingat, dirinya pulang dari sekolah malam-malam Saat itu ada sesuatu yang terasa aneh terus mengikutinya dari belakang. Namun, sebelum Shika tahu apa dan siapa yang terus membuntutinya, tiba-tiba semua menjadi gelap dan hilang dari ingatan.
Shika masih belum bangun setelah beberapa menit tidak sadarkan diri. Dua orang yang tadi menculiknya sudah berdiri di hadapannya dengan membawa dua bilah pisau mengilap di masing-masing tangannya.
Salah satu dari dua orang itu menyentuh pipi Shika, lalu menyayatkan pisau itu di pipinya yang putih mulus. “Ah, ini menyenangkan,” ucap orang itu sambil terus menekan pisau di pipinya.
Shika yang merasa ada rasa sakit di pipinya langsung membuka mata, lalu terbelalak kaget saat mendapati dua orang berpakaian rompi kedodoran warna cokelat tanah yang sedang menyayat pipinya.
“Ah, hentikan!” pekik Shika sambil mencoba menendang dua orang itu dengan kaki kanannya yang tersasa lemas. “Sakit. Kumohon hentikan,” rintihnya sambil menangis. Air matanya bercampur dengan darah yang mulai turun ke dagu.
Dua orang itu terkekeh-kekeh sambil terus menjilati pisau berdarah yang sudah mereka jauhkan dari pipi Shika. Salah satu dari mereka, orang berpenampilan gondrong dan berkumis berkata, “Kau tahu, reaksimu baru saja merusak kesenangan kami.”
Shika meringis melihat darah di pisau itu menetes ke tanah. “Apa salahku? Kenapa kalian menyiksaku?” tanyanya sambil terisak. Ketakutannya meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.
“Kau tidak tahu, Nona? Apa tidak ada yang memberitahumu?” tanya si tambun yang ada di samping si gondrong sambil memasang senyum menyeringai. “Kau menyimpan buku yang kami cari, Nona.”
Ucapan si tambun membuat Shika tersadar, lalu membelalak kaget. Dia baru sadar jika bukunya tidak ada di saku celananya seperti biasa. “Ke mana bukuku?” tanyanya panik. Dia menatap ke sekeliling yang hanya ada kegelapan.
“Kau mencari bukunya?” tanya si tambun lagi.
Lelaki gondrong kurus di sampingnya memutar bola mata malas, lalu melihat gerak-gerik Shika yang berusaha melepaskan diri. Sebenarnya dia masih ingin bermain-main dengan Shika yang cantik dan menggoda.
Namun, tugasnya sekarang hanya membuatnya tersadar. Setelah Shika terbangun, dia akan bertanya bagaimana buku itu ada padanya. Dan, apabila memang ada kaitannya, si kurus akan menyuruhnya mengaktifkan kuasa buku itu sekarang juga.
“Apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Shika kesal di atas rasa takut yang membelengunya. Darah di pipinya terus menetes sampai ke bajunya yang putih bersih.
Si kurus gondrong terkekeh-kekeh. “Tenang, tenang. Semua tidak akan serumit dan semenakutkan yang kau bayangkan jika kau mau bekerja sama dengan kami. Dan, jangan dengarkan ocehan si t***l itu.” Lelaki kurus itu menunjukkan buku yang dia pegang kepada Shika.
“Bekerjasama untuk apa?” tanya Shika, lalu terbelalak ketika melihat bukunya.
“Jawab pertanyaan kami,” ucap si kurus gondrong sambil memperlihatkan buku sampul kulit pohon itu di depan wajah Shika. “Bagiaman buku ini ada padamu? Kau tidak ingin pisau ini kembali bermain-main di pipimu yang putih itu, kan?” tanyanya sarkastis. Suaranya terdengar melengking dan serak.
Bukannya menjawab, Shika malah memelotot kepadanya penuh amarah. “Berikan benda itu padaku!” teriaknya geram, mengabaikan rasa sakit yang terus mengeluarkan darah di pipinya.
“Lihat posisimu, Gadis Nakal! Tangan dan kakimu terikat, jadi jangan berulah. Kau hanya perlu menjawab pertanyaan kami!” bentak si tambun sok berkuasa, membuat Shika menelan ludahnya dengan kasar.
“Berlagak sok berkuasa seperti itu membuatku muak,” ucap seseorang dari balik pohon yang ada di antara kegelapan. Pendar merah dari manik matanya menyilaukan pandangan Shika. Dengan segera si tambun berdiri tegap, tubuhnya bergetar sambil berbalik menatap ke asal suara yang baru muncul dari kegelapan.
“Ma-maafkan saya.” Si tambun membungkuk, lalu mendekati si lelaki kurus dengan kaki bergetar.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk terus diam di sini menunggumu sadar,” ucap orang yang baru datang itu. Suaranya terdengar mengintimidasi. Entah karena hal apa, Shika merinding mendengarnya.
Sosok itu sudah sepenuhnya keluar dari kegelapan dengan penampilan serba sederhana. Tubuh penuh ototnya dibiarkan terbuka tanpa sehelai kain pun. Kakinya yang jenjang dibalut celana panjang berbahan beledu abu-abu yang menggelembung di bagian paha sampai ke bawah lutut.
Tepat setelah melewati kegelapan dan menampakan diri seluruhnya, dia menempelkan lagi topeng di wajahnya dan tersenyum sinis yang membuat kedua mata Shika membulat sempurna melihatnya.
“Kau membuatku muak,” ucap laki-laki itu sambil mencuatkan salah satu belati di tangannya.
“Kau ….” Shika terbelalak kaget, tapi tidak sampai mengucapkan kalimat selanjutnya saking terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Lelaki itu masih menatap Shika dengan tatapan tajam menusuk.
“Aku bukan orang yang biasa berbelas kasih. Terutama pada orang lemah sepertimu. Jadi, lakukan apa yang kuperintahkan!” titah lelaki itu sambil berjalan perlahan ke arah Shika. Di tangan kirinya ada belati berlumuran darah.
“Ap-apa yang harus aku lakukan? Ak-aku tidak paham apa yang kalian maksud. Jadi, tolong lepaskan aku. Dan, kembalikan buku kakekku!” Shika benar-benar dilanda ketakutan ketika melihat laki-laki itu membawa belati berlumuran darah. Dia tidak ingin darahnya ikut menempel di belati itu juga.
Laki-laki itu berdecak sebal, lalu menghunuskan belatinya ke arah wajah Shika dengan tatapan meyeringai di balik topeng. “Baca isinya dan katakan apa yang ada dalam buku itu!”
Shika hanya bisa menangis ketakutan. Rasanya menyakitkan ketika dia sadar jika sosok yang ada di hadapannya sangat mirip dengan seseorang yang pernah dikenalnya. Semua itu membangkitkan memorinya, melukainya dari dalam.
Lelaki bermata merah itu semakin mendekat, membawa aura mengintimidasi yang terus merapat seiring dengan memendeknya jarak antara Shika dengan dirinya. Seekstrem itu hawanya sampai membuat Shika sakit saat menelan ludah.
“Aku tidak peduli bagaimana kau bisa memegang buku ini. Tapi, apa yang kuinginkan adalah kekuatan yang ada di dalamnya,” ucapnya sambil menyambar buku yang dimaksud dari tangan si gondrong. “Jadi, aktifkan kuasanya! Beritahu aku bagaimana cara mengaktifkan kekuatannya!”
“Genta,” ucap si kurus menginterupsi, membuat laki-laki bermata merah itu geram. Sementara si kurus yang tadi memanggilnya langsung siaga, seolah-olah ada hal yang sangat mendesak yang tidak bisa ditunda.
“Apa?” bentak Genta kesal karena percakapannya diinterupsi dengan tidak sopan.
“Aku merasakan kehadiran seseorang. Seseorang datang mendekat. Aku tidak tahu dari mana datangnya,” balas lelaki kurus itu dengan wajah khawatir.
Genta tersenyum di balik topengnya, manik merahnya berpendar diikuti dengan seringai yang menakutkan. Dari bawah, Shika melihatnya seperti seekor anjing yang baru saja menemukan mangsa setelah lama kelaparan.
Dengan sekali jilat, bibirnya basah oleh air liur. Kedua tangannya yang berada dalam sarung tangan mengepal erat. Genta merasakan hawa seseorang yang sedari dulu dinantikannya.
“Aku tahu, kau pasti akan datang, Aciraba Bana,” ucap Genta bersemangat, membuat Shika terbelalak setelah mendengar nama itu disebut.
Shika benar-benar senang mendengarnya. Setidak-tidaknya, ada secercah harapan yang akan membantunya meloloskan diri. Shika menangis bahagia.
“Lelaki tikus,” ucap Shika lirih. “Jadi, kau datang untukku.”
“Aku yang akan mengurus lelaki itu. Kalian selesaikan masalah ini. Buat gadis itu mengaktifkan kuasanya.” Genta menggerakkan lehernya pemanasan, meregangkan otot-otot di jemarinya, lalu mencabut belati serupa kujang panjang di paha kirinya.
Akhirnya dia memelesat secepat angin ke dalam kegelapan malam dengan dua belati terhunus ke depan.
*
Shika menjerit kesakitan saat si kurus menyentuh lagi pipinya menggunakan bagian tajam belati. Jika saja kedua kakinya tidak diikat, Shika sudah membuat lelaki kurang ajar itu terkapar di tanah sambil memegangi dua bijinya yang kesakitan.
“Kumohon, hentikan!” pinta Shika merintih kesakitan. Air mata terus menetes di pipinya saat belati itu semakin liar menyayat kulitnya.
“Cepat! Kami sudah tidak punya waktu untuk membujukmu,” ucap si kurus sambil mencabut belati panjang lain dari pinggang kirinya, lalu dia goreskan lagi dengan lembut di pipi kiri Shika.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan,” rintihnya kesakitan.
Si kurus berdecak kesal, lalu menekan belati di pipi kiri Shika lebih kuat. “Kau akan terus tersiksa seperti ini, Nona. Katakan dan kami akan menghentikan deritamu,” ucapnya dengan nada seperti geraman.
Harus dengan apa lagi Shika katakan, jika dirinya benar-benar tidak tahu perihal mengaktifkan kuasa itu? Rasa sakit di pipinya nyata, tapi semua ucapan yang keluar dari mulut dua orang itu tampak seperti bualan memuakan baginya.
“Kumohon,” rintih Shika sambil memejamkan mata. Dia sudah lemas dan tidak bisa memikirkan apa pun.
Apa yang muncul di ingatannya hanya nama Aciraba Bana. Shika sangat berharap, jika laki-laki itu datang tepat waktu untuk menyelamatkannya.
Si kurus yang sejak tadi memerhatikan kondisi Shika mulai meringis. Dia muak dengan mangsa yang lemah dan membuatnya kasihan. Dia kemudian menyuruh si tambun untuk melepaskan ikatannya.
“Apa kalian akan membunuhku?” tanya Shika membuka mata ketika menyadari si tambun melepaskan ikatan di kaki dan tangannya. Denyut nyeri di pipinya membuatnya meringis.
Dalam hitungan detik, semua ikatan yang ada di tangan dan kakinya sudah terlepas. Sekarang, hal yang harus Shika lakukan adalah mengambil kembali buku itu tanpa kehilangan kesadaran karena kehabisan darah. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Shika lirih sambil berusaha berdiri. Kaki dan tangannya terasa sangat sakit. Dia mengelus pipinya yang berdarah, meringis sambil menatap si kurus dengan tatapan tidak suka.
“Mengapa kau bertanya pada kami?” jawab si tambun bingung.
“Lakukan tugasmu!” bentak si kurus.
Shika bernapas dengan pelan dan teratur. Rasa sakit di pipinya mengambil alih kendali atas tubuhnya. Dia sama sekali tidak bisa memikirkan cara untuk melarikan diri dengan benar.
Sekeliling mereka hanya ada pohon, bebatuan, rumput, dan suasana yang gelap. Shika mencoba menahan diri agar tidak terlihat sedang ketakutan sambil terus memikirkan cara terbaik yang bisa dipakainya.
Otaknya berpikir dua kemungkinan. Pertama, dia akan meminta buku itu secara baik-baik, tapi Shika juga merasakan keraguan yang sangat besar. Dua laki-laki itu tidak akan memberikan buku itu kepadanya. Dan, kemungkinan kedua, dia akan merebutnya secara paksa, lalu melarikan diri ke arah Bana.
Dua kemungkinan itu tidak memberinya celah sama sekali. Dia menggeleng menghapus semuanya.
“Cepat!” bentak si kurus.
Shika menelan ludahnya, mencoba meyakinkan diri jika pilihan pertama selalu lebih baik. “Ba-baikah. Berikan buku itu kepadaku,” kata Shika sambil mengulurkan tangan berlumur darah.
Saat si tambun akan menyerahkannya dari tangan si kurus, si kurus dengan cepat menepis tangan penuh lemak itu kencang. “Bodoh kau! Dia bisa saja menipu dan membawa lari buku itu,” bentaknya.
“Lalu, bagaimana dia akan mengaktifkannya jika aku tidak menyerahkan buku ini?” tanya si tambun bingung.
“Ti-tidak. Bagaimana aku bisa melarikan diri jika sekelilingku hanya, hanya pepohonan,” jawab Shika sambil menahan ketakutan yang membara dalam dirinya.
Pada awalnya memang meragukan, tapi si kurus itu akhirnya percaya dan memberikan bukunya kepada Shika. Dia bilang, “Jika kau berusaha menipu kami dan membawa lari buku itu, belatiku akan menembusmu di sini,” katanya sambil menunjuk d**a bagian kirinya dengan ujung belati.
Shika menerima buku itu dengan tangan bergetar. Si kurus memicing, lalu membiarkan Shika melakukan tugasnya. Sekarang, hal yang paling Shika sesali adalah menyetujui permintaan dua laki-laki di hadapannya.
Jadi, apa yang harus dilakukannya?
Ketika Shika akan memejamkan mata, berpura-pura membacakan mantra, sebuah ledakan terdengar dari dalam hutan. Ada gelombang kejut yang menghempaskan tubuh mereka bertiga ke arah pepohonan. Shika merintih saat punggungnya menabrak pohon dengan keras.
“Ap-apa itu? Se-sebuah ledakan lagi? Apa laki-laki tikus itu tidak apa-apa?” gumamnya sambil mencoba untuk bangkit. Akan tetapi, sebelum dia benar-benar berdiri, dua laki-laki tadi sudah tersenyum menyeringai ke arahnya.
“Kau masih belum mengaktifkan bukunya,” ucap si kurus dengan mata menyala.
“Ak-aku baru saja akan melakukannya,” balas Shika. “Jika kalian tidak keberatan, tolong periksa ledakan apa itu. Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cari jika gangguan itu masih ada,” ucap Shika meyakinkan. “Selain itu, apa kalian tidak khawatir pada laki-laki bertopeng tadi? Bagaimana jik—“
“Kau pikir kami sebodoh itu?” potong si kurus, membuat Shika tersentak.
Shika mengedikkan bahunya pelan, berpura-pura bersikap santai. “Terserah.”
“Apa dia hanya mengulur waktu?” tanya si tambun sambil menggaruk bagian bawah lehernya yang tidak gatal. “Kurasa dia tahu jika orang itu akan datang untuk menyelamatkannya,” katanya lagi.
Si kurus merasa baru tersadar pada kenyataan yang sedang direncanakan Shika. Dia langsung memelotot dengan marah, lalu menancapkan belatinya di d**a kanan Shika. “Jangan coba-coba menipuku. Kau sudah kuperingatkan untuk tidak macam-macam jika tidak ingin belatiku berakhir seperti ini.”
Shika membelalakan matanya saat ujung belati itu menancap di dadanya dengan telak. Si kurus menyeringai, lalu mencabut buku di tangan Shika sambil tertawa.
“Aku ….” Shika merintih dan jatuh ke tanah.
*
Bana dihadang oleh Genta dalam perjalanan. Lelaki berwajah tegas itu tersenyum ketika melihat Genta berdiri di hadapannya dengan dua belati di kedua tangannya.
“Sudah kuduga, kau dalang dari semua kekacauan ini,” ucap Bana dingin, penuh aura mengerikan.
“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Aciraba Bana,” balas Genta sambil menjilat bibir bawahnya dengan lidah peraknya. Bana yang berdiri di bawah pohon albasiah hanya tersenyum sambil memasang kuda-kuda.
“Kau tahu apa yang kuharapkan? Sama sekali bukan bertemu denganmu,” balas Bana datar. Mata hijaunya menyala di bawah rembulan, membuat mata merah Genta tampak meredup.
“Seharusnya kuhabisi kau saat itu. Tidak kusangka aku punya kesempatan membunuhmu di sini,” balas Genta lagi.
“Kukira Aptanta sudah memperingatkanmu tentang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” ucap Bana enteng, membuat Genta yang ada di hadapannya merengut tidak paham.
“Aku akan menutup mulutmu dengan belatiku,” balas Genta geram, lalu dalam hitungan detik setelah daun albasiah mencapai tanah, dia memelesat ke arah Bana dengan belatinya.
Tidak banyak bicara lagi, mereka akhirnya sama-sama melepaskan serangan. Di bawah rembulan yang indah menaungi, gema pertempuran menyelinap di antara pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang. Benturan benda tajam memekakan telinga, terjadi sangat cepat. Keduanya menunjukkan kekuatan sejatinya, mencari siapa yang paling hebat antara Genta dan Bana.
Bana menyilangkan belatinya di depan wajahnya saat Genta menghunuskan senjata ke arahnya. Gesekan dua benda itu menghasilkan percikan api. Bana yang merasa Genta terlalu dekat, lalu mendorong belati itu ke depan, mementalkan tubuh Genta ke belakang.
“Cih, amatir!” gumam Genta saat tubuhnya terpental jauh ke belakang. “Kemampuan bertarungmu tidak mengalami kemajuan,” ucap Genta sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
“Kau tahu, mangsa yang merasa terancam biasanya banyak mengoceh hal tidak jelas karena sadar ajalnya sudah dekat,” balas Bana enteng sambil tersenyum. Genta menekan giginya lebih kencang sambil mengepal kuat-kuat.
Dalam sekali tarikan napas, Bana memelesat dengan belati serupa kujang panjang di tangan kanannya, sementara Genta terus tersenyum menampilkan aliran darah di bibir kanannya yang sobek akibat benturan sebelumnya sambil mengarahkan belati serupa kujang panjangnya ke depan.
“Bana!” teriak Genta.
“Genta!” balas Bana berteriak.
Dalam hitungan detik, keduanya berpapasan dalam benturan hebat yang menghasilkan sebuah ledakan cahaya merah kehijauan.