4.2 Penyekapan

1789 Kata
Setelah percakapannya dengan Wira, Shika merasa perutnya keroncongan. Sebelum jam istirahatnya selesai, dia memutuskan untuk makan di sebuah kafe tidak jauh dari sekolah. Saat sampai, dia duduk di bangku besi di bawah pohon ketapang kencana sambil membaca semua artikel yang bisa dia temukan di internet tentang benda mitologi lainnya. Matanya tidak sedikit pun teralihkan dari layar ponsel hitam yang ada di genggaman. Akan tetapi, dari sudut matanya, dia merasa ada sesuatu yang janggal, tidak pada tempatnya, dan menarik perhatian. Shika mencoba untuk fokus, tapi dua orang yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya terus melakukan gerak-gerik mencurigakan. Shika lalu membenahi barang-barangnya, menyempatkan menyesap kopinya sekali lagi, sebelum akhirnya meninggalkan cangkir itu di meja. Langkahnya secepat angin, menghindari beberapa orang yang datang dari arah berlawanan. Seperti apa yang dipikirkannya, dua sosok berpakaian serba hitam itu memang membuntutinya sejak tadi. Hal itu diperkuat dengan tindakan mereka yang terus mengikuti langkah Shika bahkan setelah berbelok di ujung kedai roti. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan setelah berbelok dari sudut kedai, Shika mempercepat langkahnya dengan berlari sambil berharap jika dia bisa meninggalkan dua orang itu dan cepat sampai di sekolah. Napasnya bergemuruh kencang, dadanya terasa sesak saat dipaksa berlari sambil mewaspadai keadaan sekitar. Di depan garis penyebrangan, Shika menoleh pada lampu hijau yang masih terus menghitung mundur. Dadanya berdegup kencang seiring angka yang terus bergulir lamban. Saat warna hijau berganti merah, saat itulah langkah pertamanya mulai menyentuh ujung aspal jalanan. Bersamaan dengan itu, dua orang aneh di belakangnya berjalan cepat melewatinya begitu saja. Hati Shika mencelus saat salah satu orang itu menyentuh punggungnya. “Hati-hati dengan langkahmu, Nona,” bisik salah satu dari dua orang itu sambil berlalu. Rasa lega menghujaninya dari kepala sampai kaki setelah dua orang itu hilang dari pandangan. Sesaat Shika berpikir jika mereka memang mengikutinya. Namun, Shika sama sekali tidak tahu kenapa orang-orang itu mengincarnya. “Huh. Kupikir dua orang itu mengikutiku. Apa mereka orang-orang utusan si lelaki tikus aneh itu?” gumamnya pelan. Sesaat Shika tersentak. Entah bagaimana dia bisa menyebutkan kalimat itu tanpa dipikirkannya terlebih dahulu. Ketika sampai di ujung jalan, dia berhenti sambil berpikir, siapa lelaki tikus itu? Apa ada memori yang hilang belakangan ini? Tepat saat Shika terdiam, tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya sambil menepuk pundaknya pelan. “Siapa si lelaki tikus?” tanya Bana dengan tatapan sayu yang dingin. Hati Shika kembali mencelus dan dadanya seperti dihantam palu raksasa. “Astaga. Kau!” Shika memekik kencang sambil menoleh ke samping. Kepalanya berdenyut seperti ada aliran listrik yang menyengatnya begitu saja, membuat dia tiba-tiba ingat soal Aciraba Bana yang pernah dia temui beberapa waktu lalu di Cianjur. “Kau membuatku susah.” Bana melepaskan tangannya dari pundak Shika. “Kau, kau itu Aciraba Bana, kan?” tanya Shika meragu. Dia menggerakkan tangannya dari atas ke bawah, kemudian menatap lelaki di depannya dengan wajah tercengang. “Aku nyaris melupakanmu, kau tahu.” “Aku tidak ingin banyak bicara denganmu. Ayo, ikut denganku sekarang juga!” titah Bana sambil memasang wajah datar, tapi tampak peduli pada penampilan acak-acakan Shika yang terlihat berbeda dari sebelumnya. “Kau masih membahas soal itu? Aku sudah mengatakannya, kan? Kau itu keras kepala sekali,” timpal Shika geram. Dia memiringkan bibirnya ke kiri, lalu menilik penampilan Bana dari kepala sampai kaki, membuatnya bertingkah serba salah. “Apa yang kau lihat?” tanya Bana kesal, merasa tidak enak ditatap seperti itu. “Kau terlihat berbeda dan sedikit berubah dari apa yang aku ingat. Menarik,” ucap Shika, lalu bersiul jail. “Dari mana kau dapatkan semua pakaian itu?” lanjutnya. Bana tidak menjawab. Dia kikuk. Ada rasa aneh yang muncul di d**a Shika ketika dia ingat jika Aciraba Bana ada hubungannya dengan buku yang dia simpan dari tasnya. Shika juga jadi sadar, dua orang yang tadi mengikutinya pasti ada hubungannya dengan semua ini. Saat memikirkan semua itu, mendadak mukanya menjadi muram dan gelap. “Kau memang tipe wanita yang harus diberikan tindakan keras,” ucap Bana sambil menarik lengan panjang hitam berbahan kausnya sampai sikut. Ikat kepalanya sudah tidak ada, menyisakan rambut abu-abu terang mengilap. Dia menatap Shika dengan tatapan nyalang. Bana yang sadar akan perubahan ekpresi Shika langsung mengernyit. Shika menggeleng. Dia tidak bisa memberikan satu penjelasan pun kepada Bana perihal apa yang terjadi barusan. Entah hanya perkiraanya saja atau memang itu ada kaitannya, Shika sama sekali tidak mengerti. Namun, ucapan Bana sebelumnya membuat dia ingat soal perjanjian yang pernah mereka bicarakan waktu itu. “Dan, kau laki-laki dingin tidak berperasaan yang tidak memikirkan orang lain,” jawab Shika. “Kau egois, Tuan. Aku tidak menyukaimu,” lanjut Shika. Matanya tertuju pada celana krem setinggi mata kaki dengan sepatu kets warna abu-abu. Shika memutuskan untuk berbalik, kemudian bersiap pergi. Namun, urung ketika Bana mencekal lengannya dengan tiba-tiba. “Aku sudah dengar soal Haruit,” ucap Bana sambil tersenyum sinis, mencoba memancing ketertarikan Shika soal benda legendaris itu. Awalnya dia pikir ide itu tidak akan berhasil, tapi semua sirna ketika melihat reaksi Shika yang bahkan tidak dibayangkan sama sekali. Gadis itu sangat tertarik pada Haruit. “Haruit?” tanya Shika bingung. Darahnya mendidih begitu saja saat mendengarnya. “Aku tahu tentang benda yang kau cari,” ucap Bana dengan senyum menyeringai. Bersamaan dengan itu, kota mendadak senyap, semua orang menatap dua insan yang sedang berhadapan di bawah sinar matahari. “Aku tidak memercayaimu!” bentak Shika, lalu mengenyahkan tangannya dari Bana. Bukannya membalas, Bana hanya mengedik pelan, lalu tersenyum dengan nada mengejek. “Gadis keras kepala,” lanjutnya. Shika memelotot, lalu menarik tangan Bana menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang menatap ke arahnya. Dia membawanya menyelinap menyusuri pepohonan hijau sepanjang jalan, masuk ke belakang toko sepatu, lalu berdiri berhadapan di sebuah gang kecil. “Apa yang kau tahu soal Haruit?” Shika mendorong Bana keras, membuatnya mundur beberapa langkah, nyaris menghantam dinding bata di belakangnya. “Jadi benar,” gumam Bana lebih seperti meracau tidak jelas. “Terlalu mudah,” katanya sambil tersenyum licik. Dia lalu menatap Shika yang tampak berapi-api di hadapannya. “Katakan!” paksa Shika sambil mengepal erat. Bibir bawahnya digigit perlahan. Berbicara soal Haruit membuat darahnya mengalir dengan cepat dan terasa panas. “Aku bisa membantumu mendapatkan benda itu. Dengan syarat tentu saja.” “Jangan main-main denganku!” ancam Shika dengan wajah kesal dan tampak memerah karena menahan emosi. “Tugasku membawamu kembali pada Dewi. Apa yang harus aku mainkan?” Bana mengedikkan bahu, menatap pada tumpukan sampah di dalam gang, lalu mendongak ke langit. “Jangan berbohong! Aku tahu kau hanya memanfaatkanku. Dengan membawaku ke negerimu, kau bisa menyelesaikan misi aneh yang kau emban dan semua selesai,” ucap Shika sambil menahan emosi. “Dan hanya dengan ikut bersamaku kau akan mendapatkannya,” balas Bana datar. Shika menggigit bibir bawahnya semakin kencang, dia menatap cemas ke arah Bana. Otaknya berpikir banyak hal. Kemungkinan terburuk apa yang akan dia dapatkan jika begitu saja setuju pada ajakan Bana? Namun, jika menolak, artinya dia menyia-nyiakan kesempatan emas yang bahkan dia sendiri tidak yakin apakah tanpa tawaran Bana, Haruit bisa ditemukan. Shika menekan gigi putihnya semakin keras, dia menjilat pelan ujung bibir, lalu memejamkan mata. Namun, apa taruhannya? Apa yang harus Shika pertaruhkan demi kemungkinan yang samar ini? Jika dia berangkat dengan Bana dan semua cerita yang dikatakan itu hanya omong kosong, maka lenyap semua.  Hasil akhir dari keduanya masih samar. Tidak ada yang bisa Shika lihat. Jika menolak, artinya menyia-nyiakan, tapi jika menerimanya, apa orang itu bisa dipercaya? Shika memejam dalam keheningan. Di hadapannya, Bana sudah geram ingin segera membawanya secara paksa dengan membuatnya pingsan, agar semua cepat selesai. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukannya karena tugas ini bukan sesuatu yang dilakukan atas dasar keterpaksaan. Bana harus meyakinkan Shika untuk ikut bersamanya dan menyelamatkan negerinya yang sedang berada di bawah kekuasaan musuh dengan suka rela. “Pikirkan lagi.” Bana menarik tangan Shika. Namun, dengan cepat Shika melayangkan tangannya untuk menampar pipinya dengan kencang. Bunyi tamparan itu bergema di sepanjang gang sempit. Beruntung, ramainya mobil dari luar gedung menahan suaranya. Shika menelan ludahnya dengan kasar, ketika suara itu memenuhi pendengarannya. Bana hanya bisa mematung sambil masih menatap Shika dengan datar dan dingin. “Cukup! Aku sudah memberikan jawaban. Aku tidak bisa ikut denganmu. Akan kucari benda itu dengan usahaku sendiri! Dan, lupakan soal perintah Dewi. Aku tidak mengenalnya!” * Shika merasa sangat marah pada Bana yang sudah memaksanya ikut ke negerinya di antah berantah. Dengan membayangkan wajah tegas itu tersenyum licik ke arahnya saja, membuat dia muak dan ingin menamparnya sekali lagi. Dia mengacak rambutnya frustrasi. Pikiran dari berbagai arah menyerang kepalanya. Shika juga memikirkan soal Haruit yang dikatakan Bana, yang membuatnya terus-menerus merasa bersalah. Malam ini dia pulang dengan keadaan kepala yang penuh oleh pemikiran acak yang berseliweran. Berbicara soal Dewi, dia sama sekali tidak pernah mengenalnya. Shika bahkan menganggap jika Bana adalah sosok yang aneh. Kedatangannya di rumah kakeknya pun belum diketahui, selain mencari ‘Sang Terpilih’ tentunya. Apa itu sang Terpilih? Siapa Dewi? Apa hubungannya dengan dirinya? Semua itu muncul begitu otaknya terhubung pada semua teka-teki dan kejadian yang ada. Kepingan misterius itu berdenyut di kepalanya bagai kait tajam yang menariknya dari berbagai arah. Dengan ikut bersama Bana memenuhi perintah Dewi, Shika bisa mendapatkan Haruit? Bagaimana bisa? Dia belum menemukan di mana titik terang dari semua teka-teki yang bertebaran itu. Saat semua pikiran itu berputar di kepalanya, saat itulah Shika menyadari jika dirinya tidak pulang sendirian. Bulu kuduknya meremang secara tiba-tiba. Sesuatu tengah mengintainya dari kegelapan. Shika mendadak merasa pundak kirinya panas. Entah apa yang sedang terjadi, tapi dia yakin jika cuaca Bandung malam hari cukup dingin untuk membuatnya menggigil. Namun, dari dalam sweternya, dia merasa ada api yang membakarnya hidup-hidup. Langkah kaki terdengar makin keras, seiring dengan rasa panas yang terasa membara. Dia mengerang kesakitan sambil mencoba menyentuh punggungnya dan melepas sweternya, lalu kembali berjalan sambil masih merintih pelan. “Nona yang di sana, tunggu!” titah suara dari arah kegelapan. “Lelaki tikus?” tanya Shika sambil menoleh ke segala arah,  menatapi tiap celah gelap yang ada di antara pepohonan pinggir jalan. Harapannya tertuju pada Bana. Semoga saja suara itu berasal darinya. Shika terus menyebut sosoknya. Akan tetapi, sesuatu yang muncul bukan apa yang selama ini diharapkannya. Dari celah pohon yang ada di ujung belokan jalan, dua orang berlari dengan pose membungkuk mendekatinya. Shika tidak sempat menatap wajah sosok hitam yang memelesat ke arahnya itu, sampai kedua matanya terasa berat dan kegelapan mulai menyelimuti penglihatannya. Hal yang dia sadari, rasa panas di pundaknya menyebar seiring dengan sesuatu yang terasa nyeri menghantam tengkuknya. Syal hangat di bagian lehernya lepas sesaat sebelum tubuhnya tergeletak tidak berdaya di aspal jalan. Selain kesadaran dan pendengarannya yang mulai hilang, dia juga merasakan bahwa tubuhnya melayang ringan entah ke mana. “Bawa dia ke hutan.” Hanya itu suara terakhir yang bisa Shika dengar. Setelahanya, semua terasa gelap dan semuanya menjadi kabur.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN